ADVERTISEMENT

Fahri 'Calon Bintara Gagal' Pernah Terapi Buta Warna di Yogyakarta

Wildan Noviansah - detikNews
Rabu, 01 Jun 2022 12:42 WIB
Jelang aksi unjuk rasa buruh, ada ribuan personel gabungan yang dikerahkan untuk amankan gedung DPR. Aksi itu dilakukan untuk menolak revisi UU Ketenagakerjaan.
Ilustrasi pengamanan polisi. (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta -

Anggota Komisi I DPR RI Hillary Brigitta Lasut bersuara terkait Fahrifadillah Nur Rizky (21), yang dicoret menjelang pendidikan Bintara usai dinyatakan lolos seleksi karena masalah buta warna parsial. Hillary memposting hasil pemeriksaan mata Fahri di 2 rumah sakit yang menyatakan tidak mengalami buta warna.

Hillary ikut menjelaskan soal Fahri yang gagal pada seleksi sebelumnya dan pernah terapi buta warna. Sebelumnya, Polda Metro Jaya menyampaikan Fahri pernah ikut seleksi pada 2019 dan 2020 dan dinyatakan tidak memenuhi syarat, juga karena masalah buta warna parsial.

"Terkait dengan tidak lulus karena buta warna di tahun sebelumnya, Fahri mampu membuktikan bahwa ia menjalani terapi buta warna di area Yogyakarta yang reviewnya di Google saja sangat bagus, dan banyak yang setelah terapi terbukti lolos menjadi anggota TNI dan Polri bahkan 'alumni' tempat terapi buta warna tersebut ada yang menjadi penembak jitu," ujar Hillary dilihat dari akun Instagramnya, Kamis (1/6/2022).

Menurut Hillary, jika Fahri benar dinyatakan buta warna, seharusnya dia tidak lolos sejak awal. Dalam hal ini, Fahri sudah dinyatakan lolos di supervisi Mabes Polri.

"Logika hukumnya, test kesehatan atau test apapun yang krusial dan menjadi poin penentu kelulusan seharusnya di awal dan sebelum pengumuman kelulusan. Apabila suatu aturan atau kebijakan baru bisa membatalkan kelulusan dengan berlaku surut, secara hukum tidak dapat dibenarkan," imbuhnya.


Polisi Diminta Pertimbangkan Second Opinion

Sebelumnya diberitakan, Hillary mengunggah hasil pemeriksaan mata Fahri di RS Moh RIdwan Meuraksa dan RS Harapan Bunda. Hasil tes buta warna dari dua rumah sakit tersebut Fahri dinyatakan tidak buta warna.

Hillary berharap diagnosis pembanding hasil tes buta warna Fahri dapat dipertimbangkan oleh Polri. "Karena di dunia kesehatan sangat disarankan mencari second opinion," imbuhnya.

Menurut Hillary, kelulusan Fahri pada seleksi Bintara Polri dengan ranking ke-35 dari 1.200 membuktikan pemuda asal Jakarta Timur itu sangat capable. Ia kemudian mengomentari argumentasi polisi soal kemungkinan Fahri lolos tes buta warna karena sudah menghapal buku tes.

"Ranking 35/1200 membuktikan ia sebenarnya sangat capable, dan secara logika, argumentasi dimana ada dugaan menghafal jawaban test itu agak kurang bisa diterima, karena saya yakin test kesehatan mata ada standarisasi tertentu yg tidak akan semudah itu di hafal," ujarnya.

"Apabila dugaan menghafal jawaban test tidak dapat dibuktikan beyond reasonable doubt, seharusnya tidak itu tidak merubah nasib seseorang," lanjutnya.


Baca di halaman selanjutnya: penjelasan Polda Metro Jaya.

Simak Video 'Klarifikasi Polisi soal Viral Curhatan Calon Bintara Gagal karena 'Ditukar'':

[Gambas:Video 20detik]





ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT