Nirina Zubir Bakal Bersaksi, Begini Siasat Mafia Tanah Bikin Rugi Rp 12 M!

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 17 Mei 2022 12:14 WIB
Nirina Zubir hadiri sidang mafia tanah di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.
Nirina Zubir (Ahsan/detikHOT)
Jakarta -

Nirina Raudhaful Jannah Zubir atau yang lebih dikenal dengan nama Nirina Zubir bakal bersaksi dalam perkara dugaan mafia tanah di Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar). Nirina merupakan saksi pelapor yang memperjuangkan tanah-tanah milik almarhumah ibunya, Cut Indria Martini, yang ternyata diambil alih orang lain.

"Iya akhirnya yang ditunggu akhirnya datang juga kita masuk ke persidangan," ujar Nirina Zubir di PN Jakbar, Selasa (17/5/2022).

Sidang sendiri belum digelar. Namun Nirina berharap kesaksiannya nanti dapat membantu proses persidangan sehingga para terdakwa dapat dihukum seberat-beratnya.

"Intinya bahwa kita berharapnya semoga vonisnya seberat-beratnya dan setinggi-tingginya karena kan mudah-mudahan ini jadi beri efek jera buat orang yang tau hukum, tapi menyalahgunakan hukum itu sendiri," ucap Nirina.

"Jadi untuk hukum notaris ini tidak ada lagi gitu dan lebih hati-hati lagi sehingga tidak mudah terjadi kasus seperti ini lagi," sambungnya.

Dalam perkara ini, setidaknya ada 5 orang yang duduk sebagai terdakwa, yaitu:

1. Riri Khasmita
2. Edirianto
3. Faridah
4. Ina Rosalina
5. Erwin Riduan

Riri Khasmita sebelumnya adalah orang yang dipercaya ibu Nirina untuk menjaga usaha kos-kosannya. Edirianto adalah suami dari Riri Khasmita. Sedangkan 3 nama lainnya adalah sebagai notaris dan pejabat pembuat akta tanah atau PPAT.

Kelimanya diadili dalam berkas terpisah, yaitu Riri Khasmita bersama Edirianto, Faridah dengan Ina, sedangkan Erwin didakwa dalam berkas tersendiri.

Duduk Perkara

Sidang perdana pembacaan dakwaan terhadap kelimanya sudah dilaksanakan pada April 2022. Dari surat dakwaan yang diterima detikcom, disebutkan bahwa mereka didakwa dengan pasal pemalsuan surat hingga tindak pidana pencucian uang atau TPPU.

Perkara bermula pada 2015 saat Cut Indria selaku ibu dari Nirina Zubir bercerita pada Riri Khasmita tentang 6 Sertifikat Hak Milik atau SHM atas tanah miliknya yang belum dibayarkan pajaknya. Cut Indria meminta Riri Khasmita menanyakan proses pengurusan pembayaran pajak itu tanpa memberikan SHM pada Riri Khasmita.

"Bahwa sejak mengetahui almarhumah Cut Indria Martini mempunyai banyak aset tanah dengan Sertifikat Hak Milik tersebut, maka timbul niat jahat (mens rea) terdakwa Riri Khasmita untuk menguasai semua Sertifikat Hak Milik Cut Indria Martini tersebut," ucap jaksa.

Rencana jahat itu disampaikan Riri Khasmita ke Edirianto yang merupakan suaminya. Mereka kemudian mengambil 6 SHM yang disimpan di dalam koper milik Cut Indria, selanjutnya menemui Faridah untuk berkonsultasi bagaimana cara agar SHM itu dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan uang.

"Atas petunjuk Faridah, 6 SHM keluarga almarhumah Cut Indria Martini diserahkan kepada Faridah untuk dilakukan penerbitan Akta Jual Beli sehingga kepemilikannya menjadi atas nama Riri Khasmita dan Edirianto selanjutnya setelah dialihkan barulah bisa dijual atau digadaikan ke bank agar mendapatkan uang dengan cepat," ucap jaksa.

Terkait pengurusan pajak hingga penerbitan AJB atau Akta Jual Beli itu, Riri Khasmita mengaku tidak memiliki biaya atau modal. Atas hal itu Faridah menyiapkan penyandang dana yaitu sebagai berikut:

1. Mochamad Max Alatas selaku brokes memberikan Rp 500 juta untuk pembayaran pajak 2 SHM;
2. Rey Alexander Putra memberikan Rp 650 juta; dan
3. Moch Syaf Alatas memberikan Rp 400 juta.

Setelahnya, satu per satu AJB untuk 6 SHM itu diurus Faridah bekerja sama dengan Ina Rosaina selaku PPAT serta dibantu Erwin Riduan. Semua proses itu diatur sedemikian rupa menyalahi aturan yang ada.

"Seolah-olah pihak pemilik Sertifikat Hak Milik tersebut telah datang ke kantor notaris menghadap notaris Faridah selaku PPAT dan notaris Ina Rosaina selaku PPAT melakukan proses jual-beli seolah-olah benar kedua belah pihak itu nyata adanya dan seolah-olah telah membawa dokumen minta dibuatkan Akta Jual Beli, seolah-olah akta tersebut dibacakan di hadapan kedua belah pihak," ucap jaksa.

"Kemudian Riri Khasmita dan Edirianto menandatangani akta tersebut sedangkan pihak penjual ditandatangani orang lain yang difigurkan, sehingga terbitlah Akta Jual Beli yang dibuat di hadapan Faridah dan Ina Rosaina dan seolah-olah telah dilakukan proses transaksi jual-beli yang benar antara penjual dengan pembeli, padahal semuanya itu tidak pernah terjadi dan Riri Khasmita dan Edirianto tidak mengeluarkan uang sedikit pun untuk membayar pembelian atas tanah-tanah yang dijual tersebut, demikian juga penjual tidak pernah sedikit pun menerima pembayaran dari jual beli tersebut, bahkan pemilik Sertifikat yang dibuatkan Akta Jual Belinya tidak mengetahui hal itu," imbuhnya.

Satu per satu SHM itu dijaminkan untuk mendapatkan uang. Seperti apa aksi mereka selanjutnya?

Tonton video 'Nirina Zubir Hadiri Sidang Perdana Kasus Mafia Tanah':

[Gambas:Video 20detik]



Silakan ke halaman berikutnya.