ADVERTISEMENT

Ngeri Tradisi 'Jeres' di Balik Pengeroyokan Siswa SMAN 70 Jakarta

Karin Nur Secha - detikNews
Sabtu, 09 Jul 2022 12:45 WIB
Ilustrasi penganiayaan (dok detikcom)
Ilustrasi pengeroyokan (dok detikcom)
Jakarta -

Kasus pengeroyokan siswa SMAN 70 Jakarta oleh kakak kelasnya menjadi sorotan. Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto mengungkapkan adanya tradisi 'jeres' di balik aksi pengeroyokan tersebut.

Hal itu diungkapkan Kak Seto saat menemui para pelaku di Polres Metro Jakarta Selatan, Jumat (8/7) kemarin. Kak Seto menjelaskan tradisi 'jeres' merupakan kegiatan kumpul-kumpul yang diadakan adik kelas dengan jumlah 20 orang.

Perjanjiannya adalah, kalau jumlah tersebut tidak tercapai, akan melakukan 'jeres' atau dipukul hingga lebam-lebam. Inilah yang kemudian memunculkan kasus pengeroyokan tersebut.

"Si junior itu mengatakan udah komitmen, 'oke boleh, saya sanggup, bisa, kok' ternyata yang kumpul hanya 3 orang, artinya sudah memenuhi komitmennya siap dijeres, setiap ditanya dipukul-pukul lebam-lebamlah," jelas Kak Seto.

Kak Seto mengatakan 'jeres' sudah menjadi semacam tradisi di SMAN 70 Jakarta. Sudah semestinya tradisi yang bersifat negatif ini dihilangkan di dunia pendidikan.

"Apa ya (jeres itu) hukuman atau apalah, intinya sayang juga memang sudah tradisi dari SMA 70. Ini nantinya sudah menjadi dinas pendidikan supaya tradisi bullying mohon dengan tegas dihentikan. Jadi harus diciptakan sekolah ramah anak, bebas dari bullying, bebas berbagai tindakan termasuk dengan jeres ini," tuturnya.

"Mohon untuk tradisi ini bisa dihentikan. Tradisi jeres jadi sesuatu tidak ditepati boleh dipukulin," tambahnya.

Baca di halaman selanjutnya: 6 pelaku menyesal....

Simak juga 'Viral Pelajar SMA Aniaya Siswi SMP di Sulut Gegara Rok Pendek':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT