Wujud Keseriusan RI Atasi Perubahan Iklim Lewat FoLU Net-Sink 2030

Hanifa Widyas - detikNews
Kamis, 12 Mei 2022 15:27 WIB
KLHK
Foto: KLHK
Jakarta -

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong mengatakan inisiasi 'Indonesia FoLU Net-Sink 2030' merupakan wujud keseriusan Indonesia dalam mengurus isu perubahan iklim. Komitmen tersebut merupakan pencanangan pencapaian penurunan penggunaan lahan lainnya atau FoLU (Forestry and other Land Use) dan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sektor kehutanan.

Terkait pada tahun 2030, lanjutnya, suatu kondisi tingkat serapan sudah berimbang atau bahkan lebih tinggi dari tingkat emisi sektor FoLU. Salah satu langkah maju dari sektor FoLU adalah keluarnya Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 168 tentang FoLU NetSink 2030 untuk pengendalian perubahan iklim pada tanggal 24 Februari 2022.

"Melalui Kepmen LHK Nomor 168 Tahun 2022 ini, pemerintah menunjukkan keseriusan untuk mengusung konsep 'Indonesia FoLU Net Sink 2030' sebagai sebuah pendekatan dan strategi di mana pada tahun 2030, tingkat serapan emisi sektor FoLU ditargetkan sudah berimbang atau lebih tinggi dari pada tingkat emisinya (Net Sink)," papar Alue dalam keterangan tertulis, Kamis (12/5/2022).

Alue Dohong mengatakan sektor FoLU ditargetkan sudah dapat menyerak GRK bersamaan dengan kegiatan penurunan emisi GRK dari aktivitas transisi energi atau dekarbonisasi serta kegiatan eksplorasi sektor lainnya, tidak terkecuali sektor pertanian, setelah tahun 2030.

"Dengan komitmen sektor FoLU yang ditargetkan dapat menurunkan hampir 60% dari total target penurunan emisi nasional, diharapkan ini dapat menjadi pondasi atau landasan untuk mencapai netral karbon/net-zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat," tegas Alue.

Sementara itu, Pemerintah juga telah menyusun Strategi Implementasi NDC pada tahun 2017 dan ditindaklanjuti dengan penyusunan Road Map NDC Mitigasi pada tahun 2019. Pemerintah Indonesia juga menyampaikan update NDC dan menyusun strategi jangka panjang pembangunan rendah karbon berketahanan iklim (Long Term Strategy Low Carbon and Climate Resilience 2050 atau LTS-LCCR 2050) pada tahun 2021.

Strategi tersebut telah disampaikan ke Sekretariat UNFCCC pada Juli 2021 sebelum pelaksanaan COP 26 UNFCCC di Glasgow pada November 2021 lalu. Penyampaian ini sesuai dengan Keputusan 1/CP.21 Pasal 4 Ayat 19 UNFCCC yang memandatkan negara yang meratifikasi Paris Agreement untuk menyusun rencana jangka panjang rendah emisi karbon berketahanan iklim (LTS-LCCR).

"Bapak Presiden Jokowi juga telah menyampaikan target Indonesia untuk mencapai Net-Zero Emission pada tahun 2060 atau sedapat-dapatnya lebih awal. Arahan Bapak Presiden kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sangat jelas, bahwa kita menjanjikan yang bisa kita kerjakan, tidak boleh hanya retorika, karena kita bertanggung jawab pada masyarakat kita sendiri sebagaimana dijamin dalam UUD 1945," imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartato menyampaikan pengendalian perubahan iklim juga menjadi bagian dari agenda G20, salah satunya adalah transisi energi.

"Di dalam transisi energi terkait juga dengan pembangunan rendah karbon. Pemerintah Indonesia sedang mempersiapkan selain untuk upaya pencapaian target penurunan emisi juga perolehan dukungan finansial yang bisa mempercepat energi rendah karbon," ungkap Airlangga.

Airlangga mengatakan untuk pembangunan lain berbasis hijau, pemerintah juga mendorong carbon capture dan storage di samping adanya transisi energi. Pembangunan ini termasuk di dalamnya industri berbasis gasifikasi, seperti yang ada di Sumsel dan Kaltim. Selain itu, akan dibangun prototype carbon capture dan storage di Pulau Jawa.

"Diharapkan kita bisa menghitung nilai serapan karbon yang dihasilkan sehingga target penurunan emisi 29% tahun 2030 dapat segera tercapai," jelas Airlangga.

Turut hadir dalam webinar ini Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Ego Syahrial, Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR Diana Kusumastuti, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kemenperin Doddy Rahadi, dan perwakilan dunia usaha serta peserta webinar.

(akn/ega)