ADVERTISEMENT

DLH DKI Sebut 75 Persen Polusi Udara Jakarta Berasal dari Emisi Bergerak

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Kamis, 23 Jun 2022 15:02 WIB
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto.
Kepala DLH Jakarta Asep (Tiara/detikcom)
Jakarta -

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta membeberkan sejumlah faktor yang menjadi penyebab kualitas udara Jakarta memburuk. Salah satunya adalah meningkatnya aktivitas pencemaran emisi gas yang berasal dari sumber bergerak maupun tidak bergerak.

"Sumber bergerak itu adalah kendaraan, roda empat dan roda dua, dan itu adalah 75 persen persen dari sumber emisi itu adalah emisi bergerak. Kedua adalah sumber emisi tidak bergerak itu dari perusahaan dari cerobong asap maupun dari konstruksi yang saat ini sedang dilakukan masyarakat. Karena pembangunan kan sekarang sedang makin marak, semakin baik, sehingga dari konstruksi itu kan menghasilkan debu-debu," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto kepada wartawan, Kamis (23/6/2022).

Selain itu, Asep menuturkan terjadi kelembapan suhu udara di Jakarta. Kondisi ini menyebabkan langit terlihat mendung dan lembap karena gas emisi terperangkap di dalam lapisan atmosfer.

"Suhu di Jakarta 25-29 derajat Celsius. Kalau melihat dari sisi sejuk, saat ini Jakarta sejuk, karena aktivitas masyarakat semakin banyak, itu menyebabkan emisi baik dari bergerak dan tak bergerak itu menjadi terkungkung di dalam lapisan atmosfer kita, jadi dia tidak keluar sampai atmosfer," ujarnya.

"Akhirnya itu yang menyebabkan polusi karena memang pengaruh emisi tersebut yang tidak bebas dari atmosfer," sambungnya.

Asep mengatakan, jika kondisi cuaca periode ini tak diiringi dengan pengurangan aktivitas kendaraan bermotor, kualitas udara di Jakarta akan terus menjadi yang terburuk. Sebab, emisi gas buang dari kendaraan berkontribusi besar terhadap pencemaran udara.

Oleh karena itu, dia menyarankan masyarakat menggunakan kendaraan umum.

"Gunakan transportasi publik untuk mengurangi emisi bergerak, gunakan transportasi yang sudah terintegrasi saat ini, kita semua lihat transportasi DKI semakin baik," tegasnya.

Solusi lainnya adalah menggencarkan pelaksanaan uji emisi bagi kendaraan bermotor minimal setahun 2 kali serta beralih menggunakan bahan bakar ramah lingkungan.

"Kami (juga) sarankan masyarakat untuk selalu mengupdate kondisi cuaca di Jakarta, kalau memang butuh tolong gunakan masker, tidak hanya pandemi, kami harapkan dengan gunakan masker dapat memaparkan kita dari kondisi udara yang masih buruk saat ini," ujarnya.

Simak video '5 Aplikasi Terbaik untuk Cek Kualitas Udara':

[Gambas:Video 20detik]



Baca berita selengkapnya di halaman berikut



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT