Biografi Ki Hajar Dewantara Lengkap, Mari Disimak Jelang Hardiknas 2 Mei

ADVERTISEMENT

Biografi Ki Hajar Dewantara Lengkap, Mari Disimak Jelang Hardiknas 2 Mei

Lianna Leticia - detikNews
Sabtu, 30 Apr 2022 21:29 WIB
ilustrasi ki hajar dewantara
Biografi Ki Hajar Dewantara Lengkap, Mari Disimak Jelang Hardiknas 2 Mei (Foto: Fuad Hasyim/detikcom)
Jakarta -

Biografi Ki Hajar Dewantara lengkap menarik untuk diingat kembali jelang Hari Pendidikan Nasional 2022. Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.

Ki Hajar Dewantara merupakan seorang aktivis gerakan kemerdekaan Indonesia, politikus, kolumnis, dan pelopor pendidikan bangsa Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Berkat perjuangannya, hari kelahirannya pada 2 Mei diperingati sebagai Hari pendidikan Nasional setiap tahunnya.

Bagaimana biografi Ki Hajar Dewantara secara lengkap dalam memajukan pendidikan di Indonesia? Berikut informasi selengkapnya.

Biografi Ki Hajar Dewantara Lengkap: Perjuangan dari Masa Muda

Melansir laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889. Ia merupakan cucu dari Sri Paku Alam III dan anak dari GPH Soerjaningrat.

Terlahir sebagai bangsawan Jawa, Suwardi Suryaningrat mengenyam Pendidikan Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar Belanda. Setelah tamat dari ELS, dia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya di Sekolah Dokter Jawa di Jakarta atau STOVIA (School tot Opleiding Van Indische Artsen).

Akan tetapi, kondisi kesehatannya yang tidak mendukung membuat Suwardi Suryaningrat tidak naik kelas dan beasiswanya pun dicabut. Sehingga ia berujung tidak tamat dari sekolah itu.

Namun, ada juga dugaan bahwa pemerintah Hindia-Belanda tidak senang terhadap sikap Suwardi Suryaningrat yang membangkitkan semangat nasional untuk memberontak. Ini karena dia memang terkenal pedas dalam memberi kritikan terhadap pemerintah Hindia-Belanda.

Walau gagal menjadi dokter di STOVIA, Suwardi Suryaningrat tidak berhenti begitu saja. Ia kemudian banting setir menjadi jurnalis dan bergabung dengan beberapa organisasi pergerakan nasional seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij.

Dalam Indische Partij, ia memiliki rekan seperjuangan, yaitu Danudirja Setiabudi dan dr. Cipto Mangunkusumo. Ketiganya pun dijuluki sebagai "Tiga Serangkai".

Dari sanalah kritikan Suwardi Suryaningrat menjadi semakin pedas. Ia bahkan pernah menentang perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda di Indonesia. Menurutnya penjajah tidak sepatutnya merayakan kemerdekaan di tanah jajahannya, bahkan dibiayai oleh rakyat pribumi.

Suwardi Suryaningrat pun kemudian menyalurkan protes tersebut melalui risalah yang berjudul "Als ik eens Nederlander was" (Andai aku seorang Belanda) pada Juli 1913. Risalah yang dicetak sebanyak 5.000 eksemplar tersebut membuat pemerintah Hindia-Belanda naik pitam.

Akibatnya, "Tiga Serangkai" diasingkan ke Belanda.

Suwardi Suryaningrat hidup dengan segala keterbatasannya selama pengasingan. Ia bertahan hidup dengan menjadi jurnalis untuk surat kabar dan majalah Belanda, seperti "Het Volk" dan "De Nieuwe Grone Amsterdamer" yang memberi kesempatan kepada Tiga Serangkai untuk menulis dan menyalurkan pikiran-pikiran tentang cita-cita perjuangan kemerdekan bangsa Indonesia.

Berkat pengaruh mereka, penghimpunan para mahasiswa Indonesia di negeri Belanda yang tergabung dalam "Indische Vereeniging" semakin menonjolkan semangat kebangsaan dan semangat kemerdekaan, dan berani mengubah namanya menjadi "Perhimpunan Indonesia".

Simak biografi Ki Hajar Dewantara selengkapnya di halaman berikut ini.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT