ADVERTISEMENT

Ustaz Adi Hidayat Sebut Pattimura 'Ahmad Lussy', Teorinya Ada di Buku Ini

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 05 Jul 2022 16:19 WIB
Uang Rp 1.000 Kapitan Pattimura
Kapitan Pattimura dalam uang kertas Rp 1.000. (Sylke Febrina Laucereno/detikcom)

Kritik

Penulisan sejarah oleh Ahmad Mansur Suryanegara sudah dikritik oleh kalangan sejarawan. Dalam Jurnal Sejarah Peradaban Islam Vol 2 No 2 Tahun 2018, Tiar Anwar Bachtiar menuliskan tinjauan kritisnya dalam tulisan berjudul 'Islamisasi Penulisan Sejarah: Survey Gagasan Hamka dan Ahmad Mansur Suryanegara'

Tiar Anwar Bachtiar yang merupakan pengajar di STAI Persatuan Islam Garut dan Unpad menjelaskan, Mansur adalah aktivis Islam semasa mahasiswa dan dekat dengan M Natsir (Masyumi). Sejak era awal Orde Baru, tulisan-tulisan Mansur sudah bernada menggugat sejarah mapan. Buku 'Api Sejarah' juga ditujukan untuk mengubah drastis pandangan terhadap sejarah Indonesia. Buku 'Api Sejarah' menuai kritikan karena hanya menggunakan sumber sekunder. Mansur disebut orang sebagai 'sejarawan picisan'.

Metode Mansur dalam menjalankan semangat 'mengislamkan penulisan sejarah' mendapat kritik dari Tiar. Pertama, penggunaan sumber sejarah yang tidak kritis dan tidak lengkap dan serampangan. Ini membuat sejarawan menilai buku 'Api Sejarah' tidak ilmiah, meski Tiar menilai tetap ada nilai imliah di buku itu. Kedua, sistematika peyajian Mansur dinilai meloncat-loncat. Sistematika ini mengganggu eksplanasi.

"Walaupun secara semangat pemikiran untuk mengislamisasi penulisan sejarah Islam di Indonesia, Mansur sudah memberikan kontribusi penting, namun memang dalam hal metodologi, buku ini memperlihatkan kelemahan yang cukup fundamental di sana-sini. Untuk sejarawan sekelas Mansur yang sudah puluhan tahun malang-melintang di dunia "sejarah" seharusnya kesalahan-kesalahan ini tidak perlu terjadi. Sebab, pada umumnya kesalahan yang dilakukan adalah kesalahan mendasar yang menunjukkan ketidakberhasilan Mansur mendapatkan sumber yang dapat dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebagai contoh ada beberapa kasus yang sempat penulis catat yang mengandung kelemahan metodologis cukup fatal," tulis Tiar.

Kritik selanjutnya datang dari Mumuh Muhsin Z, staf pengajar Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran dalam makalahnya yang berjudul 'Islamisasi Sejarah Indonesia: Paradigma Historiografi Madzhab Al-Mansuriyyah'.

"Buku Api Sejarah yang ditulis oleh Ahmad Mansur Suryanegara kurang memperhatikan prinsip-prinsip metodologis penelitian dan penulisan sejarah. Akan tetapi tidak berarti buku ini berkualitas rendah. Kekuatan buku ini terletak pada kreativitas penulisnya menawarkan model alternatif yang memang relatif diterima oleh masyarakat pembaca," tulis Mumuh Muhsin Z.

Ahmad Lussy diajukan FKAWJ

Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (FKAWJ) juga pernah mengajukan klaim bahwa Pattimura adalah Ahmad Lussy. Sekadar catatan, FKAWJ adalah kelompok yang didirikan Ja'far Umar Thalib, pendiri Laskar Jihad, kelompok paramiliter.

Catatan ini disampaikan oleh Birgit Bräuchler, Associate Professor di Departemen Antropologi Universitas Kopenhagen, dalam buku 'Cyberidentites At War: The Moluccan Conflict On The Internet' terbitan tahun 2013.

"Bersama dengan muslim lainnya, FKAWJ mengajukan proposisi bahwa Pattimura adalah seorang muslim dan muslim era sekarang melanjutkan perjuangannya melawan penindasan Barat dan orang Kristen," tulis Birgit Bräuchler.

"Mereka memodifikasi nama (Pattimura) menjadi Ahmad Lussy, dengan demikian memfalsifikasi sejarah Maluku. Menurut FKAWJ (17 dan 20 Februari 2001), nama lengkap Pattimura adalah Ahmad Anakotta Paria Pakalessy, yang menyebut dirinya Haulessy, alias Haulussy. Sebuah artikel di majalah muslim Hidayatullah menyatakan kepadal MML pada 22 September 2002 bahwa penamaan Thomas Matulessy adalah contoh bagaimana sejarah telah di de-Islamisasi," tulis Birgit Bräuchler.

Pattimura adalah Thomas Matulessy

Berdasarkan catatan sejarah arus utama, Kapitan Pattimura bernama Thomas Matulessy. Dia lahir di Haria, Saparua, Maluku Tengah, 8 Juni 1783 dan meninggal 16 Desember 1817. Dia lahir dari ayah bernama Frans Matulessy dan Fransina Silahoi.

Dikutip dari buku 'Kapitan Pattimura' karya IO Nanulaita, leluhur keluarga Matulessia berasal dari Seram. Mereka berpindah ke Haturessi (sekarang Negeri Hulaliu). Kemudian, seorang moyang Thomas Matulessy berpindah ke Titawaka (sekarang Negeri Itawaka). Di antara turunannya ada yang menetap di Itawaka dan ada yang berpindah ke Ulath, ada yang kembali menetap di Hulaliu dan ada yang berpindah ke Haria. Keturunan di Haria inilah yang menurunkan ayah dari Thomas Matulessy, yakni Frans Matulessia/Matulessy. Ibu Thomas berasal dari Siri Sori Serani.

Pattimura Pahlawan Nasional dari Tanah Maluku, Ini SosoknyaKapitan Pattimura (Situs Kemensos)

Thomas Matulessy punya satu saudara kandung, yakni Johannis Thomas. Thomas tidak kawin dan tidak berketurunan, sedangkan Johannis menurunkan keluarga Matulessy yang sekarang berdiam di Haria. Ahli waris yang memegang surat pengangkatan kapitan Pattimura sebagai pahlawan nasional selepas Indonesia merdeka.

"Di rumah keluarga itu pula disimpan pakaian, parang dan salawaku dari pahlawan Pattimura. Keluarga Matulessia beragama Kristen Protestan. Nama Johannis dan Thomas diambil dari Alkitab. Keluarga atau mata-rumah Matulessia terpancar dari mata-rumah Matatulessi (ma = mati; tula = dengan; lessi = lebih). Nama itu kemudian berubah menjadi Matulessia," tulis IO Nanulita.

Kembali ke Pattimura yang merupakan Thomas Matulessy, dia dikenal sebagai pahlawan nasional karena jasanya memimpin perlawanan rakyat Maluku melawan Belanda. Soalnya, Belanda memonopoli perdagangan, pelayaran hongi, dan kerja paksa.

Pattimura menyusun Proklamasi Haria untuk menolak tegas kedatangan Belanda ke wilayah Maluku. Belanda berusaha menguasai Maluku sejak berakhirnya kedudukan Inggris di Indonesia pada tanggal 25 Maret 1817.

Pada tanggal 7 Mei 1817 dalam rapat umum di Baileu negeri Haria, Pattimura dikukuhkan dalam upacara adat sebagai "Kapitan Besar". Dia memimpin penyerbuan ke benteng Duurstede dan menguasainya dari tangan Belanda. Selanjutnya, dia memimpin pasukan bertempur melawan pasukan Mayor Beetjes.

Pattimura dan para pejuang ditangkap Belanda pada 11 November 1917. Pattimura dihukum gantung di Ambon pada 16 Desember 1817.


(dnu/tor)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT