ADVERTISEMENT

Polda Metro Jelaskan Tes Buta Warna yang Bikin Fahri 'Gagal Jadi Bintara'

Yogi Ernes - detikNews
Rabu, 01 Jun 2022 13:33 WIB
Gedung Polda Metro Jaya
Foto: Andhika Prasetia/detikcom
Jakarta -

Fahrifadillah Nur Rizky (21) dicoret menjelang pendidikan Bintara Polri setelah dinyatakan buta warna parsial saat disupervisi panitia pusat. Padahal, Fahri dinyatakan telah lulus seleksi pada tahap I dengan ranking ke-35 dari ratusan peserta seleksi yang lolos.

Kepala Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Metro Jaya Kombes Langgeng Purnomo mengatakan seleksi dilakukan secara ketat dan transparan. Polri juga punya standar sendiri dalam setiap tahapan seleksi, termasuk tes di bidang kesehatan (bidkes) yang mencakup tes buta warna.

"Kita punya standar sendiri, sistem sendiri. Makanya (seleksi) adalah untuk mendapatkan SDM bibit yang benar-benar kualitas yang diinginkan Polri. Nggak bisa disamakan dengan instansi lain," kata Langgeng saat dihubungi detikcom, Selasa (31/5/2022).

Fahri sebelumnya dinyatakan buta warna parsial saat dilakukan supervisi oleh tim dari Mabes Polri. Padahal, pemuda tersebut sempat lolos seleksi tahap 1. Fahri sendiri memeriksakan kesehatan matanya di 2 rumah sakit dan dinyatakan tidak buta warna.

Terkait hal ini, Langgeng mengatakan seluruh tahapan seleksi--termasuk tes buta warna--dilakukan oleh panitia seleksi dengan melibatkan tim Dokkes. Sebagai informasi, tidak buta warna adalah syarat mutlak bagi seorang calon anggota Polri.

"Nanti kalau kesehatannya mengikuti kesehatan yang umum, apalagi bahannya surat dari instansi-instansi (lain), ya nanti malah kita juga repot. Apakah benar nggak surat ini, resmi nggak?" katanya.

Langgeng memastikan seleksi bintara Polri dilakukan secara transparan dengan prinsip BETAH (Bersih Transparan, Akuntabel dan Humanis). Penguji tidak hanya dari unsur Polri, tetapi juga melibatkan ahli dari luar, misalnya Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dalam hal tes kesehatan ini.

"Kalau soal itu kan Mabes Polri dalam menerapkan prinsip yang bersih, transparan dan humanis. Jadi kita Polri tidak bekerja sendiri," katanya.

"Contohnya kesehatan, tidak bekerja sendiri. Jadi operasionalnya menggunakan tenaga ahli, outsourcing kerja sama dengan IDI. Itu juga kerjanya panitia ini diawasi oleh pengawas internal dan eksternal," tambah Langgeng.

Dia menambahkan proses seleksi calon Bintara Polri yang dilakukan di Polda Metro Jaya telah dilakukan dengan transparan. Menurut Langgeng, status lolos atau tidaknya seseorang menjadi Bintara ditentukan dari serangkaian tes yang telah dilakukan.

"Transparan sekali, sangat transparan. Saya Bidkaro SDM bisa menjamin seorang anggota meluluskan seorang anggota itu tidak bisa menjamin bahwa seseorang meluluskan seseorang nggak bisa menjamin saya," ungkap Langgeng.

Fahri membantah buta warna parsial. Simak di halaman selanjutnya:

Saksikan Video 'Klarifikasi Polisi soal Viral Curhatan Calon Bintara Gagal karena 'Ditukar'':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT