ADVERTISEMENT

Jajal Tarif Integrasi TransJ-MRT-LRT, Penumpang Keluhkan Aplikasi JakLingko

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Jumat, 12 Agu 2022 19:49 WIB
Sejumlah penumpang beraktivitas di Halte CSW, Jakarta, Kamis (11/8/2022). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan resmi menetapkan besaran maksimal tarif integrasi transportasi MRT-LRT-TransJakarta sebesar Rp 10 ribu. Kebijakan tarif integrasi tiga mode transportasi itu diberlakukan mulai hari ini.
Penerapan Tarif Integrasi (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Pemprov DKI Jakarta telah menerapkan tarif integrasi untuk moda transportasi MRT, LRT, dan TransJakarta sejak kemarin. Di hari kedua penerapan tarif integrasi, beberapa penumpang mengaku terkendala ketika mengakses tiket integrasi melalui aplikasi JakLingko.

Salah satu penumpang asal Tangerang Selatan, Dina Wijaya (27), mengeluhkan sulitnya melakukan pembayaran tiket integrasi melalui aplikasi JakLingko karena barcode pembayaran QRIS tak kunjung muncul. Dina sendiri mulai menggunakan tarif integrasi ketika berangkat dari Stasiun MRT Lebak Bulus menuju Halte Monas, Jakarta Pusat.

"Masih ada sedikit kendala penggunaan aplikasi Jaklingko. Misalnya saat membayar tiket melalui QRIS, aplikasi akan memunculkan barcode pembayaran QRIS. Saya tidak bisa langsung scan barcode tersebut di device yang sama, sehingga dibantu petugas," kata Dina saat ditemui detikcom di Jakarta Pusat, Jumat (12/8/2022).

Meski begitu, Dina mengatakan petugas stasiun langsung membantunya menyelesaikan proses pembayaran tiket integrasi hingga berhasil. Sedangkan dari segi durasi perjalanan, Dina memandang menggunakan kendaraan pribadi masih lebih menghemat waktu ketimbang sistem integrasi.

"Jika saya naik motor hanya perlu waktu satu jam jika tidak begitu macet. Jadi untuk saat ini saya merasa lebih efektif berangkat dari Tangsel ke Jakarta menggunakan kendaraan pribadi ketimbang transport umum dengan tarif integrasi," ujarnya.

Penumpang lainnya atas nama Lia (26) juga mengeluhkan aplikasi JakLingko. Menurutnya, pilihan rute di aplikasi tersebut kerap berubah-ubah. Misalnya, ketika dia berangkat kerja dari Jakarta Pusat menuju Jakarta Selatan, mulanya JakLingko menyarankan rute tarif integrasi melewati Halte TransJakarta Bank Indonesia-Stasiun Istona Senayan-Stasiun MRT Jakarta. Namun, ketika pulang kerja, rute serupa kerap tak lagi tersedia di aplikasi JakLingko.

"Misal dua atau tiga kali pengulangan, itu rute yang disarankan akan berbeda, sehingga perlu mengulang berkali-kali untuk mendapat saran rute dan biaya yang sama, jika aplikasi digunakan untuk lebih dari satu orang sehingga butuh waktu yang lama untuk mendapatkan tiket perjalanan," jelas Lia.

Meski begitu, Lia memandang sisi positif dari penerapan sistem integrasi bisa menghemat ongkos transportasi. Selain itu, penumpang bisa membeli lebih dari satu tiket dalam satu aplikasi.

"Membantu sekali untuk anak kosan macam saya yang punya budget pas-pasan. Transit satu moda ke moda lainnya juga nggak ribet, jalan dikit-dikit nggak masalah nggak terlalu jauh juga. Aplikasi JakLingko juga bisa digunakan lebih dari dua orang pengguna sehingga lebih fleksibel jika bersama teman atau keluarga," ucapnya.

Sandi (24), pengguna tarif integrasi, juga menemukan kesulitan ketika menyelesaikan pembayaran tiket elektronik di aplikasi JakLingko. Ditambah lagi, dia juga terkendala ketika men-scan tiket elektronik di alat pemindai tiket yang ada di sejumlah Halte TransJakarta.

"Aplikasi JakLingko dengan mesin pemindai QRIS di Halte TransJakarta masih terdapat sejumlah kendala mulai dari membutuhkan waktu 2-3 menit untuk bisa membaca barcode tiket, dan masalah pencahayaan yang membuat sulitnya terbaca QRIS," jelasnya.

"Memesan tiket tarif integrasi menggunakan aplikasi JakLingko membutuhkan waktu ekstra. Kemudian waktu tempuh semakin lama sehingga tidak bisa untuk pengguna dengan mobilitas tinggi," sambungnya.

Dia juga kerap kehilangan sinyal provider saat memasuki stasiun bawah tanah MRT. Kondisi ini, kata dia, menyebabkannya kesulitan membuka tiket elektronik di aplikasi JakLingko.

Dia pun berharap tarif integrasi bisa segera menggunakan kartu elektronik supaya memudahkan mobilisasi.

"Sinyal di sejumlah stasiun MRT menjadi kendala membaca QRIS saat di mesin ticketing. Perlu adanya Wi-Fi atau penguat sinyal terutama stasiun bawah tanah. Sebaiknya dipercepat hadirnya kartu JakLingko diharapkan mempersingkat waktu sehingga tidak perlu memesan tiket via aplikasi," tandasnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT