Belajar Berbeda

ADVERTISEMENT

Kontemplasi Qalbu (36)

Belajar Berbeda

Nasaruddin Umar - detikNews
Sabtu, 02 Apr 2022 05:30 WIB
Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar
Foto: Andhika Prasetia/detikcom
Jakarta -

Dalam hidup ini kadang-kadang yang berat bukan bagaimana menyatukan perbedaan tetapi bagaimana belajar dan membiasakan diri kita hidup dalam perbedaan. Hidup ini tidak mensyarakan adanya persatuan. Tidak mesti segalanya harus bersatu untuk melanjutkan kehidupan kita. Tantangan yang paling sering kita hadapi bukan bagaimana menyatukan yang berbeda, atau bagaimana hidup di dalam sebuah kesatuan, tetapi yang paling sering dialami bagaimana hidup di tengah perbedaan itu. Hidup di dalam perbedaan tentu lebih berat ketimbang hidup di dalam kesatuan. Kita perlu belajar bagaimana caranya hidup di tengah perbedaan.

Setidaknya ada tiga sikap di dalam menghadapi perbedaan atau keragaman. Pertama, bagaimana kita berusaha menghindari atau meminimalisir perbedaan dan keragaman itu. Kedua, bagaimana menolerir perbedaan dan keragaman itu, dan ketiga, bagaimana memanfaatkan perbedaan dan keragaman itu, kalau perlu bagaimana mensyukuri atau merayakan perbedaan dan keragaman itu.


Orang yang suka menghindari perbedaan dan keragaman sering dihantui oleh perasaan dan bayangannya sendiri, selalu curiga dan terusik dengan kehadiran orang lain atau sesuatu yang berbeda dengannya, terkadang bersikap protektif dan bermusuhan dengan kehadiran orang baru, dan selalu yakin bahwa gaya hidupnya paling benar, bukannya orang lain. Sebaliknya orang yang menolerir perbedaan dan keragaman biasanya lebih percaya bahwa semua orang punya hak untuk berbeda, sehingga ia tidak menghindari perbedaan dan keragaman tetapi tidak juga merangkulnya. Ia memiliki motto: Urus dirimu sendiri dan aku mengurus diriku sendiri. Jangan ganggu aku dan akupun tidak mengganggumu.


Sebagian lagi orang yang berusaha memanfaatkan perbedaan dan keragaman itu dan menganggap perbedaan dan keragaman sebagai rahmat yang harus disyukuri. Ia menganggap perbedaan dan keragaman adalah sunnatullah, tidak mungkin bisa dihindari. Tuhan sendiri berkali-kali menbgisyaratkan hal ini di dalam Al-Qur'an, antara lain: Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.

Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. (Q.S. al-Maidah/5:48).


Sekalipun beragam dan berbeda-beda kita diingatkan Tuhan agar senantiasa mengedepankan persahabatan dan persaudaraan sebagai umat yang sama-sama beriman, sebagaimana dalam firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu. (Q.S. al-Hujurat/49:10). Masing-masing bisa memilih jalan pilihannya sendiri tanpa paksaan. Hal ini juga diisyaratkan dalam ayat: Janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain. (Q.S. Yusuf/12:67).

Yang penting satu sama lain saling berhubungan dan besinergi, sebagaimana diserukan di dalam Al-Qur'an: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (Q.S. al-Maidah/5:2). Dengan demikian perbedaan dan keberagaman itu indah, tidak perlu ditakuti tetapi diterima sebagai rahmat. Perbedaan dan keragaman yang dimenej dengan baik akan melahirkan peradaban dan kebudayaan agung.

(lus/lus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT