ADVERTISEMENT

Israel Kembali Teror Gaza, HNW: Rusak Demokrasi & Jauhkan Solusi Damai

Hanifa Widyas - detikNews
Minggu, 07 Agu 2022 21:08 WIB
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW)
Foto: Dok. MPR RI
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengutuk keras Israel yang kembali melakukan serangan terhadap Jalur Gaza dan membiarkan ribuan ekstremis Zionis menyerbu Al-Aqsha. Ia menegaskan teror yang kembali dilakukan Israel merupakan pelanggaran berkelanjutan yang nyata terhadap HAM dan hukum internasional.

"Serangan udara Israel yang terakhir, mengakibatkan tewasnya 6 anak-anak, 32 warga sipil termasuk salah satu pimpinan kelompok perlawanan Palestina, dan 215 warga dewasa dan anak-anak Palestina yang terluka. Serial teror kejam dan tak berperikemanusiaan ini harusnya direspons dengan tegas dan keras oleh Indonesia dan dunia internasional, agar tidak terus berulang. Supaya terorisme bisa dihentikan, hukum internasional bisa ditegakkan, dan perdamaian di kawasan tersebut bisa diwujudkan," papar HNW dalam keterangannya, Minggu (7/8/2022)

Ia mengatakan serangan Israel yang berlangsung sejak Jumat (5/8) kemarin ke Jalur Gaza menegaskan sifat otoriter dan kolonialis. Israel mengklaim serangan tersebut merupakan operasi pre-emptive. Banyak pakar menilai serangan ini berkaitan dengan agenda para elit politik di Israel karena jadwal pemilu di sana semakin dekat.

"Lebih jahat lagi kalau serangan Israel ke Jalur Gaza yang menewaskan banyak warga, termasuk anak-anak dan perempuan, dan menghancurkan bangunan-bangunan sipil, disinyalir karena kepentingan elit politik Israel jelang Pemilu yang dijadwalkan bulan November 2022. Tindakan represif seperti itu selain merusak demokrasi dan menjauhkan solusi damai di Palestina, juga membuka topeng jahat Israel yang selama ini mengklaim sebagai satu-satunya negara demokrasi beradab di Timur Tengah," tegas HNW.

HNW juga mengingatkan ada tindakan sewenang-wenang lain yang dilakukan kelompok ekstremis Zionis yang beriringan dengan serangan Israel ke Gaza, yakni hendak menyerbu Masjid Al-Aqsha. Para ekstremis ini melakukan penyerangan di hari yang mereka anggap sebagai hari raya Tisha B'Av.

Adapun penyerangan ini sengaja dibiarkan oleh pihak Israel dan memperburuk situasi keamanan di kawasan tersebut. Tidak hanya itu, sikap yang diambil oleh Israel juga semakin menjauhkan upaya perdamaian. Diketahui salah satu kunci upaya perdamaian adalah mengakui Palestina sebagai negara merdeka dengan Ibu Kota Al Quds, Yerusalem Timur, tempat beradanya Masjid Al Aqsha.

"Apalagi jelang hari Asyura tanggal 10 Muharram 1444 Hijriah di mana umat Islam di seluruh dunia juga mengisinya dengan puasa dan ibadah, ini tidak hanya menjadi provokasi bagi umat Islam di Palestina, melainkan juga melukai perasaan seluruh umat Islam, dan mencederai umat Kristiani di Palestina, yang sangat menghormati dan ikut membela Masjid Al Aqsha, yang diyakini Umat Islam sebagai Masjid Al Haram yang ketiga," ungkap HNW.

Oleh karena itu, HNW mendesak Pemerintah Indonesia agar semakin tegas dan serius melaksanakan komitmen dan peran positifnya dengan mengupayakan tindakan-tindakan yang lebih konkret bersama lembaga internasional.

Apalagi, Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina Francesca Albanese secara terbuka juga mengutuk serangan Israel kali ini. Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Liga Muslim se-Dunia Muhammad bin Abdul Karim al-Issa juga mengutuk keras perilaku Israel yang membahayakan masyarakat sipil serta Masjid Al Aqsha.

"Sekalipun beberapa negara Arab sudah melakukan 'normalisasi' membuka hubungan diplomatik dengan Israel, sudah seharusnya Pemerintah Indonesia sesuai ketentuan pembukaan UUDNRI 1945, kembali mengambil inisiatif, mengutuk keras, dan menggalang komitmen OKI dan Dewan Keamanan PBB agar mengadakan sidang istimewa untuk menghentikan kejahatan teror dan kolonialisme Israel. Menegakkan hukum internasional secara benar, juga untuk selamatkan Masjid Al-Aqsha, sebagai salah satu kunci menghadirkan kemerdekaan Palestina, dan perdamaian di kawasan," jelas HNW.

"Apalagi Pemerintah Afrika Selatan juga telah mendesak agar Sidang Umum PBB menetapkan Israel sebagai Negara apartheid. Semestinya Pemerintah Indonesia dapat mengambil langkah serupa dalam meningkatkan solidaritas menghentikan kolonialisme dan teror Israel, untuk diwujudkannya perdamaian dan kemerdekaan Palestina dengan ibukota Yerusalem Timur, lokasi beradanya Masjid Al-Aqsha," tutupnya.

(akn/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT