ADVERTISEMENT

Ratusan Eks Napiter Ikut Jambore di Bogor, Kadensus Sampaikan Pesan Khusus

Rizky Adha - detikNews
Sabtu, 13 Agu 2022 13:03 WIB
Kadensus Antiteror Polri Irjen Marthinus Hukom di acara Jambore Pejuang Damai yang diikuti ratusan eks napiter.
Jambore Pejuang Damai di Bogor yang diikuti ratusan eks napiter. (Rizky/detikcom)
Bogor -

Kadensus Antiteror Polri Irjen Marthinus Hukom mengajak ratusan mantan narapidana kasus terorisme (napiter) untuk mencintai Indonesia. Dia juga mengajak ratusan mantan napiter untuk memaknai keindahan Indonesia.

Marthinus menyampaikan itu dalam acara 'Jambore Pejuang Damai' yang digelar Yayasan Hubbul Wathon 19 di Leuwi Pangaduan, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Sabtu (13/8/2022). Ketua MUI KH Muhammad Cholil Nafis turut hadir.

"Kita hadir di sini untuk memaknai bagaimana indahnya Indonesia. Mari kita mencintai Indonesia ini seperti mencintai diri kita sendiri. Kalau kita sakit, artinya negara kita sakit. Kalau kita sakit, berarti saudara kita sakit," kata Marthinus dalam sambutannya.

Marthinus mengatakan selama ini para anggota Polri bukan sekadar menangkap mantan napiter tersebut. Tapi juga ada pendekatan dan pembinaan yang dilakukan.

"Saudara-saudaraku, selama ini rekan-rekan kita ajak, saya perintahkan anggota saya untuk mendekati Saudara-saudara sekalian. Membimbing Saudara-saudara untuk melewati, meniti hidup, yang mungkin sebelum Saudara-saudara bertemu kami, Saudara-saudara kecewa, putus asa, dendam. Tapi pertemuan kita, Saudara-saudara saya yang saya tangkap ini, bukan sekadar menangkap. Tapi ini adalah proses taaruf. Karena saya sebelumnya tidak mengenal," jelasnya.

Kadensus Antiteror Polri Irjen Marthinus Hukom di acara Jambore Pejuang Damai yang diikuti ratusan eks napiter.Kadensus Antiteror Polri Irjen Marthinus Hukom di acara Jambore Pejuang Damai yang diikuti ratusan eks napiter. (Rizky/detikcom)

Dalam kegiatan itu, Ketua MUI KH Muhammad Cholil Nafis turut menyampaikan tausiah kepada mantan napiter. Dia menyinggung soal jihad dan keadilan.

"Jangan sampai alergi kata jihad, tapi jangan sampai menyalahgunakan kata jihad. Kita rela orang nggak salah apa-apa tiba-tiba kita bom, mati, pengin masuk surga. Itu jihad? Bukan. Itu bukan jihad, itu zalim kepada orang lain dan juga pada diri sendiri," kata Cholil.

"Jihad itu harus diawali dengan adil pada diri dan pada orang lain. Itu makna jihad yang pertama, harus dilandasi dengan adil. Apa itu adil dalam interaksi sosial? Meletakkan sesuatu pada tempatnya. Dalam interaksi sosial, adil itu artinya kita tidak ingin yang kita tidak senangi, kita lakukan juga kepada orang lain," sambungnya.

Cholil turut mengangkat sejarah terkait jihad di Indonesia. Menurutnya, jihad kini tidak hanya berkaitan dengan perang.

"Kita ini perang kalau diserang duluan. Dulu ada resolusi jihad KH Hasyim Asy'ari membela kemerdekaan, diserang. Sekarang kewajiban kita jihad itu maknanya adalah bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan. Apa tujuan kita? Gemah ripah loh jinawi. Jadi kita tidak perang-perang lagi, kewajiban kita adalah mengisi kemerdekaan kita," tuturnya.

Cholil juga mengajak mantan napiter tidak membeda-bedakan di antara sesama warga negara Indonesia. Dia mengajak mantan napiter untuk bersama-sama membangun negeri.

"Nggak usah beda-bedain di antara kita. Sesama warga negara, ayo kita sama-sama membangun negeri ini berdasarkan agamanya masing-masing. Karena agama memerintahkan kebaikan. Tidak usah kita membenci, tidak ada kebencian di dalam Islam," pungkasnya.

(idh/idh)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT