ADVERTISEMENT

Wujudkan FOLU Net Sink 2030, Menteri LHK Minta Sinergitas Semua Pihak

Atta Kharisma - detikNews
Senin, 04 Apr 2022 22:30 WIB
KLHK
Foto: KLHK
Jakarta -

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya meminta seluruh jajaran dan stakeholder terkait untuk bekerja sama mewujudkan operasionalisasi Indonesia's Forest and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 lewat langkah kerja yang simultan, paralel, dan terintegrasi. Indonesia's FOLU Net Sink 2030 merupakan skenario penurunan 60% emisi Gas Rumah Kaca (GRK) nasional lewat pengurangan GRK di sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya.

"Saya secara khusus ingin memesankan dan sangat keras saya ingatkan bahwa tidak ada langkah dari setiap unit yang tidak terkoordinasikan dalam sistem kerja FOLU Net Sink ini," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (4/4/2022).

Hal ini ia sampaikan dalam Workshop Konsolidasi Indonesia's FOLU Net Sink 2030 yang dilakukan secara daring dan luring dari Jakarta. Dalam kesempatan ini, Siti meminta kepada jajarannya untuk tidak membuat kerjasama dengan pihak manapun tanpa mempertimbangkan dan sepengetahuan sistem kerangka kerja FOLU Net Sink ini.

Hal ini bertujuan agar seluruh kegiatan yang berkaitan dan mempengaruhi kondisi karbon hutan/lahan dan karbon lainnya di Indonesia mengikuti koridor aturan Nasional Republik Indonesia, sekaligus membantu pihak-pihak yang akan bekerja karbon agar berada dalam koridor hukum. Pada dasarnya, membantu agar tidak ada kesalahan dan tidak ada kegiatan yang di luar ketentuan yang diatur.

"Semua harus dalam kerangka Renops FOLU, sehingga pekerjaan dan hasilnya bisa diukur dengan tata cara ukuran yang sama, sebab selalu yang dipersoalkan adalah bagaimana measurement nya, bagaimana mengukurnya, dan tidak boleh terjadi double counting karbon karena itu bila meleset akan mencelakai bumi ini," tegasnya.

Siti meminta jajarannya di pusat dan daerah serta stakeholder terkait harus mengikuti Rencana Operasional (Renops) Indonesia's FOLU Net Sink 2030 yang disusun dengan tiga prinsip. Ketiga prinsip tersebut adalah sustainable forest management, environmental governance, dan carbon governance, demi mewujudkan langkah kerja pengendalian perubahan iklim secara nasional.

"Ini juga saya minta akan menjadi instrumen, bahwa kita bekerja dalam satu derap, dalam satu keselarasan langkah KLHK, BRGM dan semua unit-unit kerjanya yang di lapangan. Itu sebetulnya yang paling penting," imbuhnya.

Rencana Operasional Indonesia's FOLU Net Sink 2030 telah disusun secara komprehensif dan ilmiah melalui pendekatan analisis spasial, seperti indeks kualitas hutan, nilai konservasi tinggi (HCV), jasa lingkungan ekosistem tinggi, serta indeks biogeofisik (IBGF) serapan karbon maupun Karhutla.

Selain itu juga pertimbangan atas Arahan Pemanfaatan Kawasan Hutan/RKTN 2011-2030 serta pertimbangan kapasitas kelembagaan dan modal sosial kemasyarakatan di tingkat tapak.

"Saya sekali lagi menegaskan bahwa FOLU Net Sink 2030 akan menjadi panduan bekerja, agenda perubahan iklim sektor kehutanan dan lahan di Indonesia untuk mengakselerasi penurunan Gas Rumah Kaca," tandas Siti.

Ia menjelaskan panduan ini sekaligus menerapkan langkah FOLU Net Sink dan sustainable forest management, sehingga semua akan saling memperbaiki dan menciptakan sinergi yang akan sangat bermanfaat.

"Yang paling penting adalah sistem monitoring dan measurements-nya, karena secara internasional diminta jaminan akan kelayakan kapasitas dan kredibilitas pengukurannya," ucap Siti.

Selanjutnya, Siti mengarahkan kepada jajarannya untuk segera menindaklanjuti implementasi Indonesia's FOLU Net Sink 2030 dengan beberapa langkah. Pertama, memastikan seluruh unit kerja di lingkup Kementerian LHK dan BRGM dapat memahami tugas dan fungsinya dalam rangka implementasi Indonesia's FOLU Net Sink 2030.

Kedua, identifikasi dan lakukan penyelarasan Rencana Strategis dan Rencana Kerja Kementerian LHK untuk memastikan optimumnya pelaksanaan seluruh kegiatan yang sedang dan akan berjalan untuk mendukung pencapaian target Indonesia's FOLU Net Sink 2030. Ketiga, ikuti selalu perkembangan kebijakan operasional atau lapangan yang sedang terus berkembang.

Keempat, dukungan strategis dimana setiap unit kerja yang memiliki konstituen dan mitra bersama agar terus berinteraksi, sehingga ada kesepahaman serta konstituensi yang dibina, misalnya kemitraan konservasi atau Hutan Sosial agar bisa saling memahami.

Begitu pula, untuk tidak lupa melakukan interaksi, diseminasi, sosialisasi dengan negara bersahabat, terutama negara yang bersama sama masih memberikan dukungannya kepada Kementerian LHK & BRGM.

"Implementasi Indonesia's FOLU Net Sink 2030 merupakan wujud nyata komitmen sektor kehutanan Indonesia, tidak hanya dalam skala nasional, namun juga secara nyata berkontribusi terhadap masyarakat global, serta sebagai 'legacy' generasi kita saat ini kepada generasi penerus," pungkas Siti.

Turut hadir dalam workshop ini Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Sekretaris Jenderal KLHK, Dirjen PHL, Plt. Dirjen PKTL, Dirjen PPI, Dirjen PSKL, Dirjen PPKL, Dirjen Gakkum, Kepala BSI LHK, dan jajaran KLHK, BRGM pusat dan daerah, para Staf Khusus Menteri, Penasihat Senior Menteri, Tenaga Ahli Menteri, akademisi, aktivis, komunitas, serta business leaders.

(akn/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT