ADVERTISEMENT

Bagi Anies Baswedan Tak Ada Batas Administrasi Terkait Polusi

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 22 Jun 2022 20:38 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meresmikan perubahan 22 nama jalan di wilayah Jakarta. Nama-nama jalan itu diambil dari nama tokoh-tokoh Betawi.
Anies Baswedan (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Kualitas buruk udara Jakarta selama beberapa hari terakhir menuai sorotan. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan lantas buka suara sambil menyinggung soal batas administrasi.

Anies awalnya menjelaskan mengenai faktor pemicu polusi udara di Jakarta. Dia menganalisis polusi udara tersebut berdasarkan jumlah hari.

"Bila kondisinya itu terburuk selama 2 bulan setiap hari, berarti ada yang salah di kota kita ini. Tetapi bila ada satu hari di situ buruk sekali, kemudian hari-hari berikutnya kembali seperti normalnya Jakarta, mesti ada sebuah peristiwa yang terjadi di hari itu," kata Anies di Monumen Nasional, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (22/6/2022).

Selain itu, Anies menyebut penilaian kualitas udara tidak bisa dilakukan berdasarkan satu wilayah saja. Sebab, udara mengalami pergerakan ke berbagai wilayah.

"Perlu kita lihat kualitas udara tidak ada pembatasan administrasinya, tidak ada. Jadi ada memang emisi dari dalam kota, tapi juga ada pergerakan dari berbagai wilayah," ujarnya.

Anies juga memandang emisi kendaraan bermotor memiliki kontribusi besar terhadap pencemaran udara Jakarta. Oleh karena itu, pihaknya mengeluarkan kebijakan uji emisi serta menggenjot minat masyarakat untuk beraktivitas dengan angkutan umum.

"Jadi kita lakukan langkah-langkah untuk mengurangi emisi di kota kita dengan transportasi umum dibangun dan alhamdulillah peningkatannya tinggi sekali. Dan uji emisi sambil pada saat yang sama kita berharap kawasan sekitar Jakarta itu ikut mengurangi, karena ketika terjadi polusi udara di tempat mana pun, Jakarta sebagaimana juga kalau ada polusi akan terbawa keluar," ujarnya.

"Jadi pemerintah ada kebijakannya, dan dari sisi masyarakat kami berharap, yuk sama-sama manfaatkan transportasi umum dan berharap memantau sumber-sumber polusi di sekitar Jabodetabek yang memiliki dampak kualitas udara di Jakarta," sambungnya.

Tanggapan Menteri LHK

Menteri LHK Siti Nurbaya juga sudah buka suara terkait kualitas udara buruk di Jakarta. Siti berbicara mengenai metode yang dipakai untuk mengukur kualitas udara tersebut.

"Itu kan hasil monitoring analisis pakai metode tertentu dari swasta, ada instrumen yang dia pakai. Saya tidak bermaksud membela diri, tetapi kita lihat dari metode yang biasa dipakai," kata Siti kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (20/6).

Siti mengatakan yang terpenting adalah tindak lanjut dari hasil pengukuran kualitas udara tersebut. Dia pun siap membeberkan analisis data mengenai kualitas udara di Jakarta.

"Nanti saya kasih data analisisnya. Bahwa pada saat yang sama, DKI itu bukan yang sekian itu, nomor 44, jadi sebetulnya buat saya itu hanya ukuran dan indikator dan kita paling penting adalah kita lihat metodenya apa sih yang dipakai. Selain itu, apa tindak lanjutnya. Itu yang paling penting," ujar Siti.

Simak halaman selanjutnya soal kualitas udara di Jakarta

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT