ADVERTISEMENT

Jaksa Bongkar Jejak Digital Guru Ngaji yang Cabuli 10 Santrinya di Depok

Dwi Rahmawati - detikNews
Selasa, 31 Mei 2022 09:48 WIB
Jaksa di Kasus Guru Ngaji Cabuli 10 Santri di Depok
Jaksa di Kasus Guru Ngaji Cabuli 10 Santri di Depok (Dok. Istimewa)
Depok -

Sidang lanjutan guru ngaji berinisial MMS (69) yang mencabuli 10 santrinya kembali di gelar Pengadilan Negeri Depok. Jaksa penuntut umum mengungkap jejak digital dari MMS.

Kepala Seksi Intelijen Andi Rio R Rahmatu mengatakan persidangan yang digelar pada Senin (30/5/2022) kemarin menghadirkan 3 ahli dari Rumah Sakit Bhayangkara. Dalam sidang ini, jaksa membongkar jejak digital milik ponsel terdakwa.

"Mengungkap adanya jejak digital penelusuran berapa video artis di tengah malam. Salah satunya video berjudul 'Tato sexy Celine Evangelista' yang di sering diakses terdakwa di waktu tengah malam," papar Andi Rio dalam keterangannya, Selasa (31/5).

Terdakwa di dalam persidangan disebut, Andi Rio, mengakui perbuatannya. MMS mengaku menyesal melakukan tindakan tersebut.

"Terdakwa mengakui bahwa telah melakukan seluruh perbuatan sebagaimana dakwaan jaksa, dan terdakwa menyesali perbuatannya," ucap Andi Rio.

Terdakwa Tak Alami Gangguan Jiwa

Sementara keterangan 3 ahli kedokteran menyebutkan tidak ditemukan gangguan kejiwaan pada terdakwa. Hasil yang didapat dari pemeriksaan sejalan dengan dakwaan yang dilimpahkan jaksa.

"Berdasarkan keterangan dan informasi dari para ahli, menurut hasil visum pada para korban bahwa benar adanya berasalkan dari hasil pencabulan," papar Andi Rio.

"Ketiga ahli dari keilmuan kedokteran ini pendapat atau keterangannya yang diungkapkan sesuai mendukung dengan apa yang telah didakwakan oleh jaksa penuntut umum," lanjutnya.

Andi Rio mengatakan sidang tuntutan selanjutnya akan dilaksanakan pada tanggal 13 Juni 2022 di Pengadilan Negeri Depok.

Untuk diketahui, MMS didakwa melanggar Pasal 82 ayat (1), ayat (2), ayat (4) Jo Pasal 76 E Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 65 ayat I KUHP.

Lihat juga video 'Pesantren di Lumajang Diserbu Warga Atas Dugaan Kiai Cabuli Santri':

[Gambas:Video 20detik]

(zap/zap)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT