Kolom

Fanatisme Penggemar K-Pop di Media Sosial

Chintia Putri Amelia - detikNews
Jumat, 20 Mei 2022 09:50 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Era media baru menjadikan banyak sekali platform media sosial lebih mudah diakses oleh siapapun. Twitter merupakan salah satu media sosial yang populer digunakan oleh berbagai kalangan dan dijadikan sebagai platform hiburan terutama bagi kalangan penggemar, baik itu yang menyukai idola dalam negeri maupun luar negeri. Bicara tentang penggemar, saat ini K-Pop menjadi bahasan yang paling mendominasi percakapan global di Twitter.

Berdasarkan data dari blog.twitter.com, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara dengan tweet terbanyak yang membicarakan tentang K-Pop. Para penggemar menggunakan media sosial Twitter untuk selalu terhubung dengan idola favorit mereka yang juga lebih sering memberikan update tentang kegiatan dan karya-karya mereka lewat Twitter.

Banyaknya artis K-Pop baru yang bermunculan juga menarik lebih banyak para penggemar baru untuk menggunakan Twitter. Selain karena para artis K-Pop lebih sering menggunakan Twitter dalam memberikan update mengenai kegiatan mereka, Twitter juga menyediakan fitur yang mudah dipahami dan tidak ada batasan dalam berkomentar pada media sosial ini, sehingga banyak penggemar yang nyaman menggunakannya.

Tidak adanya batasan dalam berkomentar memberikan reaksi dan juga menyukai suatu posting-an membuat para penggemar dapat melakukan interaksi satu sama lain dalam proses mengekspresikan rasa suka mereka terhadap sang idola.

Sangat Loyal

Kelompok penggemar suatu idol group memiliki identitas, dan kelompok ini biasa disebut fandom. Rasa suka mereka terhadap sang idola membuat kelompok penggemar ini dikenal sebagai kelompok yang sangat loyal terhadap idola mereka, berpartisipasi secara aktif dalam mendukung karya-karya yang diciptakan idola mereka, dan tidak segan-segan untuk mengeluarkan dana dalam jumlah besar guna mendukung keberhasilan idola mereka, seperti membeli album, merchandise, dan menonton konser.

Bagi kebanyakan orang, fandom K-Pop dikenal memiliki stereotip yang melekat dengan diri mereka, seperti misalnya fans yang berlebihan, obsesif, adiktif, dan juga konsumtif. Stereotip itu melekat pada diri mereka karena aktivitas mereka dapat dilihat pada sosial media, dan menurut kebanyakan orang yang tidak tergabung dalam suatu fandom, sikap mereka bisa disebut fanatik.

Fanatisme sendiri dapat diartikan sebagai suatu sikap atau perilaku ketika seseorang menunjukkan ketertarikan terhadap sesuatu secara berlebihan. Para penggemar secara terang-terangan menyatakan rasa cinta mereka kepada sang idola dengan membuat berbagai macam konten yang nantinya mereka upload di Twitter, seperti video edit, foto-foto, cover lagu sang idola, puisi, dan masih banyak lagi. Karya-karya tersebut mereka upload dengan menggunakan fungsi mention dan langsung ditujukan kepada akun sang idola.

Menurut saya, dapat terlihat perbedaan antara penggemar lama dan juga penggemar baru dalam cara mereka mengekspresikan rasa suka mereka terhadap sang idola. Stereotip fanatik ini biasanya terlihat dari para penggemar baru yang masih menggebu-gebu dan cenderung terhipnotis sehingga selalu memuja idola mereka selayaknya dewa. Jika diamati, penggemar lama cenderung lebih dewasa karena telah lebih banyak mengerti soal fandom dan kebiasaan-kebiasaan di dalamnya.

Dari cara mereka menghadapi hate comment juga berbeda. Terkadang ada joke yang dilontarkan dari fandom lain, bisa bersifat menjatuhkan maupun hanya sekadar candaan. Penggemar lama cenderung lebih pintar dalam menghadapi hal-hal tersebut; mereka membalas komentar-komentar dan joke dari fandom lain dengan sikap dewasa dan kata-kata yang baik. Sementara fans fanatik cenderung akan tersinggung dan nantinya menciptakan fanwar --keributan antara satu fandom dengan fandom lainnya.

Terbuka

Twitter adalah media sosial yang terbuka; siapapun dapat mengakses hal apapun dan tidak ada batasan di dalamnya, sehingga setiap perilaku dan kata-kata yang disampaikan seseorang bisa dilihat oleh orang lainnya, bisa dalam keadaan anonim maupun dengan identitas yang jelas. Biasanya akun Twitter fandom tidak mencantumkan identitas asli, melainkan nama samaran dan tidak juga menggunakan wajah asli sebagai foto profil akun.

Jika terjadi fanwar, penggemar fanatik tidak segan untuk membela artis idolanya tanpa memandang apakah idola mereka benar atau salah. Komentar negatif yang bersifat menjatuhkan artis lainnya juga sering ditemukan jika terjadi fanwar.

Twitter memiliki satu fitur khusus yaitu trending topic; pengguna bisa mengetahui hal yang sedang populer dibicarakan oleh pengguna lainnya. K-Pop sendiri sangat sering menjadi trending topic karena banyaknya penggemar yang menggunakan Twitter. Oleh sebab itu, jika terjadi fanwar dan audiens yang terlibat dalam fanwar cukup banyak, topik fanwar bisa menjadi trending dan menambah stereotip buruk pada penggemar K-Pop.

Seperti yang kita semua tahu, melontarkan kata-kata kasar yang sifatnya menjatuhkan orang lain adalah perbuatan buruk, apalagi dalam konteks bela idola. Sang idola sendiri tidak melakukan sikap yang menjadi trigger agar para fans membelanya habis-habisan sampai tega melakukan keributan dengan fans dari fandom lain.

Menurut saya, pada dasarnya setiap idola adalah sama; sama-sama berkarya, sama hebatnya, tidak ada yang lebih baik dan lebih buruk sampai pantas mendapatkan celaan dari para fans di luar fandom mereka. Semua idola sama-sama butuh dukungan. Jika dilihat dari sisi baiknya, penggemar fanatik ini memang sangat mendukung idola mereka dalam keadaan apapun. Namun, jika cara mendukungnya dengan saling melempar makian dengan fandom lain di media sosial, maka sebaiknya tidak usah menjadi fans fanatik, bukan? Cukup kagumi dan berikan support secukupnya terhadap idola.

Para idola K-Pop sama-sama menggunakan media sosial Twitter; mereka pastinya memantau kegiatan para fans mereka dalam upaya memberikan dukungan. Bisa kita bayangkan jika idola kita melihat fanwar yang terjadi, apalagi jika sampai masuk trending topic, bukankah itu memalukan? Bisa saja perlakuan dari penggemar yang fanatik ini malah membuat sang idola merasa sedih dan malu.

Sebaiknya, kita semua harus lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial; jadilah penggemar yang positif. Semua penggemar memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mendukung idola mereka. Akan lebih baik jika setiap fandom saling mendukung, agar tidak ada lagi stereotip bahwa fans K-Pop adalah fans fanatik.

(mmu/mmu)