ADVERTISEMENT

Di Buku Barunya, Bamsoet Tegaskan RI Harus Siap Hadapi Disrupsi Global

Sukma Nur Fitriana - detikNews
Rabu, 10 Agu 2022 21:57 WIB
Bamsoet Luncurkan 2 Buku Baru
Foto: MPR RI
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meluncurkan buku terbarunya yang bertajuk 'Indonesia Era Disrupsi; Utak Atik Politik Negara di Era Disrupsi dan Pandemi'. Buku tersebut menjadi buku ke-23 yang ditulis langsung oleh dirinya.

Dalam buku 'Indonesia Era Disrupsi', Bamsoet menekankan Indonesia sebagai bagian dari komunitas global tidak terbebas dari pengaruh dan landscape ideologi, politik, dan ekonomi global yang berkembang dinamis namun sedang dalam suasana 'muram'. Hal tersebut dipengaruhi oleh beragam faktor yang mempengaruhi, di antaranya melambungnya harga komoditas global, kebijakan moneter negara maju yang agresif, konflik Rusia-Ukraina, serta mulai munculnya eskalasi ketegangan baru di Taiwan.

"Tidak berlebihan ketika Presiden Joko Widodo mengingatkan bahwa ancaman krisis global ada di depan mata. Saat ini, sekitar 320 juta penduduk dunia berada dalam kelaparan akut. Menurut IMF dan Bank Dunia, perekonomian 66 negara diprediksi akan ambruk," ujar Bamsoet dalam perilisan bedah bukunya di Jakarta, Rabu (10/8/22).

"Penurunan dan kontraksi pertumbuhan ekonomi global, semakin diperburuk oleh tingginya kenaikan inflasi. Merujuk kondisi di tanah air, kenaikan inflasi juga mulai dirasakan menjadi ancaman bagi perekonomian nasional," imbuhnya.

Lebih lanjut, Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menerangkan era disrupsi adalah suatu keadaan yang tidak mungkin untuk dihindari, namun keadaan tersebut bisa disiasati.

Misalnya dalam menyikapi krisis energi global. Diperkirakan kenaikan harga minyak dunia hingga akhir tahun akan mencapai 98 US dollar per barel. Hal ini melebihi asumsi APBN 2022 sebesar 63 US dollar per barel.

Kenaikan harga minyak yang terlalu tinggi tentu akan menyulitkan dalam pengupayaan tambahan subsidi atau meredam tekanan inflasi. Oleh karena itu harus segera disiasati. Salah satunya dengan migrasi kendaraan bahan bakar yang semula minyak menjadi motor listrik.

"Salah satu cara menyiasatinya, kita harus mempercepat migrasi kendaraan dari berbahan bakar minyak ke bermotor listrik. Setiap pengalihan satu unit kendaraan berbahan bakar minyak ke bermotor listrik, akan berkontribusi pada pengurangan subsidi negara sebesar Rp 22,9 juta per tahun. Langkah alternatif lainnya dengan mengubah skema pemberian subsidi energi, menjadi subsidi yang diberikan secara langsung kepada orang yang tidak mampu, sehingga lebih tepat sasaran," terangnya.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menambahkan contoh lain menyikapi krisis pada sektor pangan. Sektor pangan salah satunya menjadi terhambat sebab, perang Rusia-Ukraina telah menyebabkan terhambatnya pasokan gandum dunia sebanyak 30-40 %. Kelangkaan gandum ini bisa berdampak pada lonjakan harga dari berbagai produk turunannya, misalnya produk mie instan yang diprediksi naik hingga 3 kali lipat.

"Mengantisipasinya, kita harus segera mengintensifkan pertanian di dalam negeri sehingga tidak terlalu bergantung kepada impor. Misalnya, meningkatkan luas tanam sorgum dan singkong di dalam negeri sebagai pengganti gandum ekspor. Era Disrupsi harus membuat kita mengubah tantangan menjadi peluang, dan mengubah peluang menjadi keberhasilan." pungkas Bamsoet.

Simak juga 'Haedar Nashir: Jadikan Era Disrupsi untuk Lahirkan Inovasi IPTEK':

[Gambas:Video 20detik]



(ncm/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT