Pesawat Asal Malaysia Dipaksa Mendarat di Batam Sudah Lanjutkan Penerbangan

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Kamis, 19 Mei 2022 05:16 WIB
TNI AU memerintahkan sebuah pesawat sipil asing VOR06 dari Malaysia untuk mendarat karena masuk wilayah Indonesia tanpa izin. Begini kronologinya. (dok Dispenau)
Foto: TNI AU memerintahkan sebuah pesawat sipil asing VOR06 dari Malaysia untuk mendarat karena masuk wilayah Indonesia tanpa izin. Begini kronologinya. (dok Dispenau)
Jakarta -

Pesawat asal Malaysia yang dipaksa mendarat di Batam karena masuk wilayah langit Indonesia tanpa izin, sudah dibolehkan melanjutkan penerbangan. Pesawat sipil tipe DA62 dengan registrasi G-DVOR itu diperbolehkan meninggalkan Indonesia setelah izin flight clearance (FC) terbit.

Kadispen TNI AU Marsma Indan Gilang mengatakan pesawat tersebut diizinkan melanjutkan penerbangan pada 16 Mei 2020. Pesawat asal Negeri Jiran itu lepas landas pukul 18.30 WIB.

"TNI AU, dalam hal ini Lanud HNM Batam telah mengizinkan pesawat melanjutkan penerbangan meninggalkan Batam menuju Johor Baru Malaysia, setelah FC terbit," kata Gilang saat dihubungi, Rabu (18/5/2022).

Gilang menyampaikan selama ditahan di Batam, crew pesawat tersebut telah menjalani proses administrasi dan pemeriksaan oleh PPNS dari Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah II Ditjen Hubud Kemenhub. Dia menyebut pemeriksaan terhadap operator pesawat masih berlangsung hingga pemberian sanksi.

"Pemeriksaan terhadap operator pesawat oleh PPNS sampai saat ini masih berlangsung, dan akan terus berproses sampai dengan pemberian sanksi," ujarnya.

Pemberian sanksi merujuk pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, Peraturan Pemerintah (PP) RI nomor 4 tahun 2018 tetang Pengamanan Wilayah Udara RI dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 27 Tahun 2021 Tentang Tata Cara Pengawasan dan Pengenaan Sanksi Administratif Terhadap Pelanggaran Peraturan Perundang-Undangan di Bidang Penerbangan.

Terbang Tak Berizin

Dari hasil pemeriksaan, penerbangan kemarin itu tersebut tidak dilengkapi dengan flight clearance (FC) dan flight approval (FA). Kemudian Lanud Hang Nadim, Batam, berkoordinasi dan melaporkan kejadian tersebut ke kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah II Medan untuk proses penyidikan lebih lanjut oleh pihak penyidik pegawai negeri sipil (PPNS).

Pada pemeriksaan tersebut tidak ditemukan barang-barang yang berbahaya atau barang-barang ilegal. Saat ini dukungan akomodasi makanan dan penginapan kru pesawat telah dikoordinasikan dengan pihak operator perusahaan pesawat.

Misi Kalibrasi Alat Bantu Navigasi

Pesawat milik sebuah perusahaan Malaysia ini tengah melaksanakan misi kalibrasi alat bantu navigasi pesawat oleh pilot perusahaan FCSL Inggris.

Marsma Indan mengatakan, sebagai negara yang berdaulat, Indonesia berkewajiban menjaga kedaulatan wilayahnya, termasuk wilayah udara. Tugas-tugas tersebut diperankan oleh TNI AU dengan melaksanakan patroli dan pengawasan wilayah udara yurisdiksi nasional, baik menggunakan radar hanud maupun pesawat tempur sergap.

"Apa yang terjadi di Lanud Hang Nadim, Batam, menunjukkan tingginya kesiapsiagaan TNI AU dalam menjaga setiap jengkal wilayah udara nasional. Kita tidak akan toleransi terhadap setiap bentuk pelanggaran wilayah udara," ujar Marsma Indan.

Lihat juga video 'Detik-detik Kecelakaan Tibet Airlines di China, Pesawat Terbakar Hebat':

[Gambas:Video 20detik]



(dek/zak)