ADVERTISEMENT

Doa dan Pergulatan Sang Pawang Saat Pindahkan Hujan

Brillyan Vandy Yansa - detikNews
Minggu, 03 Apr 2022 07:11 WIB
Jakarta -

Tidak sembarang orang bisa menjadi pawang hujan. Ada manusia-manusia terpilih yang secara genetik memiliki kemampuan ajaib ini.

Eko Budi Sumantri adalah salah satunya. Terlahir dari ayah yang dikenal sebagai pawang hujan, pria yang berumur setengah abad ini mengatakan, garis keturunan adalah faktor penting untuk memperoleh ilmu menangkal hujan.

"Kalau secara garis keturunan. Saya generasi ke lima dari Mbah Santer dari Pasuruan," jelas Eko dalam program Sudut Pandang.

Namun, mengandalkan garis keturunan saja tidak cukup. Eko menjelaskan, agar seseorang lebih fasih menggunakan bakatnya, mereka harus belajar dan berlatih dengan tekun.

"Kalau saya terus terang (menghalau hujan melalui) dzikir itu dari mertua saya, Bu Nyai Masdrach. Lalu dari Syekh Kholil Bangkalan Madura, Kiai Syamsul Arifin Situbondo. Kalau dari Jakarta, saya belajar juga dari Guru Mansur Jakarta Barat, itu leluhurnya Ustad Yusuf Mansur. Saya dapat ijazah dari beliau langsung," ungkapnya.

Eko mengatakan, tidak semua guru memiliki metode yang sama dalam menghalau hujan. Menurutnya, ada sumber-sumber keilmuan tradisional yang hingga saat ini dirasa mampu mengolah cuaca. Namun bagi Eko, kiblat keilmuannya adalah agama.

"Saya kebetulan zikir pawang hujan, memang berbeda dengan teman-teman yang lain, mungkin teman lain pakai sajen, pakai keris, pakai ini, saya butuh waktu zikir selama tiga jam di lokasi, sambil terus terang meniup kalau ada awan mendung. Tapi kita afirmasi memindahkan mendung dari sana ke daerah sana."

Tidak hanya sekedar berdoa dan memohon kepada Tuhan untuk memindahkan hujan, seorang pawang juga perlu memahami bagaimana alam bekerja.

"Kita harus tahu arah mata angin. Misalnya kita di PIK II, arah angin ke timur nanti kita doa, 'Ya Allah pindahkan mendung dan hujan dari daerah Pantai Indah Kapuk ke Gunung Sanggabuana Karawang kalau di Timur." Kata Eko.

Ada alasan mengapa hujan harus dipindahkan menuju gunung terdekat. Pertama, sebagai kesepakatan bersama bagi para pawang hujan agar tidak saling mengusir awan menuju arah berlawanan. Selain itu, pemindahan awan hujan juga harus mempertimbangkan fungsinya.

"Kenapa harus gunung, karena di hadis disebutkan hendaklah memindahkan hujan ke arah gunung, karena gunung diperlukan untuk irigasi dan lain-lain, iya betul, harus bermanfaat untuk orang lain," tutup Eko.

(vys/ids)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT