Advokat Kawin Beda Agama: Nikah Itu Kebebasan, Tak Ada yang Boleh Melarang

ADVERTISEMENT

Uji Materi UU Perkawinan

Advokat Kawin Beda Agama: Nikah Itu Kebebasan, Tak Ada yang Boleh Melarang

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 29 Jul 2022 10:11 WIB
Ilustrasi pernikahan beda agama.
Ilustrasi (edy/detikcom)
Jakarta -

Advokat Zico Simanjuntak membela Ramos Petege di Mahkamah Konstitusi (MK) agar kawin beda agama dibolehkan di UU Perkawinan. Menurut Zico, pernikahan adalah kebebasan manusia untuk memilih.

"Selain Pemohon, saya juga saat ini sedang berpasangan dengan orang yang berbeda agama dalam konteks berpacaran. Di mana saya percaya bahwa pacar saya adalah jodoh yang diberikan oleh Tuhan," kata Zico dalam risalah yang tertuang dalam website MK, Jumat (29/7/2022).

Menurut Zico, kalau Tuhan berkehendak dirinya untuk menikah dengan pacarnya maka itu adalah takdir Tuhan.

"Itu adalah kehendak Tuhan. Saya mengimani itu karena kami memang konteksnya dalam mengimani itu adalah Tuhan memberikan, Tuhan mengambil. Terpujilah nama Tuhan," ujar Zico.
"Menikah adalah konteks kebebasan. Orang mau menikah itu kebebasan kami, hak asasi kami. Tidak ada yang boleh melarang," sambung Zico.

Oleh sebab itu, Zico mempertanyakan mengapa negara melarang hak asasi itu.

"Kalau kemudian ada intervensi dari pihak luar secara kohesif, yakni dalam hal ini peraturan negara yang melarang orang untuk menikah beda agama, yang melarang orang untuk melakukan hal tersebut, apakah masih ada kebebasan untuk memilih di negara ini?" tutur Zico.

Menanggapi pertanyaan dan penyataan Zico, Ade Armando dalam sidang menyatakan masalah nikah beda agama karena multitafsir UU Perkawinan.

"Saya yakin mereka yang merumuskan Undang‐Undang Perkawinan ini paham itu. Bahwa ada perbedaan penafsiran dalam agama masing‐masing. Karena itulah, kalimat yang ditetapkan dalam undang‐undang tersebut adalah kalimat yang menurut saya bisa ditafsirkan dengan beragam cara," kata Ade Armando.

Kalimat di UU Perkawinan adalah perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing‐masing agamanya.

"Pertanyaan saya adalah apakah si perumus Undang‐Undang Perkawinan tidak tahu bahwa sebetulnya apa yang disebut sebagai hukum perkawinan di dalam Islam misalnya, yang paling sederhana, itu adalah hanya ada satu tafsiran tunggal atau ada lebih banyak dari satu taksiran tunggal? Saya yakin sekali para perumus Undang‐Undang Perkawinan ini tahu persis bahwa ada banyak. Paling tidak yang tadi saya katakan tentang pernikahan beda agama di dalam umat Islam sendiri, di dalam ajaran Islam sendiri, paling tidak ada tiga tafsiran terhadapnya. Karena itulah kalimatnya memang tidak secara definitif mengatakan tidak diizinkan pernikahan beda agama," papar Ade Armando.

Sebagaimana diketahui, permohonan ini diajukan oleh perorangan beragama Khatolik yang berdomisili di Kampung Gabaikunu, Papua, E Ramos Petege. Dalam permohonannya, ia hendak melangsungkan perkawinan dengan perempuan pemeluk agama Islam. Namun karena terkendala UU Perkawinan, Petege tidak bisa melangsungkan pernikahan.

Simak juga 'PN Surabaya Sahkan Nikah Beda Agama, Ma'ruf Amin: Tidak Boleh':

[Gambas:Video 20detik]



(asp/rdp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT