Ahli Modifikasi Cuaca BRIN Tanggapi Ritual Pawang Hujan: Sulit Masuk Akal

Brillyan Vandy Yansa - detikNews
Minggu, 03 Apr 2022 18:01 WIB
Jakarta - Keberadaan pawang hujan di Indonesia kembali mencuat setelah viralnya aksi Rara Istiani Wulandari yang diklaim berhasil menghentikan hujan dalam acara MotoGP di Mandalika Maret lalu.

Tidak menampik fakta, banyak pihak masih percaya khasiat ritual para penggerak awan ini. Maka, tidak heran jika dari acara hajatan pernikahan, pembangunan proyek, hingga acara pemerintahan, masih membutuhkan bantuan sang pawang agar acara berjalan sesuai rencana.

Tidak lama berselang setelah pawang hujan jadi bahan pembicaraan, kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menolak pernyataan bahwa berhentinya hujan disebabkan oleh rapalan doa dan ritual. Sebab utamanya adalah durasi hujan yang sudah cukup lama dan pergerakan angin siklon yang mulai menjauh dari pulau Lombok.

Sembari menunjukkan arah pergerakan awan dan siklon dari waktu ke waktu, Budi Harsoyo, Koordinator Teknologi Modifikasi Cuaca BRIN menjelaskan lebih rinci bagaimana seharusnya proses fisika bekerja dalam perubahan pola hujan.

"Kita bicara Mbak Rara yang sedang viral. Dia bilang bisa menggeser awan itu secara logika tidak masuk, dan kita tidak bisa melihat apakah awan itu benar bergeser atau tidak," ungkap Budi dalam program Sudut Pandang.

"Tetapi kalau kita lihat misalnya dukun-dukun di Amerika, saya enggak tahu istilahnya apa. Orang Indian itu mengundang hujan dengan cara membakar jerami. Sebetulnya itu yang kita adopsi menjadi teknologi flare, karena jerami menambah partikel-partikel aerosol di udara, kalau itu masih masuk akal, kalau Mbak Rara kemarin gimana caranya es batu di taruh di situ kemudian bisa menghasilkan hujan," lanjut Budi.

Menanggapi sorotan masyarakat yang melihat Rara sebagai pemeran utama berhentinya hujan di atas lintasan, Budi Harsoyo tidak terlalu mengambil pusing. Baginya, usaha yang timnya lakukan dengan bekerja sama dengan TNI dan pihak lain adalah untuk mendukung kelancaran perhelatan internasional tersebut.

Dalam sudut pandang sains, apa yang dilakukan Rara memang tidak bisa masuk logika. Namun Budi mengatakan, sah saja jika orang ingin mempercayainya.

"Hehehe, ditanya seperti itu saya kembali kepada keyakinan masing-masing. Tidak menampik ada orang yang punya kemampuan seperti itu. Tapi, secara logika memang sulit masuk akal dan kami coba mengimbangi dari sisi pengetahuan. Kalau kami melakukan itu dasar-dasar ilmiah ada, buktinya juga ada," tutup Budi sambil tersenyum.

(vys/fuf)