ADVERTISEMENT

Ahli Psikologi di MK Beberkan Dampak Negatif Nikah Beda Agama

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 12 Agu 2022 10:08 WIB
Dua orang ahli dihadirkan untuk menjadi saksi dalam sidang lanjutan Uji Formil UU KPK. Dua orang ahli itu yakni Zainal Arifin Mochtar dan Bivitri Susanti.
Sidang MK (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Ahli psikologi yang dihadirkan pemerintah, Euis Nurlaelawati membeberkan sejumlah dampak negatif pernikahan beda agama. Hal iu disampaikan dalam sidang juducial review UU Perkawinan di Mahkamah Konstitusi (MK).

"Kalau kita berbicara terkait dengan aspek-aspek pernikahan di dalam hukum perkawinan, kita memahami bahwa aspek biologis, ada aspek agama, ada aspek psikologis, pedagogis, ada aspek politis, ada aspek ekonomi, dan ada aspek sosiologis," kata Euis sebagaimana tertuang dalam risalah sidang MK, Jumat (12/8/2022).

Euis menegaskan pernikahan satu agama lebih baik daripada antar agama.

"Jadi, saya memahami dengan merujuk kepada berbagai aspek tadi, maka perkawinan itu memang akan bisa berjalan dengan cukup baik jika dilakukan dengan sesama agama. Dan jika dilakukan dengan orang yang berbeda agama atau pasangan yang beda agama, maka mungkin kemaslahatan itu akan ada," ujar Euis.

Euis menyatakan memang ada pernikahan beda agama yang berjalan harmonis. Tetapi hal itu tidak bisa dijadikan patokan untuk menjadi regulasi.

"Tidak bisa ditarik langsung dijadikan sebagai dasar kebolehan pernikahan beda agama," ucap Euis.

Salah satu dampak negatif adalah perebutan anak dari pernikahan beda agama. Bila anak belum 12 tahun dan ikut ibunya, maka akan menjadi konflik diasuh dengan agama ibu atau ayah. Padahal, anak di bawah 12 tahun harus ikut ibu.

"Jadi, hal‐hal yang seperti ini kemudian saya anggap sebagai sebuah kemudaratan dari sisi normatif," papar Euis.

"Saya memahami bahwa ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 2 masih sangat relevan untuk dipertahankan, sehingga artinya pernikahan beda agama ini bisa dikatakan sebagai sebuah pernikahan yang tidak bisa dilakukan kalau merujuk pada ketentuan tersebut," tegas Euis.

Menurutnya, pernikahan bukan memperdebatkan tentang bahwa seseorang itu boleh berkonversi dengan agama lain, apakah boleh menganut agama lain.

"Bagaimana ketentuan di beberapa negara muslim lain? Dalam kajian saya, paling tidak ada 3 kategori negara muslim kaitannya dengan ketentuan pernikahan beda agama, kategori negara yang melakukan pelarangan. Ada beberapa negara yang memang melarang, secara umum melarang, tetapi memberikan space bagi laki-laki muslim untuk melakukan pernikahan dengan wanita kitabiyah. Ada emang ada yang memperbolehkannya, tetapi yang saya pahami bahwa ketika mereka memperbolehkan, itu juga berdasarkan beberapa kali pertimbangan dan juga masih menimbulkan perdebatan di kalangan para ulama," urai Euis.

Euis menceritakan di Suriah tidak mengakui secara detail terkait dengan ketentuan pernikahan beda agama. Tetapi dalam satu pasal disebutkan bahwa pencatat nikah boleh melakukan pencatatan terhadap pernikahan beda agama, tetapi itu pun pernikahan laki‐laki muslim dengan wanita kitabiyah.

"Memang di tahun 2019 ada upaya dari para perempuan non-muslim yang melakukan pernikahan dengan laki-laki muslim yang protes untuk bisa dicatatkan pernikahan, itu kemudian dikeluarkan decree dari Ministry of Justice, tapi itu pun kemudian menimbulkan perdebatan. Jadi, saya memahami secara umum bagi negara-negara muslim itu masih cenderung untuk melakukan pelarangan, meskipun dengan space yang berbeda," ungkap Euis.

Sebagaimana diketahui, Petege mengaku gagal menikahi kekasihnya yang muslim karena terhambat UU Perkawinan. Sidang ini masih bergulir di MK.

"Pemohon adalah warga negara perseorangan yang memeluk agama Katolik yang hendak melangsungkan perkawinan dengan seorang wanita yang memeluk agama Islam. Akan tetapi, setelah menjalin hubungan selama 3 tahun dan hendak melangsungkan perkawinan, perkawinan tersebut haruslah dibatalkan karena kedua belah pihak memiliki agama dan keyakinan yang berbeda," demikian bunyi permohonan Ramos Petage.

(asp/zap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT