Tafsir Semiotika Jokowi Jengkel soal Impor hingga Ucap 'Reshuffle'

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Rabu, 30 Mar 2022 23:00 WIB
Presiden Jokowi saat hadir di Dies Natalis ke-46 UNS, Juat (11/3/2022).
Foto: Presiden Jokowi (dok. UNS)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat menunjukkan kejengkelannya di ruang publik terkait dengan impor. Pakar semiotika Acep Iwan Saidi mengatakan kemarahan Jokowi itu sebetulnya tidak perlu ditunjukkan.

"Marah ini kan jadi memotong telunjuk sendiri di paha sendiri. Dia menunjukkan sebetulnya Presiden tidak mampu koordinasi itu di dalam internalnya, jadinya menunjukkan kelemahannya sendiri," ujar Acep dalam program Adu Perspektif bertajuk 'Ada Apa di Balik Pesan Nonverbal Elite Politik?', seperti disiarkan detikcom, Rabu (30/3/2022).

Acep menduga ada menteri yang tak bisa ditegur Jokowi di internal, sehingga harus disentil di ruang publik. Kondisi ini membuat Jokowi menunjukkan kegeramannya.

"Artinya kan bahwa menteri itu nggak bisa ditegur di internal, artinya koordinasinya tidak jalan. Kemudian akan menjadi jatuh dari anak tangga kalau setelah ditegur di luar, tapi tetap nggak dilaksanakan juga, itu kan jadi kasihan berlipat juga. Sebetulnya Presiden nggak perlu marah, dia bisa awasi dengan cara lain," ucap Acep.

Acep menilai Jokowi sedang frustrasi dengan kinerja kabinetnya. Dia pun menyoroti target kemarahan yang sebenarnya tidak terlalu genting bagi rakyat.

"Pilihan-pilihan yang menurut saya justru tidak mengangkat citra Presiden kalau mainnya di pencitraan. Misalnya tadi minyak goreng, kalau impor kan rakyat kecil nggak beli, impor, nggak usah dimarahin. Kalau minyak goreng itu butuh dimarahin. Ada yang perlu dimarahin tapi tidak dimarahin," tuturnya.

Sementara itu, pakar komunikasi politik Effendi Gazali, menilai Jokowi terlihat frustrasi hingga menunjukkan kemarahan di publik.

"Kita harus baca gestur, pada bagian ini saya dukung semua yang disampaikan Bapak Presiden. Tapi saya kasihan sama Presiden yang baik ini karena dia kelihatan agak frustrasi. Ini kan persoalan pembantu Presiden, mereka adalah pembantu yang seharusnya pasti akan dimarahi di ruangan tertutup, bukan di ruangan publik," jelas Effendi.

Dia juga mengungkit soal Jokowi yang mengucapkan kata reshuffle. Menurutnya, akan disayangkan jika 'reshuffle' tersebut hanya sebatas ucapan.

"Apa yang ingin disampaikan Presiden itu baik, tapi dari gestur itu terlihat bahwa kita pada bagian ini harus kasihan kepada Presiden. Karena dia terlihat frustrasi sampai itu disampaikan keluar. Yang lebih mengkhawatirkan gini, sudah disampaikan keluar tapi tidak terlaksana. Mau contoh nyata? Minyak goreng," imbuhnya.

Jokowi Geram dengan Impor

Sebelumnya, banyaknya produk impor di Indonesia membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) jengkel. Jokowi bahkan menyebut kata 'bodoh', reshuffle, hingga melarang tepuk tangan saat memberikan arahan di depan para kepala daerah hingga menteri.

Hal ini disampaikan Jokowi saat memberi arahan tentang Aksi Afirmasi Bangga Buatan Indonesia. Acara ini ditayangkan YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (25/3).

Jokowi menyinggung susahnya belanja produk dalam negeri. Jokowi kemudian menyentil kementerian-kementerian dan di momen inilah dia menyinggung reshuffle.

"Kementerian, sama saja, tapi itu bagian saya itu. Reshuffle, udah, heeeeh saya itu, kayak gini nggak bisa jalan," kata Jokowi.

"Sudah di depan mata, uangnya ada, uang uang kita sendiri, tinggal belanjakan produk dalam negeri saja sulit," imbuh Jokowi.

(drg/jbr)