Kasus Korban Begal Jadi Tersangka Disetop, Amaq Sinta Apresiasi Polri

ADVERTISEMENT

Kasus Korban Begal Jadi Tersangka Disetop, Amaq Sinta Apresiasi Polri

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 17 Apr 2022 14:32 WIB
Amaq Sinta (Antara)
Amaq Sinta (Antara)
Jakarta -

Polda NTB mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) kasus Murtede alias Amaq Sinta seorang korban begal yang ditetapkan sebagai tersangka. Pihak Amaq Sinta menyampaikan apresiasi kepada Polri yang telah memberikan asas keadilan dalam perkara tersebut.

"Kami dari BKBH Fakultas Hukum Universitas Mataram, selaku tim kuasa hukum Amaq Sinta mengucapkan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada Kapolri dan Kapolda NTB, yang telah melaksanakan fungsi pengawasan dan pengendalian perkara pidana," kata Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKNH) Fakultas Hukum Universitas Mataram sekaligus pengacara Amaq Sinta, Joko Jumadi, dalam keterangan tertulis, Minggu (17/4/2022).

Joko mengatakan penanganan proses hukum yang dialami Amaq Sinta telah berjalan sebagaimana asas keadilan dan kemanfaatan hukum. Hal itu tecermin, kata Joko, dengan adanya penarikan perkara itu dari Polres Lombok Tengah ke Polda NTB.

Setelah itu, kata Joko, Polda NTB langsung melakukan gelar perkara khusus bersama dengan para ahli hukum. Barulah setelah itu diputuskan bahwa kasus yang dialami Amaq Sinta dihentikan atau SP3.

"Khususnya di kasus Amaq Sinta yang telah diambilalih kasus Amaq Sinta dari Lombok Tengah dan mengambil keputusan menghentikan kasus itu melalui SP3. Pembelajaran dari kasus ini adalah peran serta masyarakat sangat dibutuhkan di dalam penanggulangan kejahatan," ujar Joko.

Pengacara Amaq Sinta, Joko Jumadi,Pengacara Amaq Sinta, Joko Jumadi (Foto: dok. Istimewa)

Kapolda NTB Irjen Djoko Purwanto sebelumnya mengatakan berdasarkan hasil gelar perkara khusus, disimpulkan bahwa peristiwa tersebut merupakan pembelaan terpaksa sebagaimana termaktub dalam Pasal 49 ayat (1) KUHP.

"Sehingga tidak ditemukan adanya unsur perbuatan melawan hukum baik secara formil dan materiil," kata Djoko kepada wartawan, Sabtu (16/4).

Menurut Djoko, keputusan dari gelar perkara tersebut berdasarkan peraturan Kapolri Nomor 6 Tahun 2019, Pasal 30 tentang penyidikan tindak pidana bahwa penghentian penyidikan dapat dilakukan demi kepastian hukum, kemanfaatan dan keadilan.

Terkait penanganan perkara Amaq Sinta, Polda NTB dalam proses gelar perkara khusus mengedepankan asas proporsional, legalitas, akuntabilitas, dan nesesitas. Dengan tujuan, terwujudnya rasa keadilan dan kemanfaatan hukum bagi masyarakat.

Simak Video: Buah Simalakama Korban Begal Lombok

[Gambas:Video 20detik]



(knv/hri)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT