Kisah Pilu Bocah SD Berkebutuhan Khusus Di-bully Teman Sekolah

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 23 Apr 2022 06:23 WIB
Ilustrasi bullying
Ilustrasi (Thinkstock)
Depok -

Seorang bocah SD di-bully temannya sesama berkebutuhan khusus bikin gempar Depok, Jawa Barat. Aksi bullying itu terekam kamera dan viral di media sosial.

Dalam video yang beredar, tampak seorang anak berseragam batik biru menjadi sasaran bullying teman-temannya. Kepala anak tersebut dijepit selangkangan temannya.

Siswa lainnya tampak memukul bagian punggung anak berbaju batik. Seorang anak laki-laki kemudian menjepit kepala korban itu dengan kedua pahanya kemudian melakukan gerakan seperti sedang naik kuda.

Setelah diusut, rupanya kejadian itu terjadi di SDN 08 Depok Baru. Korban berinisial G (13) dan pelaku bullying adalah J (13). Dua-duanya tergolong anak berkebutuhan khusus.


KPAI Buka Suara

KPAI angkat bicara terkait aksi bullying ini. KPAI menyayangkan aksi bullying tersebut terjadi di lingkungan sekolah.

"Saya sebagai komisioner KPAI menyayangkan peristiwa bully fisik sejumlah siswa terhadap 1 anak korban, peristiwa diduga terjadi di salah satu SD Negeri di kota Depok," ujar Komisioner KPAI Retno Listyarti kepada detikcom, Jumat (22/4/2022).

Retno mengatakan aksi bullying kerap terjadi di lingkungan sekolah. Menurut Retno, hal ini menunjukkan lemahnya pengawasan orang dewasa di sekolah.

"Karena menurut pasal 54 UU no 35/3014 tentang perlindungan anak menyebutkan bahwa anak-anak selama berada di lingkungan satuan pendidikan wajib dilindungi dari berbagai bentuk kekerasan, baik yang dilakukan oleh pengelola pendidikan, pendidik maupun sesama peserta didik," tegas Retno.

Retno menambahkan Permendikbud nomor 82/2015 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan sangat jelas mengatur ketentuan pencegahan maupun penindakan atas kekerasan yang terjadi di satuan pendidikan.

"Untuk pencegahan misalnya, sekolah wajib membangun sistem pengaduan yang melindungi korban. Juga membentuk satgas pencegahan dan penanganan bahkan penindakan kekerasan di lingkungan satuan pendidikan. Atas kejadian ini, maka sekolah wajib dievaluasi, apakah sudah menerapkan ketentuan dalam Permendikbud tersebut," lanjutnya.

Selengkapnya di halaman berikutnya