ADVERTISEMENT

Kontemplasi Qalbu (56)

Keyakinan Diri

Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 22 Apr 2022 05:30 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Salah satu problem yang dihadapi masyarakat modern ialah sulitnya membangun keyakinan dan rasa percaya diri. Mungkin falsafah relatifisme filsafat modern di dalam memandang dialektika kehidupan modern ikut mengambil andil di dalamnya. Seseorang begitu gampang mengubah keyakinan dan kepercayaan dirinya hanya karena adanya perubahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Islam menegaskan perlunya setiap orang memiliki keyakinan tangguh. Bukan hanya berkeyakinan tangguh kepada Tuhan tetapi juga di dalam menjalani kehidupan sosial.

Dalam bahasa agama Islam, keyakinan (al-yaqin) sudah menjadi kosa kata bahasa Indonesia "yakin" adalah suatu pengetahuan tentang sesuatu yang tidak terdapat keraguan di dalamnya. Pengetahuan yang mengandung keraguan di dalamnya disebut as-syak, jika tidak didukung oleh kekuatan akal (dalil 'aqli) dan kekuatan ayat atau hadis (dalil naqli). Jika tingkat keragunnya lebih tinggi lagi disebut al-dhan, yaitu pengetahuan yang hanya didukung oleh asumsi-asumsi yang kurang masuk akal atau sulit dicerna pikiran kita.


Keyakinan memiliki tiga tingkatan. Pertama, 'ilm al-yaqin, yaitu pengetahuan yang meyakinkan orang melalui dalil-dalil atau alasan logika yang amat jelas. Kedua, 'ain al-yaqin, yaitu pengetahuan yang meyakinkan orang di samping melalui dalil-dalil atau logika juga didukung oleh bukti-bukti nyata. Ketiga, haq al-yaqin, yaitu pengetahuan yang meyakinkan orang, selain dengan dalil, logika, dan bukti nyata, juga diperkokoh dengan keyakinan batin. 'Ilm al-yaqin dalam istilah tasawuf biasa disebut sebagai pemilik akal, 'ain al-yaqin, biasa disebut dengan pemilik ilmu, dan haq al-yaqin, biasa disebut pemilik ma'rifah. Dengan demikian urutannya berdasarkan perkiraan prosentasi ialah al-dhan (30 %), al-syak (50 %), 'ilm al-yaqin (70 %), 'ain al-yaqin (80 %), dan haq al-yaqin (90 % ke atas). Wahyu Al-Qur'an harus diyakini 100% kebenarannya oleh umat Islam.


Tingkatan-tingkatan keyakinan itu menandakan bahwa keimanan itu fluktuatif, kadang naik dan kadang turun. Ada pengetahuan yang menuntut kita untuk memaksimalkan tingkat dan usaha pencarian kalau perlu sampai ke tingkat haq al-yaqin, yaitu pengetahuan dan pengenalan terhadap Allah swt. Sedangkan selebihnya menyesuaikan. Untuk berangkat dari al-dhan ke al-syak biasanya memerlukan waktu dan kesadaran yang cukup. Dari al-syaq naik menjadi yakin di level 'ilm al-yaqin, 'ain al-yaqin, dan apalagi haqq al-yqin tentu lebih berat lagi dan menuntut upaya sungguh-sungguh (mujahadah) dan telaten (istiqamah). Untuk yang terakhir diperlukan hidayah dan pertolongan (ma'unah) dari Allah Swt.


Pembahasan tentang keyakinan ini menjadi terasa penting karena problem masyarakat modern dengan suguhan-suguhan perkembangan sains dan teknologi yang sangat spektakuler bisa menjadi ujian bagi keimanan kita. Dalam dunia ilmu pengetahun, keraguan terhadap sesuatu adalah wajar, bahkan terkadang memang harus kita berangkat dari keraguan (skeptis), terutama ketika kita berusaha untuk menjelaskan suatu fenomena. Epistimologi keilmuan mengharuskan adanya sikap skeptis bagi seorang ilmuan. Kita harus berangkat dari keraguan. Dari keraguan lahir upaya untuk melakukan penelitian atau pendalaman untuk menemukan kesimpulan. Kesimpulan sementarapun juga masih harus diragukan sehingga perlu diadakan pengetesan kembali (rechekc).

Jika kesimpulan sudah diumumkan dan tidak ada keberatan apalagi membantah teori yang kita temukan itu, maka postulat itu meningkat posisinya ke jenjang lebih tinggi. Sebaliknya pengetahuan yang sudah berada di level haq al-yaqin tidak perlu diragukan lagi. Bahkan fenomena atau postulat yang ada harus tunduk kepada apa yang sudah menjadi keyakinan kita itu. Kapan keraguan masih ada maka boleh jadi menimbulkan masalah tersendiri bagi setiap orang. Contoh, meragukan keyakinan yang sudah dari 'sono'-nya sudah diyakini apa ada-Nya sehingga tidak perlu di otak-atik lagi. Keyakinan amat penting artinya di dalam kehidupan bermasyarakat. Keyakinan inilah nanti akan melahirkan karya-karya besar.

(lus/lus)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT