Marak Tawuran Remaja hingga Jatuh Korban, Kak Seto Soroti Sistem Pendidikan

Wildan Noviansah - detikNews
Jumat, 08 Apr 2022 16:32 WIB
tawuran di surabaya
Tangkapan layar tawuran yang terjadi di Surabaya. (Video Amatir Warga)
Jakarta - Peristiwa tawuran remaja kerap marak terjadi di bulan Ramadan. Psikolog anak Seto Mulyadi atau Kak Seto menyebutkan hal ini terjadi karena remaja tidak memiliki wadah penyaluran.

"Ya ini kan sebetulnya fenomena remaja yang sedang memiliki energi yang berlebihan itu tidak tersalurkan. Sementara mereka mengalami tekanan atau frustrasi karena pandemi berkepanjangan dan tidak bisa sekolah dengan lancar atau tidak ketemu dengan teman-temannya. Jadi inilah yang membuat meledak dan tidak ada penyaluran lagi," kata Kak Seto saat dihubungi, Jumat (8/4/2022).

Kak Seto menuturkan, imbas tidak ada wadah penyaluran tersebut, akhirnya para remaja melakukan tindakan kriminal, salah satunya tawuran.

"Sekarang ini tidak ada wadah untuk penyaluran itu sehingga akhirnya meledak dengan berbagai tindakan yang kadang menjurus ke arah kriminal. Emosi yang tidak tersalurkan dengan cara-cara yang positif," jelasnya.

Selain itu, perilaku tawuran yang dilakukan remaja disebabkan oleh adanya tekanan dari berbagai hal. Dia mengatakan remaja nekat tawuran karena banyak tekanan yang diterimanya.

"Jadi kadang sudah dalam tertekan tapi aktivitas ini terlalu dituntut. Harus naik kelas ini dan itu. Nah, ini bisa timbulkan frustrasi di kalangan remaja. Artinya, dilampiaskan dengan ledakan-ledaka,n dan mungkin tekanan-tekanan, baik di dalam keluarga maupun di lingkungan," jelasnya.

Menurutnya, remaja melakukan tawuran atas dasar pembuktian jati diri mereka. Kata dia, remaja menganggap tawuran menjadi satu hal yang bisa dibanggakan.

"Mungkin sekarang tindakan kekerasan dan sebagainya itu adalah seolah karya mereka. Menunjukkan 'ini, lho, saya bisa'," sambungnya.

Kak Seto menyoroti sistem pendidikan di Indonesia. Dia meminta pendidikan yang digelar tak hanya berfokus pada aspek kognitif, tapi juga kemampuan pengolahan emosi para remaja.

"Kan emosi bisa meledak sepintar apa pun juga. Karena sering tidak ada interaksi langsung antara emosi dan kognitifnya. Kalau ini seolah-olah hanya akademiknya saja. Begitu merasa gagal di akademik, ya frustrasi. Akhirnya diledakkan dengan mudah sekali, melalui ejek-ejekan media sosial, udah bisa turun akhirnya bawa parang, bawa segala macam, akhirnya terjadi tawuran, bullying, dan sebagainya," jelasnya.

Selain itu, Kak Seto meminta pemerintah daerah (pemda) segera memberikan aktivitas dan wadah penyaluran ekspresi untuk para remaja.

"Jadi ini mungkin tugas dari pemerintah daerah untuk bisa memberikan aktivitas-aktivitas dan bisa mengekspresikan semua perasaan atau emosi para remaja ini dengan cara berkarya," kata dia.

"Seperti membuat lomba-lomba lukis, menyanyi, atau apa, walau itu secara virtual, tapi itu bisa dilakukan. Dengan remaja menyalurkan dan mengekspresikan perasaan-perasaan frustrasi itu dengan sesuatu yang menunjukkan egonya bisa diakui oleh lingkungan," sambungnya.

Lebih lanjut Kak Seto juga berharap kepolisian tidak bertindak sebagai penindak, melainkan pembina. Dalam hal ini, pihak kepolisian bisa bekerja sama dengan instansi terkait untuk melakukan langkah preventif mencegah terjadinya tawuran.

"Mohon juga (polisi) kerja sama dengan RT, RW, kemudian jangan langkah-langkah seperti pemadam kebakaran, setelah terjadi baru bertindak. Tapi langkah preventif, bahkan promotif. Kemudian memposisikan polisi sahabat remaja, jadi bukan sebagai penangkap, tapi pembina," pungkasnya. (jbr/jbr)