Kursi Penumpang Batal Dipisah, PKS DKI Usul Angkot Khusus Pria dan Wanita

ADVERTISEMENT

Kursi Penumpang Batal Dipisah, PKS DKI Usul Angkot Khusus Pria dan Wanita

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Kamis, 14 Jul 2022 13:33 WIB
Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta menambah jumlah angkot yang dilengkapi AC di ibu kota. Angkot ber-AC itu sudah beroperasi di Tanah Abang-Kota.
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Jakarta -

PKS menilai rencana pemisahan tempat duduk pria dan wanita di angkutan kota (angkot) Jakarta tidak efektif mencegah pelecehan seksual. Salah satunya karena angkot memiliki kapasitas penumpang terbatas dibandingkan transportasi umum lainnya.

"Memang ini sesuatu yang bagus, mengurangi, mencegah pelecehan seksual yang terjadi di angkutan publik. Menurut saya, agak sulit kalau dipisahkan dalam satu angkot. Kalau di TransJakarta atau commuter atau di kendaraan yang jumlah penumpang banyak lebih mudah. Tetapi angkot penumpangnya cuma 10-11, sehingga susah," kata Sekretaris I Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta M Taufik Zoelkifli kepada wartawan, Kamis (14/7/2022).

Taufik juga menyoroti ketidaksiapan Pemprov DKI dalam merumuskan kebijakan tersebut sampai akhirnya dibatalkan. Menurutnya, lebih efektif apabila disediakan angkot khusus pria dan angkot khusus wanita.

"Ini sebenarnya saya lihat ada kekurangsiapan konsep dari pemisahan penumpang wanita dan pria di angkot. Memang ini sesuatu yang bagus, mengurangi, mencegah pelecehan seksual yang terjadi di angkutan publik," ujarnya.

"Kalau mau dipisahkan lebih baik ada angkot pria dan ada angkot wanita. Jadi satu angkot, bukan satu angkot ada dua gender," sambungnya.

Anggota Komisi B itu juga mengusulkan supaya seluruh angkot di Jakarta masuk ke dalam JakLingko maupun Mikrotrans. Dengan begitu, sopir-sopir angkot bisa memiliki gaji tetap tanpa mengejar setoran.

"Maka masalah mencegah pelecehan seksual bisa dilakukan oleh sopir akan lebih tanggung jawab tidak melulu berpikir kejar setoran, tetapi (memikirkan) kenyamanan penumpang," tandasnya.

Sebagaimana diketahui, Pemprov DKI Jakarta sempat berencana memisahkan tempat duduk pria dan wanita di angkutan kota (angkot). Namun wacana itu batal diterapkan.

Wacana itu awalnya disampaikan Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) DKI Jakarta, Syafrin Liputo pekan kemarin. Rencana pemisahan kursi penumpang pria dan wanita di angkot sebagai upaya mencegah pelecehan seksual di angkutan umum. Apalagi kejadian pelecehan seksual sempat viral di angkutan umum di Jakarta.

"Agar kejadian pelecehan seksual di angkot tidak terjadi lagi, ke depan kami akan melakukan pengaturan pemisahan tempat duduk bagi penumpang angkot. Di mana penumpang wanita kami harapkan untuk duduk di sisi sebelah kiri dan penumpang pria duduk di sisi sebelah kanan. Harapannya melalui pemisahan ini, kejadian serupa tidak terulang," kata Syafrin kepada wartawan, Sabtu (9/7).

Lima hari setelah wacana itu disampaikan, Pemprov DKI Jakarta batal menerapkan kebijakan pemisahan kursi penumpang pria dan wanita di dalam angkutan kota (angkot). Pertimbangannya lantaran belum dapat dilaksanakan.

"Dengan mempertimbangkan kondisi yang ada di dalam masyarakat, terhadap wacana pemisahan penumpang laki-laki dan perempuan di dalam angkot saat ini belum dapat dilaksanakan," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo dalam keterangannya, Rabu (13/7).

Syafrin menuturkan pihaknya membentuk POS Sahabat Perempuan dan Anak (POS SAPA). Nantinya bakal ditempatkan nomor aduan 112 di sejumlah moda transportasi milik Jakarta serta mempersiapkan petugas.

"Fasilitas POS SAPA tersebut sudah terdapat di 23 halte TransJakarta, 13 stasiun MRT, dan 6 stasiun LRT. Direncanakan ke depan POS SAPA akan terus ditambahkan, termasuk menjangkau layanan angkot," jelasnya.

Simak juga 'Mengaku Berusia 11 Tahun, Pria di Klaten Lakukan Pelecehan Anak':

[Gambas:Video 20detik]



(taa/idn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT