Kontemplasi Qalbu (57)

Komunikasi Santun

Nasaruddin Umar - detikNews
Sabtu, 23 Apr 2022 05:30 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Kecerdasan qalbu dan kepribadian seseorang dengan mudah bisa diukur melalui kesantunannya di dalam berbicara atau mengemukakan pendapat. Jika komunikasi seseorang konsisten dengan tutur kata dan dengan bahasa tubuh (body language) yang santun (qaulan hasanah), maka mencerminkan orang itu insya Allah baik.

Jika sebaliknya, maka juga bisa disipulkan orang itu belum cerdas walbunya. Nabi mencontohkan betapa mulianya ia bertutur kata. Bukan hanya santun terhadap orang-orang yang lebih senior tetapi juga kepada anak-anak. Ini perlu menjadi perhatian kita bersama karena ada kecenderungan bahasa santun ini tergerus oleh peradaban modern. Bukan saja oleh kaum muda yang tergerus oleh arus globalisasi dan modernisasi tetapi juga kaum tua.

Kata-kata santun sepertinya hanya ada di dalam puisi atau cerpen-cerpen klasik. Akhlak berbahasa semakin banyak ditinggalkan di dalam masyarakat kita dewasa ini.

Baca juga: Keyakinan Diri

Kesantunan dalam berkomunikasi diisyaratkan di dalam Al-Qur'an beberapa kali dalam sejumlah ayat. Betul-betul Al-Qur'an patut untuk dipedomani mulai dari pemilihan kosa kata sampai kepada penggunaan struktur nahasa. Al-Qur'an selalu mengingatkan kita untuk berbahasa yang santun, bijaksana, dan penuh kearifan.

Bahasa yang baik akan melahirkan masyarakat yang baik. Sebaliknya bahasa yang buruk akan melahirkan masyarakat yang buruk. Al-Qur'an mencontohkan, berbahasa kepada kedua orang tua atau senior kita sebaiknya menggunakan bahasa yang mulia (qaulan kariman): "... ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia" (Q.S. al-Isra'/17:23). Terhadap anak-anak atau yunior kita menggunakan bahasa yang baik dan populer (qaulan ma'rufan): "... ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik" (Q.S. al-Nisa'/4:5). Untuk mengungkapkan data dan fakta kita diminta menggunakan bahasa yang tepat dan valid (qaulan sadidan): "...hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar" (Q.S. al-Nisa'/4:9). Terhadap kelompok oposisi atau kaum munafiq kita diminta menggunakan bahasa yang komunikatif (qaulan baligan): "...katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka" (Q.S. al-Nisa'/463). Terhadap orang yang kasar dan jahat tetap kita diminta menggunakan bahasa lemah-lembut (qaulan layyinan): " ... maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut". (Q.S. Thaha/20:44).


Orang atau kelompok yang dianggap musuh sekalipun, kita tetap diminta untuk menggunakan bahasa yang pantas (qaulan maisuran): "...katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas". (Q.S. al-Isra'/17:28). Tuhan meminta kita untuk menghindari bahasa yang keras (qaulan 'adhiman): " ... Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya)." (Q.S. al-Isra'/17:40). Hanya Tuhan yang berhak menggunakan bahasa yang berat (qaulan tsaqilan): "...Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat". (Q.S. al-Muzzammil/73:5).


Suatu bangsa yang beradab dapat diukur melalui akhlak berbahasa masyarakatnya. Apakah kita masih termasuk bangsa santun dan beradab? Jawabannya mari kita mengukur bahasa lisan, bahasa tulis, dan bahasa tubuh kita. Bahasa komunikasi bangsa tercermin di dalam bahasa yang digunakan oleh media; baik media cetak maupun elektronik.

Bahasa yang digunakan oleh media semakin kaya dengan kosa kata kasar. Intonasi nada suara pembicaraan juga sudah semakin tinggi, keras, dan kasar. Sepertinya kita tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata santun yang actual. Padahal, bangsa kita katanya bangsa yang santun dan beradab. Orang yang menggunakan komunikasi santun malah sering disebut bahasa pencitraan, yang dikonotasikan negatif. Astagfirullah.

(lus/lus)