Analisis 'Parasocial Interaction' di Balik Militansi Fans K-Pop Bela Idola

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 20 Mei 2022 13:27 WIB
Canadian pop star Justin Bieber performs at a concert marking the end of the Formula One, in Jiddah, Saudi Arabia, Sunday, Dec. 5, 2021. (AP Photo/Amr Nabil)
Ilustrasi. Foto: AP/Amr Nabil
Jakarta -

Militansi fans K-Pop membela idolanya dengan mengumbar kemarahan di media sosial Twitter Space membuat heran sejumlah pengguna media sosial. Pertanyaan pun bermunculan, salah satu yang paling sering adalah: Kenapa seorang fans idol K-Pop mau sedemikian rupa membela idolanya hingga tak segan mengumbar emosi di ruang publik digital, padahal belum tentu yang dibelanya peduli, bahkan mengetahui keberadaan si fans?

Pakar komunikasi digital yang mengajar di Universitas Indonesia (UI), Firman Kurniawan, menjelaskan teori soal hubungan idola dengan penggemarnya. Firman menjelaskan soal 'parasocial'.

Pada konsep parasocial, kata Firman, terkandung 2 dimensi, yaitu parasocial relationship dan parasocial interaction. Konsep ini dikemukakan oleh Horton & Wohl pada 1982.

Parasocial relationship adalah suatu bentuk hubungan yang terjadi antara khalayak media massa: televisi, radio, tabloid, koran, media sosial, dengan personal yang ditampilkan oleh media massa itu, sebut saja para pesohor. Hubungan antara fans idol K-Pop dengan penggemarnya bisa dikategorikan dalam parasocial relationship.

Hubungan antara idola dengan penggemarnya ini disebut ilusi, sebagi bagian dari parasocial relationship. Dimensi lain dari parasocial relationship ini adalah parasocial interaction, yaitu suatu bentuk ilusi lanjutan yang muncul ketika para penggemar merasa telah berhubungan dengan idolanya, dan kemudian merasakan adanya ilusi interaksi.

"Adanya ilusi lanjutan ini menjadikan para penggemar mereka makin jadi bagian melekat para idola. Katakanlah ketika para penggemar mengomentari tatanan rambut personal boy band yang lebih baik, dan 'kebetulan' para personal kemudian menata rambutnya sesuai komen para penggemar, para penggemar ini merasa bahwa apa yang disampaikannya diperhatikan idolanya. Walaupun tak terjadi interaksi yang nyata, namun terdapat respons yang diharapkan. Inilah ilusi interaksi parasocial itu," ulas Firman saat berbincang, Jumat (20/5/2022).

Pakar Komunikasi UI Dr Ir Firman Kurniawan Sujono MsiPakar Komunikasi UI Dr Ir Firman Kurniawan Sujono Msi. Foto: Dok. Istimewa

Firman menekankan ilusi para penggemar ini bukan sesuatu yang dapat diabaikan, apalagi dianggap tak masuk akal. Terlebih saat ilusi ini terjadi pada sekelompok orang.

"Para penggemar itu demikian menghayatinya hubungan dan interaksinya. Adanya respons yang sesuai dimaknai sebagai adanya hubungan dan interaksi yang nyata dengan personal yang dikagumi. Hubungan dan interaksi ini senilai dengan hubungan tatap muka senyatanya. Hal yang penting, ilusi ini dialami oleh sekelompok orang, bukan 1-2 orang saja. Maka ketika idolanya dihina, diperlakukan tak sesuai harapan maupun standar, muncul rasa kolektif, idolanya dihina. Dan mereka dengan galak dan solid membela," ulas pria yang juga mengajar di Atma Jaya Jakarta ini.

Firman menjelaskan lebih jauh kenapa ilusi para penggemar ini tak bisa diabaikan apalagi dianggap tak masuk akal. Dia juga menekankan para penggemar yang ada di parasocial relationship-interaction ini juga tak bisa dianggap berlebihan.

Dia mengatakan parasocial relationship maupun parasocial interaction menghasilkan ilusi yang sama nyatanya dengan hubungan dan interaksi tatap muka. Rasa kekaguman yang dihasilkan oleh kedua proses itu kemudian menjadi bagian penting bagi hidup. Sama dengan seseorang yang membangun persahabatan di dunia nyata, makin lama makin erat.

"Interaksi menghasilkan sambung rasa. Simbol-simbol nonverbal dihayati sama jelasnya dengan simbol-simbol verbal. Maka ketika sahabat dihina, tentu akan menyebabkan sakit hati seseorang. Sahabat adalah bagian penting bagi hidup seseorang. Idola yang terbentuk oleh parasocial ini juga identik, sehingga penghayatnya tak bisa dianggap berlebihan," papar Firman.

Namun memang, Firman mengakui banyak fenomena yang menunjukkan penggemar bersikap berlebihan terkait idolanya, apalagi terkait dengan penghinaan. Dia pun memberikan saran untuk para penggemar agar tetap bisa bersikap rasional.

"Hanya saja, ketika kita melacak asal usul munculnya perasaan mengidolakan dari hubungan dan interaksi parasocial, ini kan bersumber dari hal yang tak rasional. Irasional. Banyak fenomena yang kita saksikan, seorang penggemar club bola tertentu tega menyakiti bahkan membunuh penggemar klub bola lainnya, ketika terjadi keadaan yang dipersepsi sebagai penghinaan. Maka, untuk mencegah keadaan yang tak menguntungkan, yang bersumber dari irasionalitas, perlu selalu mengingatkan para penggemar: hubungan maupun relasi yang dihayatinya tak benar-benar nyata. Idealnya, satu kaki tetap boleh mengidolakan, kaki lainnya harus tetap terpijak pada rasionalitas," pungkasnya.

(tor/imk)