ADVERTISEMENT

PD: Kok 'Perang' Jokowi-Prabowo Mau Diturunkan ke Ganjar dan Anies?

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Selasa, 28 Jun 2022 12:05 WIB
Herzaky Mahendra Putra (Dok. Demokrat).
Herzaky Mahendra Putra (Foto: dok. Demokrat)
Jakarta -

Partai Demokrat (PD) menilai ada cara tersendiri untuk menghentikan polarisasi di tengah masyarakat menjelang Pemilu dan Pilpres 2024. Demokrat menyoroti munculnya usulan duet tokoh untuk menghentikan polarisasi.

Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP/Koordinator Juru Bicara PD Herzaky Mahendra Putra menjelaskan elite politik harus memberikan contoh, terbuka, menjaga komunikasi dengan semua pihak, serta menghargai perbedaan demi menghentikan polarisasi.

"Melihat pihak yang berbeda pendapat atau berbeda kubu, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai lawan berdialektika, dan mitra dalam membangun negeri," kata Herzaky dalam keterangannya, Selasa (28/6/2022).

Herzaky menyebut elite politik juga harus terbiasa dan siap berkompetisi, bukannya alergi. Herzaky menyoroti dua pilpres sebelumnya yang hanya diikuti dua kubu.

"Pilpres 2014 dan 2019 yang hanya diikuti dua kubu dan sosok yang bertarung sama persislah yang membuat keterbelahan di masyarakat semakin mendalam. Buka ruang untuk koalisi dan pasangan calon minimal tiga di Pilpres 2024 untuk cegah keterbelahan," ujarnya.

Herzaky mengimbau untuk berhenti menyebarkan politik kebencian, framing, dan labelling yang merusak. Kemenangan, kata Herzaky, sebisa mungkin tak menghancurkan lawan dalam kontestasi.

Tiga hal inilah yang bagi Herzaky menjadi kunci mengatasi polarisasi, bukan soal memasangkan satu tokoh dengan tokoh lainnya. Sebab, menurut Herzaky, jika memasangkan siapa dengan siapa, sama saja menuduh sosok yang dipasangkan itu dan para pendukungnya sebagai sumber polarisasi.

"Padahal jelas-jelas polarisasi ini, keterbelahan di masyarakat, terjadi sejak Pilpres 2014, ketika hanya ada dua kubu capres, Jokowi dan Prabowo, yang kemudian berlanjut pada 2019," sebutnya.

Herzaky kemudian menyinggung seolah-olah kompetisi antara Jokowi dan Prabowo Subianto di Pilpres 2019 ingin diwariskan ke Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Herzaky mempertanyakan siapa yang diuntungkan jika 'pertarungan' itu diwariskan.

"Pertanyaannya, mengapa seakan perang di antara Jokowi dan Prabowo seakan mau diturunkan ke Ganjar dan Anies? Siapa sebenarnya yang mendapat untung dari polarisasi selama 2014 dan 2019? Pihak mana? Tokoh mana? Parpol mana? Mereka yang mendapatkan keuntungan dari polarisasi dan keterbelahan masyarakat inilah, sumber masalah sebenarnya. Hati-hati terhadap mereka yang berupaya mengekalkan polarisasi, mengorbankan keutuhan masyarakat, bangsa, dan negara ini, demi kepentingan elektoral mereka semata," imbuhnya.

Herzaky menyebut Partai Demokrat, seperti yang ditegaskan Ketum AHY, bakal melawan pihak-pihak yang berupaya melanggengkan keterbelahan masyarakat. Demokrat tak ingin memberikan ruang polarisasi pada Pilpres 2024.

(rfs/gbr)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT