Pegawai Bea Cukai Soetta Jadi Saksi Kasus Pemerasan

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Rabu, 18 Mei 2022 21:20 WIB
Kasus dugaan korupsi pemerasan di Kantor Pelayanan Umum (KPU) Bea Cukai Soekarno Hatta dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi. Satu saksi petugas fungsional Bea Cukai cerita bagaimana pemeriksaan dokumen untuk impor barang.
Kasus dugaan korupsi pemerasan di Kantor Pelayanan Umum (KPU) Bea Cukai Soekarno Hatta dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi. Satu saksi petugas fungsional Bea Cukai cerita bagaimana pemeriksaan dokumen untuk impor barang. (Bahtiar/detikcom)
Jakarta -

Kasus dugaan korupsi pemerasan di Kantor Pelayanan Umum (KPU) Bea Cukai Soekarno-Hatta dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi. Satu saksi petugas fungsional Bea Cukai bercerita bagaimana pemeriksaan dokumen untuk impor barang.

Saksi yang dihadirkan adalah saksi fakta untuk dua terdakwa eks pejabat Bea Cukai Soetta Qurnia Ahmad Bukhari dan Vincentius Istiko Murtiadji. Saksi Firul Zubaid Affandi adalah petugas yang meneliti dokumen barang kiriman impor.

Kepada majelis yang dipimpin Slamet Widodo, Firul mengatakan tugas penelitian dokumen barang impor dilakukan pada setiap perusahaan jasa titipan yang ada di Soetta. Secara struktur pekerjaan, ia tidak ada hubungan baik dengan terdakwa Qurnia maupun Istiko.

Namun, ia pernah memeriksa dokumen barang impor dari perusahaan PT Sinergi Karya Kharisma (SKK) maupun PT Eldita Sarana Logistik (ESL). Meski di pemeriksaan ada temuan itu, bentuknya official assessment dan tidak ada kaitan dengan sanksi.

"Jika ada dokumen yang salah kami perbaiki, biasanya nilai pabean terlalu rendah, beratnya kurang, atau HS code-nya salah kami perbaiki untuk kemudian kami tetapkan surat pengeluaran barang sekaligus tagihannya," kata Firul kepada majelis hakim Pengadilan Tipikor Serang, Rabu (18/5/2022).

Salah satu temuan di PT SKK, misalnya, ada barang yang seharusnya 15 dolar ditulis di dokumen 3 dolar. Itu ia periksa dengan mencari referensi.

"Terutama yang sering nilai pabean, kalau uraian tadi uraiannya suka terlalu generik, umum. Yang saya ingat tadi SKK seperti itu," ujarnya.

Satu saksi lain, Miftakhul Awal, PNS Bea Cukai di Seksi Kepabeanan dan Cukai 1, yang melakukan monitoring evaluasi ke perusahaan jasa titipan. Tugasnya adalah memeriksa daftar lapangan berdasarkan kertas kerja dari kepala Bea Cukai.

Monev itu, katanya, termasuk pada perusahaan PT SKK dan ESL. Tapi, berdasarkan hasil monitoring dua perusahaan itu sudah sesuai.

Hakim Novalinda Arianto kemudian membacakan BAP saksi Miftakhul pada pemeriksaan jaksa. Di BAP saksi menyebut bahwa pemeriksaan ke PT SKK memenuhi kriteria sebagai perusahaan jasa titipan dan perusahaan tempat penampungan sementara. Tapi ada beberapa catatan pada perusahaan ini.

"Karena ada catatannya dan apakah setiap yang diklasifikasi memang persyaratannya harus ada catatan? Memang seperti itu?" tanya hakim.

"CCTV-nya sudah sudah ada, (catatan) misalnya tapi ternyata posisinya kurang pas atau angle-nya kurang pas. itu jadi catatan untuk memperbaiki," ujarnya menjawab.

Namun, catatan itu tidak bisa disebut kategori sebagai perusahaan jasa titipan yang tidak memenuhi syarat di Soetta.

Simak juga 'Diduga Pungli Rp 1,7 M, Pegawai Bea Cukai Bandara Soetta Dipecat':

[Gambas:Video 20detik]




(bri/aik)