Perspektif

Nikuba Cirebon 'Penyulap' Air Jadi Bahan Bakar Perlu Disikapi Skeptis

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 13 Mei 2022 18:41 WIB
Nikuba, alat pengonversi air menjadi bahan bakar
Nikuba (Ony Syahroni/detikJabar)
Jakarta -

Alat bernama Nikuba menyedot perhatian publik nasional. Alat itu diklaim penciptanya mampu 'menyulap' air menjadi bahan bakar kendaraan bermotor. Pakar menilai masyarakat perlu skeptis terhadap temuan-temuan dahsyat ini.

Sebelum Nikuba lahir, ada temuan-temuan sejenis yang muncul lebih dulu ke publik nasional. Pada Mei 2008 di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), masyarakat heboh oleh Blue Energy, yang digagas Djoko Suprapto dan kawan-kawan. Akhirnya Joko Suprapto sempat menghilang dari hadapan publik. Selanjutnya, Djoko Suprapto malah divonis penjara dalam kasus penipuan proyek Pembangkit Listrik Mandiri (PLM) Jodhipati.

Penemuan sejenis yang disebut sebagai Banyugeni sempat membuat UGM sangsi saat menerima presentasi pada 2006. Saking ragunya, akademisi UGM saat itu malah berseloroh bahwa itu adalah Pembangkit Listrik Tenaga Jin (PLTJ).

Kini, tahun 2022, Nikuba muncul. Harapan masyarakat terpantik. Ini adalah karya anak bangsa yang perlu didukung, tentu saja. Nikuba adalah singkatan dari 'Niku Banyu' atau 'Ini Air'. Diklaim mampu mengonversi air menjadi hidrogen untuk bahan bakar kendaraan bermotor. Pembuat Nikuba adalah Aryanto Misel di Kabupaten Cirebon.

Kabarnya Nikuba sudah dipasang di 31 unit kendaraan dinas TNI. Kata Aryanto Misel, Nikuba hendak diuji di Universitas Pertahanan (Unham).

Perlu Skeptis

Peneliti ahli madya Pusat Riset Material Maju Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Deni Shidqi Khaerudini, menanggapi Nikuba. Masyarakat perlu skeptis atau bersikap kritis terhadap kemunculan Nikuba atau alat sejenis.

"Tentu saja karya inovasi apa pun perlu didukung. Tapi, sekali lagi, lebih baik dan bijak untuk menghindari over-claim," kata Deni Shidqi Khaerudini, membagikan perspektifnya kepada detikcom, Jumat (13/5/2022).

Penemuan atau inovasi apa pun perlu ditelusuri secara ilmiah, terukur, dan terkonfirmasi. Lembaga riset dan universitas yang memiliki kompetensi dapat menjadi rujukan konfirmasi.

"BRIN sendiri selalu terbuka untuk kolaborasi dengan pihak mana pun, seperti kampus, industri, atau pemangku kepentingan terkait," kata Deni Shidqi Khaerudini.

Nikuba, alat pengonversi air menjadi bahan bakarNikuba, alat pengonversi air menjadi bahan bakar (Ony Syahroni/detikJabar)

Besar Pasak daripada Tiang

Sejauh ini, pengubahan air menjadi bahan bakar dapat disimpulkan sementara bak peribahasa 'besar pasak daripada tiang'. Secara teori, air atau H2O perlu dipisahkan unsur hidrogen dan oksigennya. Unsur hidrogen itulah yang kemudian dapat dipakai menjadi bahan bakar. Proses pemisahan ini disebut sebagai elektrolisis.

Proses 'menceraikan' hidrogen dan oksigen dalam H2O perlu dilakukan menggunakan bahan katalisator tertentu, misalnya natrium hidroksida (NaOH) atau kalium hidroksida (KOH). Dengan bantuan energi listrik, hidrogen dan oksigen dapat dipisah. Namun energi yang dibutuhkan untuk memisahkan hidrogen dan oksigen ini lebih besar ketimbang energi yang dihasilkan lewat pemisahan itu.

"Secara umum, energi input selalu lebih besar dari energi output," kata Deni Shidqi Khaerudini.

Jadi masih butuh listrik untuk memisah hidrogen dan oksigen dalam H2O. Listriknya bisa dari aki atau sumber daya lainnya.

"Masalahnya, elektrolisis ini prosesnya memakan banyak sekali listrik," kata Deni.

Dia menjelaskan, electrolyzer (alat elektrolisis) dengan efisiensi 100 persen membutuhkan 39,4 kWh listrik untuk menghasilkan 1 kg hidrogen. Aki motor memiliki kapasitas penyimpanan listrik sekitar 60 Wh. Padahal efisiensi 100 persen dari electrolyzer adalah hal yang mustahil. Namun, bila diasumsikan efisiensi 100 persen, motor konversi electrolyzer cuma mampu menghasilkan energi sebesar 0,216 MJ (megajoule) atau 0,06 kWh sebelum baterainya habis. Bandingkan hasil energi yang dihasilkan sebesar 0,06 kWh dengan hasil energi yang dibutuhkan sebesar 39,4 kWh.

Bila pakai bensin dengan kapasitas tangki 3,7 liter, energi yang dihasilkan bisa 585 kali lebih besar ketimbang memakai elektrolisis air tadi.

"Elektrolisis hidrogen adalah proses superboros energi dan tidak dapat menjadi alternatif lebih baik daripada bensin untuk sepeda motor. Atau jodoh H2 sendiri memang bukan untuk mesin bakar (ICE), tapi harus menggunakan konversi lain, yaitu fuel cell dan motor listrik," kata Deni.

Semacam Suplemen untuk BBM?

Sebelumnya, profesor riset BRIN Eniya Listiani Dewi sempat menjelaskan bahwa alat Nikuba itu sebetulnya tidak menggantikan BBM, melainkan sekadar sebagai 'suplemen' BBM.

"Itu adalah HHO atau brown-gas yang digunakan untuk pembakaran, bukan pengganti BBM ya, tapi bisa untuk efisiensi BBM sekitar 3-20 persen," kata Eniya Listiani Dewi Profesor Riset BRIN saat dihubungi detikJabar, Senin (9/5).

Eniya juga mengungkapkan proses elektrolisis dari Nikuba buatan Aryanto bukan proses elektrolisis murni yang mampu menghasilkan gas hidrogen. Menurutnya, Nikuba hanya menghasilkan reaksi kimia dari stainless steel.

Nikuba, alat pengonversi air menjadi bahan bakarNikuba, alat pengonversi air menjadi bahan bakar (Ony Syahroni/detikJabar)

Jika dia lihat dari pemberitaan mengenai alat Nikuba buatan Aryanto, Eniya memperkirakan bahwa motor yang dipasangi alat tersebut tetap masih menggunakan BBM. Namun, dengan Nikuba, sistem pembakaran sepeda motor akan jauh lebih sempurna.

"Sebetulnya ini sudah banyak ya generator untuk membuat HHO tadi, sudah banyak dijual di pasaran itu. Sudah banyak yang buat juga secara otodidak karena teori lama ini," pungkas Eniya.

Lihat juga Video: Kisi-kisi Pengganti Anies Baswedan yang Diungkap Tito Karnavian

[Gambas:Video 20detik]



(dnu/tor)