Sinergi

ADVERTISEMENT

Kontemplasi Qalbu (35)

Sinergi

Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 01 Apr 2022 05:30 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Sinergi dalam ilmu fisika merangkai unsur yang berbeda menjadi satu kesatuan yang utuh kemudian menghasilkan kekuatan (power). Sinergi mensyaratkan adanya unsur atau kekuatan yang berbeda dan perbedaan itu paralel dalam arti dimungkinkan secara struktur dan fungsi untuk disatukan.

Sinergi merupakan sintesa manakala menghasilkan suatu nilai yang pruduktif. Dalam ilmu social sinergi berarti orang atau sekelompok orang atau lembaga menjalin kerjasama yang bertujuan untuk meringankan beban guna mencapai tujuan yang sama, menciptakan solusi terhadap suatu masalah, atau mendukung sebuah ide yang produktif untuk kemaslahatan bersama.

Inti sinergi sesungguhnya memanfaatkan perbedaan, bukannya mentolerir perbedaan apalagi mempertentangkannya. Mengelola unsur yang berbeda menjadi sebuah kesatuan baik dalam dunia fisika maupun dunia kemanusiaan, akan menghasilkan kekuatan yang memudahkan kehidupan umat manusia. Sinergi di sini tidak termasuk kerjasama dalam arti bekerja sendiri-sendiri secara mandiri tanpa ada hubungan fungsional dan struktural, melainkan kerjasama dalam arti membangun system kerja yang efisien dan efektif berkat adanya hubungan fungsional antara satu sub sistem dengan sub system lainnya. Inilah yang disebutkan di dalam satau qaul: Al-Ittihad yujad al-quwwah (sinergi mendatangkan kekuatan).


Tidak termasuk sinerji berupa sebuah keterbukaan pikiran yang menganggap pikirannya paling benar dan yang lainnya kurang atau salah, segingga yang tampak adalah deminstrasi ego sepihak. Sinegi yang baik buka hanya masing-masing pihak menemukan cara-acra baru yang lebih baik, tetapi mengkompromikan temuan-temuan itu ke dalam sebuah bangunan ide yang lebih besar dan lebih konstruktif. Sinergi mestilah untuk tujuan yang baik dan konstruktif, jiak untuk tujuan yang buruk dan destruktif maka namanya bukan sinergi tetapi komplotan.


Sebuah tujuan yang baik biasanya banyak hambatan untuk mencapainya. Di antara hambatan mencapai tujuan sinergi ialah keterbatasan pengetahuan, misalnya tidak memahami kelebihan dan kelemahan dirinya, kelebihan dan kelemahan orang lain, sehingga pada akhirnya muncul curiga dan buruk sangka satu sama lain. Hambatan lainnya ialah terlalu kuatnya tradisi klik atau "in-group" (minna) dan out-group (minhum). Setiap kali melihat orang lain yang terbayang adalah saingan atau musuh, bukan melihatnya sebagai parner atau sang penolong. Sinergi juga akan terganggu oleh prasangka berlebihan. Apasaja yang dilakukan parnernya dianggapnya selalu untuk mementingkan diri dan kelompoknya sendiri, sehingga ia tersedot dengan energinegatifnya sendiri.


Di dalam Islam sinergi amat dianjurkan. Bahkan konsep dasar sinerji memiliki dasar teologi bahwa segenap alam eaya yang plural ini berasal dari yang satu, atau ketunggalan dari banyak (ahadiyyah al-wahid) menurut istilah tasawuf. Wujud mutlak hanya satu, Ia sama sekali takterbedakan. Inilah makna syahadat: La ilaha illa Allah. Sebagai individu kita perlu menyinergikan unsur-unsur kecerdasan yang dimiliki (IQ. EQ, dan SQ), sebagai keluarga bersinergi dengan segenap anggota keluarga, dan sebagai bangsa bersinergi bersama segenap warga bangsa guna mencapai tujuan.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(lus/lus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT