Soal Pembukaan TPA Lulut-Nambo, Pemkab Bogor Serahkan ke Pemprov Jabar

Rizky Adha Mahendra - detikNews
Selasa, 24 Mei 2022 12:47 WIB
TPA Cipayung Depok akan dipindah ke Tempat Pembuangan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional-Lulut Nambo. Begini kondisi terkini TPA tersebut.
Foto Ilustrasi TPA. (Grandyos Zafna/detikcom)
Bogor -

Kepala UPT Cipayung meminta Pemprov Jawa Barat (Jabar) segera membuka Tempat Pengelolaan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Lulut-Nambo karena sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Depok, Jawa Barat, sudah melebihi kapasitas. Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor menyerahkan segala urusan itu ke Pemprov Jabar.

"Kalau itu kewenangannya provinsi. Sudah ada PT JBL yang mengelolanya. Jadi kalau saat ini belum. Kabupaten Bogor itu hanya lokusnya saja," kata Kabid Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, Ismambar Fadli, saat dihubungi, Selasa (24/5/2022).

Fadli menegaskan pihaknya tidak berwenang melakukan pembukaan TPPAS Nambo. Dia menyebut Pemkab Bogor selama ini juga tidak diberi kompensasi dalam urusan sampah di TPPAS tersebut.

"Di dalam perjanjiannya tidak ada. Mentang-mentang Kabupaten Bogor jadi lokasinya, ada kompensasi yang lebih. Kewajibannya sama," jelasnya.

Fadli menyebut DLH Kabupaten Bogor terus berkoordinasi dengan DLH Jawa Barat (Jabar) terkait pengelolaan TPPAS Lulut-Nambo. Sebab, wilayah Kabupaten Bogor sendiri juga membutuhkan TPPAS tersebut.

Diberitakan sebelumnya, sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Depok, Jawa Barat, sudah melebihi kapasitas. Kepala UPT Cipayung meminta Pemprov Jawa Barat segera membuka TPPAS Lulut-Nambo.

"Kita mendorong provinsi agar Nambo segera membuka tempat pembuangan sampah (TPS)-nya," kata Kepala UPT Cipayung, Dadan Ardan Kurniawan, di Cipayung, Senin (23/5/2022).

Dadan mengatakan sampah di Kota Depok mencapai 1.100 ton dalam sehari. Ketinggian gunungan sampah di TPA Cipayung sudah mencapai 23 meter.

"Ketinggian rata-rata 23 meter. Kapasitas atau daya tampung TPA Cipayung itu 1,3 juta kubik. Sekarang sudah mencapai 2,5 juta kubik," ujarnya.

(rak/rak)