ADVERTISEMENT

Eksepsi Ditolak, Pengacara Pengeroyok Ade Armando Ancam Tak Hadiri Sidang

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Senin, 18 Jul 2022 17:24 WIB
Sidang pengeroyok Ade Armando
Sidang pengeroyok Ade Armando (Foto: Wilda Nufus/ detikcom)
Jakarta -

Majelis hakim menolak nota keberatan atau eksepsi 3 terdakwa dalam kasus pengeroyokan terhadap Ade Armando dan meminta jaksa penuntut umum (JPU) melanjutkan ke tahap pemeriksaan saksi-saksi. Pengacara 3 terdakwa, Eggi Sudjana menyatakan tidak akan mengikuti sidang tahap pembuktian.

"Oleh karena itu, kami tidak ikuti sidang berikutnya untuk apa, karena sudah berbeda jauh dari segala rasa keadilan yang ada," kata Eggi saat sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Bungur Raya, Jakpus, Senin (18/7/2022).

Eggi bersama timnya mengaku akan menggugat polisi, jaksa dan hakim dengan gugatan perdata. Eggi menilai ada perbuatan melawan hukum yang terjadi dalam kasus ini.

"Maka oleh karena itu, upaya hukum kami, kami akan melakukan perlawanan, kami sudah sampaikan ini sudah terjadi perbuatan melawan hukum. Pasal 1365 Kitab Undang-Undang perdata memungkinkan tiap-tiap perbuatan yang melawan hukum menimbulkan kerugian bagi orang lain diwajibkan ganti rugi. Nah itu kami akan jadi jaksa, polisi, hakim kita gugat secara perdata, saya kira itu," kata Eggi.

Eggi mengaku keberatan dengan pertimbangan hakim dalam putusan sela yang menyebut terdakwa Abdul Latif telah mendapatkan penasihat hukum. Kata Eggi, Abdul Latif belum didampingi kuasa hukum.

"Sebagaimana sidang minggu lalu bahwa klien saya belum pernah didampingi penasihat hukum, tetapi majelis membacakan ada bukti bahwa telah mendapatkan penasihat hukum, sudi kiranya untuk mengonfirmasi rasa keadilan dan tidak simpang siurnya informasi," kata Eggi.

Hakim ketua Dewa Ketut Kartana lalu memberi tanggapan. Menurut hakim Dewa, majelis hakim sejatinya melihat apa yang sudah ada di berkas para terdakwa.

"Sudah ya, kita hanya lihat berkas ya pak, jadi berkas ini silakan dibacakan Abdul Latif ini," kata hakim Dewa.

Eggi lalu menepis itu. Eggi meminta majelis hakim melihat fakta persidangan.

"Jadi tidak pernah didampingi, nah itu Yang Mulia maka kami membuat eksepsi. Dengan hormat jangan lihat berkas tapi fakta, ini lebih nilainya lebih fakta persidangan," kata Eggi.

Sahut-sahutan antara Eggi dan hakim ketua Dewa terus terjadi. Hakim ketua Dewa menegaskan pihkanya tidak melihat peristiwa di lapangan, akan tetapi melihat apa yang ada di berkas dakwaan.

"Mohon maaf penasihat hukum, majelis itu melihat peristiwa di lapangan, kita hanya menilai apa yang ada di dalam berkas, kewenangan ada pada ketika penyidikan itu. Jika pada saat itu, tidak mempunyai penasihat hukum, penyidik wajib menunjuk penasihat hukum," kata hakim ketua.

Hakim Dewa meminta penasihat hukum terdakwa untuk mengajukan keberatan jika tidak sependapat. Hakim menegaskan putusan sela terhadap 3 terdakwa pengeroyok Ade Armando telah diputus.

"Apakah tidak tahu apa tidak, yang jelas majelis berpendapat inilah silakan Saudara penasihat hukum untuk mengajukan keberatan. Kita memahami, nanti silakan penasihat hukum mengajukan keberatan, supaya tidak terlalu lama karena ini sudah dibacakan putusan selanya sudah selesai," ujarnya.

Usai sidang, Eggi menyebut akan menggugat jaksa, polisi dan hakim masing-masing sebesar Rp 1 triliun. Hal itu, kata Eggi, karena penegak hukum telah menyebabkan kerugian negara terhadap salah seorang terdakwa yakni Abdul Latif yang sudah dipenjara 3 bulan dalam kasus ini.

"Bahwa majelis hakim mengabaikan fakta persidangan semua lihat dan menyaksikan bahwa di dalam BAP yang tertulis klien saya Abdul Latif katanya didampingi pengacara, di fakta persidangan tidak, menurut ilmu hukum harusnya yang dipakai di fakta persidangan. Di situ lah bukti telah terjadi perbuatan melawan hukum," katanya.

Selengkapnya halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT