Ahli Ungkap Pemicu Kebakaran Maut Lapas Tangerang: Korslet-Kompetensi SDM

Khairul Maarif - detikNews
Selasa, 10 Mei 2022 17:56 WIB
Ahli kelistrikan dari ITI, Saharudin, mengungkap sejumlah dugaan penyebab kebakaran Lapas Kelas IA Kota Tangerang pada September 2021 lalu yang menewaskan 49 orang napi. (Khairul M/detikcom)
Ahli kelistrikan dari ITI, Saharudin, mengungkap sejumlah dugaan penyebab kebakaran Lapas Kelas IA Kota Tangerang pada September 2021, yang menewaskan 49 orang napi. (Khairul M/detikcom)
Tangerang -

Sidang lanjutan kebakaran Lapas Kelas IA Kota Tangerang berlanjut ke pemeriksaan saksi ahli bidang kelistrikan. Jaksa menghadirkan saksi ahli kelistrikan bernama Saharudin asal Institut Teknologi Indonesia (ITI).

Saharudin mengungkap ada beberapa penyebab terjadinya kebakaran Lapas Tangerang. Ia mengaku menganalisis penyebab kebakaran ini dari laporan forensik, foto-foto, keterangan penyidik, dan fakta-fakta kasus.

"Plus fakta yang paling kuat sih ya di situ ada namanya foto, di situ terjadi namanya kabel sama kabel ketemu, dan ada sedikit bekas las-lasan. Berarti itu terjadi korsleting listrik ya. Apakah itu penyebab kebakaran atau sisi yang lain, wallahualam," kata Saharudin kepada wartawan Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Selasa (10/5/2022).

Selain itu, Saharudin membeberkan faktor sumber daya manusia (SDM) yang mengelola kelistrikan di Lapas Tangerang juga tidak berkompeten. Menurutnya, sisi kompetensi SDM ini juga dapat menjadi faktor penyebab lainnya kebakaran yang terjadi.

Ia menyebut ada juga istilah bahaya kelistrikan yang diabaikan. Menurutnya, sisi keamanan Lapas Tangerang juga tidak terlalu diperhatikan.

Ahli kelistrikan dari ITI, Saharudin, mengungkap sejumlah dugaan penyebab kebakaran Lapas Kelas IA Kota Tangerang pada September 2021 lalu yang menewaskan 49 orang napi. (Khairul M/detikcom)Ahli kelistrikan dari ITI, Saharudin, menjadi saksi ahli dalam sidang lanjutan kasus kebakaran Lapas Kelas IA Kota Tangerang pada September 2021 yang menewaskan 49 orang napi. (Khairul M/detikcom)

"Dari sisi SDM sih terlihat ya bahwa ternyata yang mengelola bukan yang berkompeten di bidangnya. Jadi ya berbahaya. Tapi apakah masalah itu salah di pengelolanya atau salah di pekerjanya, wallahualam ya, karena kebakaran bisa terjadi kapan saja sih," ucapnya.

"Ini common ya sistem pengelola bangunan terkadang kan listrik itu yang penting ada (mengalir). Tapi masalah aman ataupun tidak, itu sering diabaikan gitu. Makanya sering terjadi kebakaran listrik," imbuhnya.

Saharudin menjelaskan seharusnya ada perawatan berkala terhadap sistem kelistrikan yang dilakukan pihak berwewenang atau bertanggung jawab. Menurutnya, untuk kasus kebakaran Lapas Tangerang ini kemungkinan ada penumpukan aliran listrik dalam satu sumber listrik.

"Sama seperti di rumah ya, kan kita bertanggung jawab terhadap bahaya kelistrikan kan, mau dicek ataupun tidak, kita terima konsekuensinya. Untuk kasus yang ini kemungkinan ada. Tapi faktanya tidak ketahuan karena kan kebakar semua. Tapi ya kejadian bahwa over. Jadi Lapas Tangerang itu kalau dilihat dari desain awalnya tidak menampung seperti yang ada sekarang kapasitasnya. Cuma ya tidak disesuaikan untuk peralatan," ucapnya.

Simak soal peristiwa kebakaran Lapas Tangerang yang tewaskan 49 orang di halaman berikutnya.

Saksikan juga 'Cerita Warga soal Puting Beliung di Lebak: Rangka Baja Terbang':

[Gambas:Video 20detik]