Ingatkan UU, Badan Bahasa Harap JIS dan BIS Punya Nama Bahasa Indonesia

Jabbar Ramdhani - detikNews
Rabu, 11 Mei 2022 20:38 WIB
PT Jakarta Propertindo (JakPro) mengungkap progres pembangunan Jakarta International Stadium (JIS). Pembangunan stadion tersebut telah mencapai 98%.
Jakarta International Stadium (JIS) (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Jakarta International Stadium (JIS) dan Banten International Stadium (BIS) disorot karena penamaannya menggunakan bahasa asing. Padahal, berdasarkan undang-undang (UU), penamaan bangunan pemerintah diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Endang Aminuddin Aziz, mengatakan bangunan pemerintah diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia.

Dia mengingatkan penamaan bangunan tersebut diatur dalam UU 24/2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan dan Peraturan Presiden (Perpres) 63 Tahun 2019.

"Memang benar, sesuai dengan amanat UU 24 Tahun 2009 dan Perpres 63 Tahun 2019, penamaan bangunan milik pemerintah menggunakan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kami di Badan Bahasa melakukan pembinaan dan supervisi untuk bangunan-bangunan milik pemerintah yang sudah terlanjur menggunakan bahasa asing," kata Aminuddin kepada detikcom, Rabu (11/5/2022).

Dia mengatakan penamaan bangunan milik pemerintah menggunakan bahasa asing tidak sepenuhnya salah. Namun semestinya bangunan pemerintah tetap mempunyai nama berbahasa Indonesia.

"Sesungguhnya, tidak salah menggunakan bahasa asing itu, tetapi harus disertai atau bahkan didahului dengan nama dalam bahasa Indonesianya," jelasnya.

JIS dan BIS Diharap Punya Nama Bahasa Indonesia

Aminuddin mengatakan Badan Bahasa akan merekomendasikan JIS dan BIS untuk juga memiliki nama bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia juga terkait dengan kebanggaan terhadap bahasa nasional.

"Kami tentu saja akan menyarankan penggunaan bahasa Indonesia yang bisa disandingkan dengan nama dalam bahasa asing," ucapnya.

Dia mengatakan Badan Bahasa akan melakukan pembicaraan dan supervisi dengan pengelola JIS dan BIS. Dia berharap nantinya papan-papan nama atau petunjuk yang ada di JIS bisa menggunakan bahasa Indonesia dan boleh ditambahkan bahasa asing.

"Dengan demikian, nama dalam bahasa Indonesia ditampilkan lebih awal dan lebih menonjol, baru kemudian diikuti oleh padanannya di dalam bahasa asing," imbuh dia.

Pengutamaan Bahasa Indonesia Sebelumnya

Aminuddin mengatakan Badan Bahasa sudah beberapa kali melakukan pembinaan dan supervisi terkait penggunaan bahasa Indonesia.

"Untuk wilayah Jakarta, misalnya, sudah kami mulai di Kota Tua Jakarta. Waktu tahun 2021 lalu kami adakan nota kesepahaman dengan pihak Pemprov DKI bahwa kawasan Kota Tua Jakarta ini menjadi percontohan penggunaan bahasa Indonesia (bahasa negara) di ruang publik. Kami sudah menggarapnya, mulai dari Museum BNI. Ini akan terus kami lakukan," ungkapnya.

Selain itu, Badan Bahasa pernah berbicara dengan pengelola sehingga penamaan Simpang Susun Semanggi yang lebih mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia.

"Dulu, ketika ada Semanggi Interchange, kami adakan pembicaraan dengan pengelola. Maka muncullah istilah dalam bahasa Indonesia Simpang Susun Semanggi. Kemudian untuk Skytrain, kami sarankan kalayang. Ada MRT-Moda Raya Terpadu. Dan banyak lagi contohnya," urainya.

Nama JIS dan BIS jadi sorotan karena menggunakan bahasa asing. Simak di halaman selanjutnya.

Saksikan juga 'Jakarta International Stadium Milik Indonesia, Bukan Hanya Persija':

[Gambas:Video 20detik]