ADVERTISEMENT

DKI Catat 57 Kejadian Tanah Longsor Sepanjang 2017-2022, Terbanyak di Jaksel

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Rabu, 06 Apr 2022 10:27 WIB
Sejumlah rumah mengalami kerusakan parah imbas longsor di Ciganjur, Jakarta Selatan. Berikut foto-fotonya.
Ilustrasi tanah longsor. (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

BPBD DKI Jakarta mencatat terdapat 57 kejadian tanah longsor selama 2017-2022. Kepala BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji mengatakan mayoritas tanah longsor terjadi karena intensitas curah hujan tinggi di lokasi sekitar sungai atau kali.

"Sepanjang tahun 2017 hingga 2021 terdapat total sebanyak 57 kejadian tanah longsor yang tersebar di berbagai lokasi di Jakarta," kata Isnawa melalui keterangan tertulis, Rabu (6/4/2022).

Isnawa menuturkan wilayah yang paling banyak melaporkan tanah longsor terdapat di Jakarta Selatan sebanyak 34 kejadian dan Jakarta Timur sebanyak 21 kejadian. Kelurahan paling banyak terjadi Tanah Longsor di Srengseng Sawah dan Ciganjur.

"Adapun untuk detail wilayah kelurahan yang paling banyak terjadi yakni di Srengseng Sawah (6 kejadian) dan Ciganjur (4 kejadian)," ujarnya.

Selain itu, Isnawa juga menyatakan terdapat 10 wilayah di Jakarta yang berpotensi terjadi gerakan tanah di bulan ini. Rinciannya, terdapat delapan wilayah kecamatan yang tersebar di Jakarta Selatan dan dua wilayah kecamatan di Jakarta Timur yang perlu diwaspadai terhadap potensi gerakan tanah.

Isnawa menjelaskan hal ini berdasarkan informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM. Untuk diketahui, setiap bulannya PVMBG merilis potensi gerakan tanah di Jakarta dengan menganalisis data curah hujan yang dikeluarkan oleh BMKG.

"Informasi yang dirilis setiap bulannya bukan berarti seluruh wilayah kecamatan tersebut masuk ke dalam kategori rawan, namun hanya pada wilayah tertentu yang berada pada kawasan lereng di tepi kali atau sungai saja. Hal ini perlu dipahami agar masyarakat tidak panik, namun tetap waspada," terangnya.

BPBD DKI menjelaskan gerakan tanah atau biasa disebut tanah longsor merupakan peristiwa perpindahan bahan pembentuk lereng (berupa tanah, batuan, bahan timbunan atau campuran diantaranya) yang bergerak ke bawah atau keluar lereng. Tanah longsor bisa terjadi karena berbagai macam pemicu seperti curah hujan, gempa bumi, erosi hingga aktivitas manusia.

Masyarakat dapat mengetahui ciri-ciri tanah longsor yang ada di sekitarnya. Seperti adanya lapisan tanah/batuan yang miring ke arah luar, adanya retakan tanah yang membentuk tapal kuda, adanya rembesan air pada lereng, adanya pohon dengan batang yang terlihat melengkung dan perubahan kemiringan lahan yang sebelumnya landai menjadi curam.

Untuk mengantisipasi terjadinya tanah longsor, BPBD DKI mengimbau agar masyarakat, terutama yang berada di sekitar kawasan kali/sungai untuk tidak membangun rumah di atas/bawah/bibir tebing, tidak mendirikan bangunan di sekitar sungai, tidak menebang pohon di sekitar lereng, dan menghindari untuk pembuatan kolam atau sawah di atas lereng.

Perlu diketahui, BPBD DKI telah berkoordinasi dengan PVMBG mengenai fenomena ini. BPBD DKI pun mendorong agar dapat dilakukan pemetaan dengan skala yang lebih besar/lebih detail pada skala 1:25.000 bahkan 1:10.000, karena saat ini PVMBG baru merilis peta peringatan dini potensi gerakan tanah pada skala 1:50.000. Selain itu, BPBD DKI juga mendorong agar para stakeholders terkait untuk dapat menyusun strategi mitigasi secara struktural untuk mengurangi risiko bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu di masyarakat.

(taa/idn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT