Sudut Pandang Akademisi soal Heboh Fans K-Pop Umbar Kemarahan di Medsos

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 20 Mei 2022 11:33 WIB
ilustrasi smartphone
Ilustrasi komunikasi digital. Foto: Unspslah
Jakarta -

Perselisihan fans idol K-Pop di media sosial menjadi perhatian pengguna internet Indonesia (netizen) beberapa hari ini. Sebagian netizen heran dengan vulgarnya fans K-Pop mengumbar kemarahan terhadap seseorang yang menghina idola mereka. Fenomena apa yang terjadi?

Jika Anda adalah salah seorang pengguna Twitter aktif, bisa jadi Anda sudah terpapar juga dengan materi perselisihan fans K-Pop ini. Kehebohannya menjadi perhatian banyak pengguna Twitter, materi perselisihannya didokumentasikan, rekaman Twitter Space dipotong-potong menjadi beberapa bagian, dan ramai dibagikan berulang kali.

Bagi Anda yang mungkin belum terpapar, gambarannya kurang lebih seperti ini: Sekelompok fans idol K-Pop berselisih dengan seseorang, yang diduga masih remaja, dalam Twitter Space karena penghinaan terhadap idol mereka. Sebagian dari kelompok fans menyampaikan kemarahannya dengan nada tinggi, kata kasar, mengancam menyeret ke pengadilan, hingga membawa-bawa atribusi sosial yang melekat pada dirinya, seperti usia, relasi dengan tokoh politik dan aparat penegak hukum.

Pakar Komunikasi Digital yang mengajar di Universitas Indonesia (UI), Firman Kurniawan, menyampaikan analisisnya soal fenomena kelompok fans yang mengumbar kemarahan di ruang publik digital ini. Firman mengawali analisisnya dengan bicara temuan penelitian terkini soal dampak media sosial.

"Berbagai penelitian terkini, terutama yang bertema interaksi yang intensif dengan media sosial, menghasilkan temuan berupa munculnya berbagai ilusi dari para pengguna media sosial. Ilusi ini kemudian terepresentasi dalam relasi antara seorang pengguna media sosial, dengan pengguna media sosial yang lain," kata Firman saat berbincang, Jumat (20/5/2022).

Pakar Komunikasi UI Dr Ir Firman Kurniawan Sujono MsiPakar Komunikasi UI Dr Ir Firman Kurniawan Sujono Msi. Foto: Dok. Istimewa

Ilusi yang dimaksud Firman, misalnya, tentang diri yang berkuasa, atau tentang kesempurnaan hidup yang dihayati, bahkan sebagai korban kekejaman hidup. Aneka ilusi itu, dia melanjutkan, pada gilirannya menjadi dasar pijakan seseorang ketika berelasi dengan orang lain di media sosial.

"Pada kasus Safa yang dituduh menghina salah satu personal boy band oleh fans yang lain, rasa keterhinaan bersumber dari ilusi ini, rasa berkuasa. Dengan ilusi yang tak bisa dipisahkan kenyataan, sekelompok fans berhak menafsir, bagaimana cara seharusnya memperlakukan idola yang mereka cintai," ulas pria yang juga mengajar di Atma Jaya Jakarta ini.

Firman mengatakan, para fans yang merasa berhak menafsir ini, ketika ada pihak lain yang menunjukkan perlakuan terhadap idol mereka tak sesuai standar, muncul rasa terhina. Akibatnya, lagi-lagi dengan ilusi kekuasaan yang menjangkiti, pihak yang terhina ini merasa berhak menyerang pihak lain, diikuti paksaan untuk meminta maaf, tunduk terhadap persyaratan pihak yang merasa berkuasa. Nah, ilusi ini lah yang membuat heran pihak lain yang tidak memiliki minat berlebih terhadap K-Pop.

"Dalam kacamata eksternal, penonton yang tak terjangkiti ilusi, akan muncul pertanyaan: Apa urusannya satu pihak merasa lebih terhina dibanding pihak lain, satu pihak memaksa meminta maaf pihak lain, padahal yang dihina itu sendiri tidak peduli. Bahkan merasa terhina. Terlepas dari berlebihan atau tidak, tindakan pihak yang berilusi, fenomena ini adalah fakta yang perlu dijelaskan secara teoritis," ulas Firman.

Untuk menjelaskan perilaku 'tak terpikirkan' dari para fans K-Pop, Firman melanjutkan, terdapat tinjauan yang disebut parasocial. Pada konsep parasocial ini terkandung 2 dimensi, yaitu parasocial relationship dan parasocial interaction.

Firman menjelaskan konsep parasocial tersebut dikemukakan oleh Horton & Wohl 1982. Yang dimaksud parasocial relationship adalah suatu bentuk hubungan yang terjadi antara khalayak media massa: televisi, radio, tabloid, koran, (hari ini: media social) dengan personal yang ditampilkan oleh media massa itu. Sebut saja para pesohor.

"Dan dalam kasus Safa, hubungan yang terjadi antara penggemar boy band K-Pop sebagai khalayak media, dengan personal boy band, sebagai yang ditampilkan media. Apakah hubungan itu nyata? Tidak. Hanya ilusi. Sedangkan parasocial interaction, adalah suatu bentuk ilusi lanjutan yang muncul, di mana ketika para penggemar merasa telah berhubungan dengan idolanya, dan kemudian merasakan adanya ilusi interaksi," ujarnya.

Adanya ilusi lanjutan ini, kata Firman, menjadikan para penggemar mereka makin jadi bagian melekat para idola. Dia memberi contoh ketika para penggemar mengomentari tatanan rambut personal boy band yang lebih baik, dan 'kebetulan' para personal kemudian menata rambutnya sesuai komen para penggemar, para penggemar ini merasa bahwa apa yang disampaikannya diperhatikan idolanya. Walaupun tak terjadi interaksi yang nyata, namun terdapat respons yang diharapkan.

"Inilah ilusi interaksi parasocial itu. Namun demikian, ketika hanya ilusi yang terjadi, bukan berarti dapat diabaikan. Apalagi dianggap tak masuk akal. Para penggemar itu demikian menghayatinya hubungan dan interaskinya. Adanya respons yang sesuai, dimaknai sebagai adanya hubungan dan interaksi yang nyata dengan personal yang dikagumi. Hubungan dan interaksi ini senilai dengan hubungan tatap muka senyatanya. Hal yang penting, ilusi ini dialami oleh sekelompok orang. Bukan 1-2 orang saja. Maka ketika idolanya dihina, diperlakukan tak sesuai harapan maupun standar, muncul rasa kolektif, idolanya dihina. Dan mereka dengan galak dan solid membela," ulas Firman.

Lihat juga video saat 'Kampanye Trump Kena Prank Fans K-Pop dan Pengguna TikTok?':

[Gambas:Video 20detik]



(tor/imk)