ADVERTISEMENT

Bamsoet Bicara 2 Sisi Kemajuan Teknologi Informasi di Buku Terbarunya

Hanifa Widyas Sukma Ningrum - detikNews
Rabu, 10 Agu 2022 22:53 WIB
Peluncuran Buku Bamsoet
Foto: MPR RI
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meluncurkan buku ke-24 berjudul 'Vaksinasi Ideologi Empat Pilar; Melawan Radikalisme dan Demoralisasi Bangsa'. Dalam buku tersebut, Bamsoet menekankan era disrupsi tidak hanya menghadirkan tantangan dari perspektif ekonomi.

Kemajuan teknologi informasi yang berkembang pesat diibaratkan seperti pisau bermata dua. Di satu sisi menawarkan efisiensi dan simplifikasi dalam berbagai bidang kehidupan, tetapi di sisi lain lain juga berpotensi menghasilkan residu dan dampak negatif pada dimensi kebangsaan.

"Tingginya tingkat penetrasi internet di Indonesia, pada Juni 2022 diperkirakan mencapai 77 persen atau sekitar 210 juta pengguna, berpotensi menghadirkan sisi gelap dari kemajuan dan modernisasi teknologi informasi. Misalnya, maraknya kasus perundungan yang sengaja dibuat viral, meningkatnya kejahatan berbasis siber, menyebarnya paham radikal, dan meningkatnya demoralisasi generasi muda bangsa," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Rabu (10/8/2022).

Ia menjelaskan paham radikalisme tidak semata disebarkan melalui proses indoktrinasi yang dilakukan secara langsung atau melalui berbagai pendekatan konvensional. Sebab, paparan paham radikalisme dapat dijangkau dan diakses hanya dengan sentuhan jari di layar smartphone dengan adanya perkembangan teknologi informasi.

Terutama ketika berbagai aktivitas sosial mengalami pembatasan di masa pandemi COVID-19. Hal inilah yang justru membuka peluang propaganda, indoktrinasi paham radikalisme, dan terorisme melalui dunia maya.

"Laporan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), sekitar 67,7 persen konten keagamaan yang tersebar di dunia maya, bernuansa intoleran dan radikal. Indeks potensi radikalisme yang berada di kisaran 12,2 persen, ternyata didominasi oleh generasi milenial. Tantangan menghadapi paham radikalisme bukanlah persoalan gampang. Tekanan dan beban kehidupan yang dirasakan semakin sulit, khususnya di saat pandemi Covid-19, berpotensi mendorong tumbuh suburnya radikalisme sebagai solusi instan, dan pelarian dari berbagai himpitan persoalan," jelas Bamsoet.

Bamsoet menerangkan teknologi informasi juga dimanfaatkan kalangan teroris untuk penggalangan dana (crowd-funding) dalam mendukung aktivitas terorisme. Dikutip melalui catatan BNPT, terjadi kenaikan sebesar 101 persen transaksi keuangan mencurigakan selama pandemi. Kecurigaan tersebut diduga kuat terkait aktivitas terorisme.

"Dalam melawan radikalisme, terorisme, hingga demoralisasi bangsa dengan berbagai bentuk lainnya, tidak cukup melalui penegakan hukum. Dibutuhkan upaya lain berupa strategi cegah dan tangkal melalui vaksinasi ideologi, salah satunya menggunakan vaksin Empat Pilar MPR RI, yang pada hakikatnya adalah mengamalkan nilai-nilai dalam Pancasila; menjadikan UUD NKRI 1945 sebagai pedoman; mempertahankan eksistensi NKRI; serta menjaga kesatuan serta persatuan dengan menerima dan merawat kebinekaan. Sehingga bisa memperkuat imun ideologi setiap anak bangsa dalam menghadapi berbagai gempuran ideologi yang dapat memecah belah bangsa," pungkas Bamsoet.

(ncm/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT