Siswa SDN di Tangsel Bisa Masuk ke Sekolah Usai Pembangunan Tanggul Disetop

ADVERTISEMENT

Siswa SDN di Tangsel Bisa Masuk ke Sekolah Usai Pembangunan Tanggul Disetop

Khairul Ma'arif - detikNews
Senin, 11 Jul 2022 12:07 WIB
Akses masuk ke SDN Pamulang Timur 1 Tangsel ditutup oleh ahli waris dan pemilik tanah atas nama Satiri. Akses ditutup dengan cara dibangunnya tanggul semen. (Khairul Maarif/detikcom)
Foto: Akses masuk ke SDN Pamulang Timur 1 Tangsel ditutup oleh ahli waris dan pemilik tanah atas nama Satiri. Akses ditutup dengan cara dibangunnya tanggul semen. (Khairul Maarif/detikcom)
Tangerang Selatan -

Hari ini merupakan hari pertama masuk sekolah di wilayah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) usai libur semester dua pekan, termasuk siswa SDN 01 Pamulang Timur. SDN 01 Pamulang Timur sempat jadi sorotan lantaran akses masuk sekolah hendak dibangun tanggul oleh ahli waris pemilik lahan.

Juru bicara ahli waris Sarpani mengatakan saat ini pihaknya sudah menyetop sementara pembangunan tanggul yang menutupi akses masuk ke sekolah. Sarpani mengatakan saat ini tengah melakukan pembicaraan dengan Pemkot Tangsel untuk pembayaran.

"Anak-anak masuk sekolah bisa. Dari sana (Pemkot Tangsel) juga sampaikan ke kita jangan dipagar sudah, intinya Pak Pilar mau bayar. Kita hentikan dulu yang penting kita nih lagi nego untuk pembayaran (ganti-untung)" kata Sarpani saat dihubungi detikcom, Senin (11/7/2022).

Sarpani mengatakan saat ini ahli waris sedang bermusyawarah dengan Wali Kota Tangsel langsung Benyamin Davnie. Dia menegaskan ahli waris hanya ingin dibayar terkait lahan yang digunakan Pemkot Tangsel.

"Memang saya kemarin gini, kalau sudah tidak bisa, alternatif saya tembok. Tapi ini mereka masih minta maklum sama saya. Saya juga tidak kaku lah namanya kita bersahabat. Asal jangan berlarut-larut (prosesnya). Jadi intinya kita pengen dibayar aja. Jadi emang secara yuridis dia (Pemkot Tangsel) tidak punya dasar," ungkapnya.

Sebelumnya, akses masuk SDN Pamulang Timur 1 Tangerang Selatan (Tangsel) ditutup oleh ahli waris dan pemilik tanah atas nama Satiri. Penutupan akses tersebut dengan cara membangun tanggul dengan semen.

Sarpani mengatakan penutupan ini dilakukan karena tanah milik Satiri yang berdiri SDN 1 Pamulang Timur ini tidak mendapatkan uang sewa atau pembelian sepeserpun. Padahal, sekolah tersebut sudah berdiri sejak 1982.

"Yang dipersoalkan saudara kami, orangtua kami, yakni bapak Satiri adalah menuntut haknya yang terpakai oleh pemerintah alias SDN 01 Kelurahan Pamulang Timur, Kecamatan Pamulang. Saya tanya, udah pernah diwakaf ke sekolah? Belum pernah. Kita mencari hak," katanya kepada wartawan, Kamis (30/6).

(idn/idn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT