Sukses Mudik 2022, Perpaduan Kesiapan Infrastruktur dan Kejelian Rekayasa Lalin

Audrey Santoso - detikNews
Kamis, 12 Mei 2022 15:17 WIB
Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera terus berjalan meski pandemi COVID-19 melanda. Intip Yuk, sejumlah proyek yang sedang berjalan.
Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (Foto: dok. PT Hutama Karya (Persero))
Jakarta -

Pengamat transportasi dan tata ruang, Yayat Supriatna, mengatakan pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah menjadi salah satu kunci kegiatan mudik dan arus balik 2022 berjalan dengan baik. Pembangunan infrastruktur, kata Yayat, juga mengubah perilaku masyarakat.

"Infrastruktur itu ibaratnya struktur, menjadi struktur ruang, struktur pembentuk wilayah, dan struktur pembentuk kota. Nah, sekarang struktur yang membentuk perilaku. Sekarang yang terjadi pembangunan infrastruktur yang dilakukan sangat membuat kota semakin dekat, dari sisi waktu jarak dan lebih efisien dari sisi biaya," kata Yayat kepada wartawan, Kamis (12/5/2022).

"Jadi kekuatan infrastruktur berkaitan dengan keberhasilan mudik itu adalah, karena infrastruktur itulah yang membuat konektivitas atau aksesibilitas selama mudik Lebaran itu menjadi lebih mudah dan lebih cepat. Bisa dikatakan bahwa keberhasilan itu dari pembangunan infrastruktur," imbuh Yayat.

Yayat menyebut pembangunan infrastruktur Tol Trans Jawa membuat cerita-cerita horor mudik menjadi hilang. Dia lantas bersyukur, pembangunan Tol Trans Jawa kini rampung.

"Nah, kita bayangkan ketika Jalan Tol Trans Jawa belum selesai, itu bagaimana mudik itu menjadi cerita horor. Kita punya kisah-kisah sedih tentang Brexit (macet panjang di Gerbang Keluar Tol Brebes pada 2017), di masa lalu tahun 1990-an atau di awal tahun 2000-an, mudik itu selalu penuh dengan kisah-kisah drama," tutur Yayat.

Dulu, Yayat mengatakan, kemacetan lalu lintas saat mudik bisa terjadi berhari-hari. Hal ini karena volume kendaraan tidak bisa diatur. Ditambah kecelakaan lalu lintas.

"Jadi mudik itu kalau di Pantura (jalur Pantai Utara Jawa) bisa menjadi cerita panjang, waktu yang kadang menjadi masalah. Kemudian macetnya bisa berhari-hari karena memang tidak ter-manage, kemudian ditambah dengan persoalan lain yang membuat mudik itu menjadi cerita sedih. Yaitu apa? Korban kecelakaan lalu lintas," ungkap Yayat.

Menurut Yayat, mudik saat ini diatur dengan baik. Hadirnya jalan tol yang menghubungkan kota satu dengan lainnya membuat lalu lintas dapat diatur.

"Tetapi dibandingkan dengan di masa lalu, di masa sebelum ada Tol Trans Jawa maupun tol Trans Sumatera, saat ini lebih bisa ter-manage. Dulu itu perjalanan mudik itu bisa membuat persoalan lalu lintas begitu bermasalah," terang Yayat.

"Sehingga energi yang dikeluarkan pun menjadi lebih besar untuk mengatasi masalahnya. Bisa dikatakan perjalanan mudik di masa lalu itu lebih sulit ter-manage. Sulit diatur karena jalan yang bisa ditata, dikelola itu kan jalan tol," sambung Yayat.

Yayat menjelaskan, polisi dan pihak pengelola jalan tol dapat berkoordinasi untuk meminimalkan risiko kemacetan. Koordinasi dan informasi seputar situasi di jalan tol, lanjut Yayat, pun terlaksana.

"Jalan tol itu adalah jalan yang ter-manage. Bisa diatur, bisa direkayasa, bisa diantisipasi karena ada teknologi informasi. Karena Jasa Marga punya command center tolnya yang menjadi pemandu bagi polisi untuk bertindak mengeksekusi berdasarkan kekuatan informasi. Yang masuk berapa, kapan one way itu diberlakukan, kapan dibuat contraflow, itu berbasis data," ujar Yayat.

Yayat juga mengatakan mudik tahun ini berjalan baik lantaran cara bertindak dan pengambilan keputusan dilandasi hasil kajian. "Dan keberhasilan mudik tahun ini karena ada kajian akademisnya yang dibuat oleh Kementerian Perhubungan. Perkiraan mudik 80 juta orang, kemudian rekayasa lalu lintas yang harus dilakukan," sambung Yayat.

Yayat menilai kesiapan infrastruktur yang baik membuat pemerintah percaya diri dapat mengatur arus mudik lebih baik lagi. "Jadi kalau pelabuhannya siap, jalan siap, rest area siap, dukungan infrastruktur siap, bisa lebih tegas lagi untuk diambil keputusan," sebut Yayat.

Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti  -- Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumay (22/4/2016)Pengamat transportasi dan tata kota, Yayat Supriatna, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (22/4/2016). (Ari Saputra/detikcom)

Apresiasi Kemajuan Pembangunan

Yayat mengapresiasi pembangunan infrastruktur yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh pemerintah. Pembangunan tol, pelabuhan, dan bandara, lanjut Yayat, merupakan suatu kemajuan.

"Jadi sebetulnya tinggal mengatur masyarakatnya saja. Karena fasilitasnya sudah ada dan sudah tersedia. Dengan adanya pembangunan tambahan tol yang semakin banyak, kemudian pembangunan pelabuhan penyeberangan yang semakin bagus, semakin besar daya tampungnya itu menjadi sebuah kemajuan yang perlu kita apresiasi," ungkap Yayat.

Dia berharap pelaksanaan mudik di waktu mendatang dapat lebih sistematis dan efisien untuk masyarakat.

"Dengan banyaknya bandara yang akan dibangun, otomatis akan membuat kapasitas daya tampungnya menjadi lebih baik lagi. Jadi sebetulnya infrastrukturnya sudah cukup baik sekarang ini. Tinggal bagaimana membantu proses pelaksanaannya supaya lebih tertib lebih terstruktur dan lebih efisien," imbuh Yayat.

Petugas kepolisian berjaga di Gerbang Tol Kalikangkung, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (30/4/2022). Volume kendaraan arus mudik Tol Trans Jawa Batang-Semarang dari arah Jakarta yang memasuki Gerbang Tol Kalikangkung menuju ke sejumlah wilayah di Jateng dan Jatim pada H-5 Lebaran hingga pukul 16:00 WIB terpantau lancar terkendali. ANTARA FOTO/Aji Styawan/YUPetugas kepolisian berjaga di Gerbang Tol Kalikangkung, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (30/4/2022). Volume kendaraan arus mudik Tol Trans Jawa Batang-Semarang dari arah Jakarta yang memasuki Gerbang Tol Kalikangkung menuju ke sejumlah wilayah di Jateng dan Jatim pada H-5 Lebaran hingga pukul 16:00 WIB terpantau lancar terkendali. (ANTARA FOTO/Aji Styawan)

Harapan Kesiapan Mudik 2023 Makin Terencana

Dengan keberhasilan kegiatan mudik dan arus balik tahun ini, Yayat berharap rencana pemerintah pada tahun depan lebih bagus lagi. Yayat menerangkan, jika situasi pandemi COVID-19 membaik, bahkan menjadi endemi, tak tertutup kemungkinan jumlah pemudik akan semakin banyak.

"Ke depannya dengan adanya jalan yang semakin bagus, kita berharap mudik itu menjadi mudik yang terencana. Maksudnya persiapan mudik tahun depan diharapkan itu mungkin tidak hanya persoalan transportasinya, tetapi bagaimana rekayasa terkait hari liburnya," kata Agus.

Dia mencontohkan, semisal kebijakan cuti yang semakin panjang atau diberlakukan work from home (WFH) tiga hari atau sepekan sebelum musim mudik. Sehingga waktu masyarakat untuk melakukan mudik lebih longgar.

"Jadi kalau biasa 7 hari, bisa tidak diperpanjang 10 hari. Tapi dengan ketentuan pada menjelang Lebaran itu, tiga hari sebelumnya, sudah mulai WFH saja. Atau seminggunya itu sudah diberlakukan WFH. Seminggu sebelum hari raya karyawan, ASN, itu sudah bisa melakukan perjalanan dengan waktu yang lebih longgar. Tidak mepet di dua, tiga hari menjelang Lebarannya," terang Yayat.

(aud/fjp)