Sosok Ketua KPU Hasyim Asy'ari: Santri yang Mendemo Soeharto Tolak Judi SDSB

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 13 Apr 2022 08:50 WIB
Komisioner KPU Hasyim Asyari berjalan meninggalkan gedung KPK, Jakarta, Jumat (24/1/2020) usai menjalani pemeriksaan. KPK memeriksa Hasyim Asyari sebagai saksi dari tersangka mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan dalam kasus dugaan korupsi penetapan pergantian antar waktu anggota DPR periode 2019-2024.
Foto: Ari Saputra/detikcom
Jakarta -

Tujuh anggota KPU RI sepakat memilih Hasyim Asy'ari menjadi Ketua KPU RI 2022-2027. Hasyim Asy'ari juga satu-satunya inkumben di lembaga independen penyelenggara pemilu di tingkat nasional itu. Lalu, siapakah Hasyim Asy'ari?

Hasyim lahir di Pati, Jawa Tengah, pada 3 Maret 1973 dan menghabiskan masa kecilnya di Kudus, Jawa Tengah. Setelah itu, Hasyim melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman (FH Unsoed) Purwokerto pada 1991-1995. Pada saat yang sama, Hasyim juga nyantri di Pondok Pesantren Al-Hidayah, Karangsuci, Purwokerto.

Selama mahasiswa, Hasyim menjadi salah satu aktivis kampus menentang Orde Baru. Di kampus, Hasyim menginisiasi Lembaga Kajian Hukum dan Sosial (LKHS) dan kini menjadi salah satu unit kegiatan mahasiswa yang bergengsi.

Saat menjadi mahasiswa itu, Hasyim sudah kerap turun ke jalan. Salah satunya menentang kebijakan Presiden Soeharto yang melegalkan judi lotre lewat Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB). Kala itu, dalihnya adalah untuk mengembangkan olahraga di Indonesia.

Aturan pelegalan Porkas diatur dalam UU Nomor 2 Tahun 1954 tentang Undian. Kemudian diperkuat dengan Surat Keputusan Menteri Sosial No. BSS-10-12/85 bertanggal 10 Desember 1985.

Karena dianggap judi yang dilegalkan, undian Porkas juga menuai banyak kontroversi. Banyak masyarakat yang menentang undian Porkas. Namun pemerintah Orde Baru tak bergeming karena Porkas diklaim adalah undian, bukan dianggap sebagai judi.

"Kami turun ke jalan mendemo kebijakan itu," kata Hasyim saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.

Hasyim menjadi orator dan memimpin aksi. Massa yang terkumpul kala itu mencapai lebih dari 3 ribu orang. Sebuah massa yang sangat besar di sebuah kota kecil Purwokerto di era rezim Soeharto.

Meski aktif di gerakan massa, Hasyim tidak melupakan studinya dan menjadi Mahasiswa Berprestasi (Mapres) Utama I Unsoed serta berkesempatan mendapatkan upacara HUT RI ke-50 di Istana Merdeka pada 1995. Akhirnya Hasyim lulus dengan skripsi berjudul 'Pembreidelan Pers: Studi Terhadap Pembatalan SIUPP Sebagai Bentuk Pembatasan Kebebasan Pers'.

Usai lulus, Hasyim menyelesaikan S2 dari Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dengan tesis 'Demokratisasi Melalui Civil Society: Studi Tentang Peranan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dalam Pemberdayaan Civil Society di Indonesia 1971-1996'.

Adapun S3 didapatinya dari Sosiologi Politik, Department of Anthropology and Sociology, Faculty of Arts and Social Sciences, University of Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 2012. Ia meraih PhD (Doctor of Philosophy) dengan mempertahankan disertasi 'Konsolidasi Menuju Demokrasi: Kajian Tentang Perubahan Konstitusi dan Pilihan Raya 2004 di Indonesia'.

Untuk rekam jejak pekerjaan, Hasyim mengawali menjadi dosen di FH Undip dari 1998 hingga sekarang. Hasyim mulai menjadi anggota KPU sejak 2003 dengan menjadi anggota KPU Jateng pada 2003-2008. Sejak 2016, ia menjadi anggota KPU RI. Hasyim juga aktif menulis dan mencetak sejumlah buku.

Sebagai santri, Hasyim Asy'ari banyak ikut organisasi. Di antaranya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), anggota Lajnah Bahtsul Masa'il Diniyyah, Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Semarang (2000-2003) hingga Wakil Ketua Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah (2010-2014). Ia juga menjadi anggota Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara (HTN-HAN) sejak 1998 hingga sekarang.

Lihat juga Video: Nama Hasyim Asy'ari Hilang dari Kamus Sejarah, Nadiem Minta Koreksi

[Gambas:Video 20detik]



(asp/zap)