ADVERTISEMENT

Mari Bantu Peri Pedagang Lumpia Disabilitas yang Tak Pernah Patah Semangat

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 30 Mar 2022 17:02 WIB
Peri Pedagang Lumpia
Peri pedagang lumpia
Jakarta -

Tak ada kata menyerah bagi Peri Santoso (40), penjual makanan kecil lumpia duleg (sosis kecil) asal Klaten, untuk mendulang rezeki. Pandemi virus Corona atau COVID-19 diakui penyandang disabilitas itu telah memukul usahanya, namun dia tak patah semangat.

Saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu, Peri tampak santai menjawab tiap pertanyaan. Dia bercerita dengan nada penuh semangat. Sesekali dia tampak gesit melayani pembeli dari sepeda motornya.

"Saat ini penjualan memang sulit setelah ada COVID. Bahkan saya sempat libur selama dua bulan tidak jualan," ungkap Peri saat ditemui detikcom berjualan di Jalan Pedan-Juwiring, simpang empat Lapangan Merdeka, Desa Sobayan, Kecamatan Pedan, Jumat (21/8/2020).

Peri, yang kehilangan dua kaki akibat kecelakaan, mengatakan imbas pandemi COVID-19 sangat terasa bagi pedagang kecil seperti dirinya. Dia mengaku sempat setop berjualan selama Maret-April 2020.

"Maret sampai April saya libur total. Saat itu semua kegiatan masyarakat tidak ada sehingga terpaksa di rumah," lanjut Peri.

Untungnya, kata Peri, istrinya di rumah memiliki kerja sampingan sehingga dia dan keempat anaknya bisa bertahan hidup. Setelah libur, dirinya kembali berjualan bulan Mei meskipun omzet belum pulih.

"Pendapatan turun drastis saat ini. Dulu sebelum ada COVID bisa habis 1.500 butir lumpia duleg, tapi sekarang ini paling 700-800 butir saja tidak habis, kadang sampai malam. Tetapi kalau Rp 50 ribu juga masih dapat," ujar Peri.

Peri menyebut penurunan omzetnya dipengaruhi oleh banyak kegiatan masyarakat yang belum pulih. Misalnya saja Lebaran, tahun baru Islam atau Suro, maupun kegiatan sekolah juga sepi.

"COVID sangat terasa dampaknya secara ekonomi. Sebab, biasanya Lebaran dan Suro ada pertunjukan ini belum ada, pemudik yang biasa borong juga tidak mudik dan sekolah belum masuk sehingga masih sepi," kata warga Dusun Lemburejo, Desa Gatak, Kecamatan Delanggu, itu.

Meski sepi pembeli, Peri tak berpangku tangan. Menggunakan sepeda motor matik yang telah dimodifikasi beroda tiga, Peri berkeliling mencari pelanggan ke kampung-kampung.

"Di sini (timur simpang empat Lapangan Pedan) cuma sampai pukul 15.00 WIB. Setelah itu saya keliling ke kampung-kampung cari pembeli," imbuh Peri.

Peri pun tak menjadikan kekurangan fisiknya sebagai alasan untuk berpangku tangan. Di masa pandemi COVID-19 ini, dia tetap semangat untuk mencari nafkah untuk keluarganya.

"Hidup ini harus berjalan, dijalani, bagi saya hidup harus semangat. Life must go on saja pokoknya dengan apa yang kita punya, usahamu adalah nasibmu, itu prinsip," tegas Peri.

Peri bercerita dia mengalami kecelakaan jatuh dari kereta api pada 2010 di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Kecelakaan itu merenggut kedua kakinya sehingga harus diamputasi dari paha ke pangkal kaki.

"Saya mau ke Jakarta, turun beli koran, tapi terjatuh dari kereta. Dirawat 40 hari tambah lagi 15 hari dan harus amputasi sehingga pakai kursi roda," tutur Peri.

Peri Pedagang LumpiaPeri Pedagang Lumpia

Kini tiap hari dia bekerja tanpa membawa kursi rodanya maupun kaki palsunya. Dia mengaku justru lebih gesit tanpa alat bantunya itu.

"Tidak pakai kaki palsu. Malah mengganggu kerja kok kalau pakai kaki palsu," ujar Peri

Meski kini sudah bisa legawa dengan kondisinya, Peri mengaku sempat mengurung diri di rumah selama dua tahun pascakecelakaan. Namun banyak teman dan keluarganya yang mendorongnya bangkit, memberinya modal, bahkan memodifikasi motornya untuk berjualan.

"Keluarga sebenarnya ingin saya di rumah, tapi saya tidak mau. Hidup harus semangat, harus tetap jalani," pungkas Peri, yang kini menjadi sekretaris paguyuban difabel Mandiri Desa Gatak, Kecamatan Delanggu.

Peri mengatakan, meski sempat terpuruk dan marah pada takdir, lama kelamaan dia menyadari ada hikmah di balik kakinya yang hilang.

"Dengan kehilangan kaki saya seperti malah dikembalikan menjadi manusia seutuhnya dibandingkan sewaktu saya mempunyai kaki, dalam tanda kutip orang menganggap saya sampah tidak ada artinya," sebutnya.

Kini Peri mengatakan motornya kerap kali mogok. Padahal motor ini jadi satu-satunya sarana untuk mencari nafkah dan dia tak ada biaya untuk membeli motor baru. Apalagi motornya bukan motor biasa karena perlu modifikasi agar lebih mudah baginya mengendarai.

Siti Dauli, sang istri, menuturkan kisah malang suaminya karena motornya yang begitu payah.

"Kendalanya motor, kadang macet, apalagi di pertengahan sawah itu motor macet nggak ada orang, sempat jatuh, pulang sampai Subuh baru kembali, ke mana? ternyata nunggu orang tolongin, sampai jam 4 tolong ke rumah," ucap Siti sedih.

Peri mengharapkan ada bantuan dari #sahabatbaik untuk membeli motor baru. Sehingga dia bisa terus semangat mencari nafkah untuk keluarganya.

Kamu bisa membantu Peri mendapatkan motor modifikasi baru dengan donasi lewat berbuatbaik.id CTARSA Foundation dengan klik LINK BERIKUT INI.

Kabar baiknya, semua donasi yang diberikan seluruhnya akan sampai ke penerima 100% tanpa ada potongan.

Kamu yang telah berdonasi akan mendapatkan notifikasi dari tim kami. Selain itu, bisa memantau informasi seputar kampanye sosial yang kamu ikuti, berikut update terkininya.

Jika kamu berminat lebih dalam berkontribusi di kampanye sosial, #sahabatbaik bisa mendaftar menjadi relawan. Kamu pun bisa mengikutsertakan komunitas dalam kampanye ini.

Yuk jadi #sahabatbaik dengan#berbuatbaik mulai hari ini, mulai sekarang!

(imk/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT