Ketua PBNU Minta Ortu Tak Khawatir Sekolahkan Anak di Pesantren

ADVERTISEMENT

Ketua PBNU Minta Ortu Tak Khawatir Sekolahkan Anak di Pesantren

Zunita Putri - detikNews
Sabtu, 09 Jul 2022 15:27 WIB
Santri membaca Al Quran di Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Medan, Sumatera Utara, Senin (4/4/2022). Kegiatan yang diikuti ribuan santri tersebut merupakan agenda rutin yang dilaksanakan pada bulan suci Ramadhan. ANTARA FOTO/Fransisco Carolio/Lmo/tom.
Foto ilustrasi kegiatan santriwati di pesantren. (ANTARA FOTO/Fransisco Carolio)
Jakarta -

Akhir-akhir ini muncul fenomena pelecehan seksual di pondok pesantren di sejumlah wilayah di Indonesia. Namun, tidak semua pesantren terlibat kasus pelecehan seksual.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Choirul Sholeh Rasyid meminta para orang tua tidak khawatir. Sebab, pesantren itu memiliki visi yang baik untuk anak didik.

"Orang tua tidak perlu khawatir apalagi takut dengan berita-berita yang sedang marak di media ataupun di medsos. Tidak perlu khawatir, apalagi takut, karena pondok pesantren adalah merupakan lembaga pendidikan alternatif, pesantren punya visi keinginan agar anak didik, saya katakan tidak terpengaruh pergaulan bebas," kata Choirul kepada detikcom, Sabtu (9/7/2022).

Pesantren, katanya, memiliki perhatian yang baik kepada anak didik. Pesantren juga memiliki aturan dan mengajarkan nilai-nilai baik. Munculnya kasus yang akhir-akhir ini ramai itu karena kesalahan pribadi, bukan karena pesantrennya.

"Jadi pesantren-pesantren itu memiliki perhatian khusus kepada anak didik yang sebetulnya sangat baik, contoh tertentu dia kan belajar, bagi yang pendidikan pesantren itu umumnya juga di dalamnya ada pendidikan formal selain madrasah juga ada SMP dan sebagainya. Pelajaran-pelajaran di dalamnya itu sangat baik, tidak hanya umum juga tentang agama, menjaga moral, menjaga akhlak, sangat baik," tegasnya.

Para orang tua juga bisa melindungi anak-anaknya dari pergaulan bebas. Pesantren diyakini sangat bagus sebagai pilihan untuk mendidik anak.

"Pesantren itu sangat bagus sebagai lembaga pendidikan alternatif yang menginginkan selamat dunia akhirat, tidak hanya dunia, tentu saja akhirat yaitu memiliki pengetahuan keagamaan yang cukup, bahkan lebih karena hidup ini tidak hanya dunia tapi juga soal akhirat," tuturnya.

detikcom merangkum beberapa kasus pelecehan seksual yang terjadi di pondok pesantren dalam kurun 2021-2022. Berikut daftar kasusnya:

1. Kasus Herry Wirawan

Nama Herry Wirawan menjadi tidak asing jika bicara mengenai kasus pencabulan santriwati. Sebab, Herry Wirawan adalah pelaku pencabulan 12 santriwati di Pesantren Madani Boarding School.

Herry mengaku telah memperkosa santriwati-santriwatinya hingga hamil dan melahirkan. Kasus ini pertama kali terbongkar pada Mei 2021, namun kasus ini tidak langsung terekspos di media dengan pertimbangan dampak psikologis dan sosial dari korban kebejatan Herry.

Karena aksinya itu, Herry dituntut mati oleh jaksa penuntut umum. Tapi, oleh Pengadilan Negeri Bandung divonis seumur hidup penjara.

Namun, jaksa saat itu banding dengan vonis itu. Di tingkat banding, Pengadilan Tinggi Bandung mengabulkan permohonan jaksa dengan menjatuhkan vonis mati ke Herry Wirawan.

2. 34 Santriwati Dicabuli di Trenggalek

Kasus pencabulan ini terungkap sekitar September 2021, ketika salah satu korban menceritakan kejadian yang dialami kepada orang tuanya. Pelaku adalah seorang ustaz berinisial SM (34) di pesantren di Kecamatan Pule, Trenggalek.

Pencabulan itu dilakukan pelaku di lingkungan pesantren. SM nekat melakukan pencabulan dengan alasan hubungan dengan sang istri kurang harmonis.

Dalam menjalankan aksinya, pelaku berpura-pura memanggil santriwati yang menjadi incarannya. Korban diajak ke tempat sepi. Di lokasi tersebut, pelaku mencabuli korban.

SM kini sudah diadili. Dia divonis 18 tahun penjara karena mencabuli 34 santrinya.

Simak juga 'Pengasuh Ponpes Banyuwangi Cabuli 6 Santri Ternyata Eks Anggota DPRD':

[Gambas:Video 20detik]





ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT