ADVERTISEMENT

Bupati Koltim Akui Keluarkan Uang Rp 3 Miliar untuk Urus Dana PEN

Antaranews - detikNews
Kamis, 11 Agu 2022 17:38 WIB
Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
Gedung Pengadilan Tipikor Jakarta (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Bupati Kolaka Timur non-aktif Andi Merya Nur mengaku mengeluarkan uang Rp 3,05 miliar untuk mengurus pinjaman Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tahun 2021. Uang itu diserahkan Andi Merya ke LM Rusdianto Emba, yaitu seorang pengusaha yang juga adik Bupati Muna, Sulawesi Tenggara, saat ini, yaitu LM Rusman Emba.

"Saya memberikan Rp 3 miliar ke Anto Emba yang diserahkan untuk Sukarman Loke dan Rp 50 juta saya berikan lewat Pak Mustaqim untuk diserahkan ke Sukarman Loke, sehingga totalnya Rp 3,05 miliar," kata Andi Merya dilansir Antara, Kamis (11/8/2022).

Andi Merya Nur mengatakan itu saat menjadi saksi sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jakarta Pusat, untuk terdakwa mantan Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri Mochamad Ardian Noervianto yang didakwa mendapatkan suap sebesar Rp1,5 miliar. Selain itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muna La Ode M Syukur Akbar juga terdakwa dalam sidang ini, La Ode disebut mendapat Rp 175 juta dari Andi Merya dan LM Rusdianto Emba terkait persetujuan dana pinjaman PEN untuk kabupaten Kolaka Timur tahun 2021.

Andi Merya mengaku mau menyerahkan uang Rp 3,05 miliar tersebut karena diminta oleh Anto Emba (M Rusdianto Emba). Uang itu, katanya, diserahkan untuk Ardian Noervianto.

"Ada penyampaian dari Anto Emba kalau dana dimintakan oleh Sukarman Loke untuk diserahkan ke kementerian, kementerian maksudnya ke Pak Dirjen Bina Keuangan Daerah," ungkap Andi Merya.

Bertemu Ardian Noervianto di Kemendagri

Andi Merya meyakini permintaan Anto Emba tersebut karena sebelumnya Anto Emba bersama dengan Sukarman Loke sudah membantu Andi Merya untuk bertemu dengan M Ardian di kantor M Ardian di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta Pusat pada 4 Mei 2021 bersama dengan La Ode M Syukur Akbar. Dia menyebut awalnya dia diminta Rp 2 miliar.

"Setelah pertemuan di kantor Pak Dirjen, saya bertemu lagi dengan Pak Sukarman Loke di rumah Pak Anto Emba. Pak Anto Emba menghubungi saya untuk bertemu di rumahnya bersama Pak Sukarman Loke dan Pak Sukarman Loke mengatakan untuk pengurusan dana PEN harus disiapkan dana awalnya, yaitu Rp2 miliar," tambah Andi Merya.

Andi Merya mengaku Sukarman Loke mendesak agar dana segera diserahkan. Ia pun menyerahkan uang itu dengan beberapa tahap, yakni pada 11 Juni sebesar Rp 500 juta dan 16 Juni 2021 senilai Rp1,5 miliar. Uang itu berasal dari pinjaman mertua (Rp 500 juta) dan sepupunya (Rp 1,5 miliar).

Menurut Andi Merya, kabupaten Kolaka Timur sudah pernah mengajukan kelengkapan administrasi untuk pinjaman PEN 2021 pada 12 April dan 14 Juni 2021. Namun tidak berhasil cair.

"Pak Anto Emba pernah menunjukkan daftar kalau Kolaka Timur ada di posisi 48 untuk daerah yang mengajukan pinjaman PEN, tapi setelah dana Rp 2 miliar diberikan posisi Kolaka Timur naik ke peringkat 17, jadi saya percaya dia," jelas Andi Merya.

Andi menyebut setelah mendapat Rp 2 miliar, Anto Emba pun kembali meminta uang Rp 1 miliar yang disebut juga akan diberikan kepada Sukarman.

"Rp 1 miliar saya berikan karena disampaikan Kolaka Timur sudah di peringkat ke-17. Saya sudah sangat yakin saat itu, tapi karena tiga hingga empat Minggu setelahnya tidak ada kemajuan makanya saya suruh kepala Bappeda, Pak Mustaqim, dan anggota DPRD untuk konsultasi progress PEN ke Jakarta," ucap Andi Merya.

Terkait uang itu, Andi mengaku tidak mengonfirmasi penyerahan uang itu sampai ke Ardian atau tidak karena ia mempercayai Anto Emba. Namun Andi menyebut akhirnya Kolaka Timur tidak jadi menerima pinjaman PEN karena ia diamankan dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK.

Diketahui tim KPK melakukan OTT terhadap Andi Merya dan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kolaka Timur Anzarullah pada 21 September 2021 di rumah jabatan Bupati Koltim. Andi Merya menerima suap senilai Rp250 juta dari Anzarullah terkait dana bencana alam yang dikelola BPBD Kolaka Timur.

Atas perkara tersebut Andi Merya juga sudah divonis tiga tahun penjara ditambah denda Rp 250 juta subsider empat bulan kurungan pada 26 April 2022 oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri Kendari.

Simak juga 'Saat Bupati Kolaka Timur Jalani Sidang Perdana Kasus Suap Infrastruktur':

[Gambas:Video 20detik]



(zap/dhn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT