Gerakan Sungai Batanghari Bersih di Jambi Diminta Tak Sekadar Wacana

Ferdi Almunanda - detikNews
Kamis, 10 Mar 2022 09:55 WIB
Sungai Batanghari.
Foto: dok. Ferdi Almunanda/detikcom
Jambi -

Wakil Ketua DPRD Jambi, Faizal Riza mengingatkan Pemerintah Provinsi Jambi serius dalam wacana gerakan Sungai Batanghari bersih. Ia meminta agar program tersebut tidak sekadar seremoni.

Meski begitu, ia mendukung upaya membersihkan sungai Batanghari Jambi. Hanya saja gerakan tersebut harus dilakukan demi menjaga kebersihan sungai kebanggaan masyarakat Jambi tersebut.

"Saya sangat mendukung ya dengan adanya pencanangan gerakan Sungai Batanghari bersih ini. Hal ini tentu sangat baik yang diinginkan oleh Pemprov Jambi. Namun, saya minta agar langkah ini bukan cuman sekadar seremoni doang saja. Harus ada bukti, karena ini untuk kebersihan sungai yang menjadi sumber air bagi masyarakat," kata Faizal kepada detikcom, Kamis (10/3/2022).

Wakil rakyat dari Fraksi Gerindra itu menyebutkan saat ini kondisi sungai Batanghari di bawah baku mutu sehingga sangat berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat. Apalagi dengan adanya kotoran sampah, serta kotoran limbah perusahaan dan aktivitas tambang emas liar secara ilegal.

"Itu kan bisa membuat sungai itu menjadi kotor kan. Kalau dari kondisi kasat mata saja kita melihat, kondisi air sungai itu saja sudah keruh, apalagi dengan masih banyak sampah rumah tangga lalu limbah-limbah perusahan, dan tambang emas liar di beberapa daerah di Jambi yang dilakukan di sungai. Ini yang membuat akhirnya sungai Batanghari menjadi kotor," ujar Faizal.

Sungai Batanghari memiliki panjang hingga 800 Km. Sungai ini mengular dan melintasi beberapa kabupaten di Jambi seperti Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Batanghari, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur dan Kota Jambi sebelum akhirnya bermuara ke Selat Malaka di daerah Muara Sabak Tanjabtim.

Sungai yang menjadi ikon wisata Jambi ini juga merupakan sungai terpanjang di Sumatera bahkan sungai ini juga masuk dalam list sungai terpanjang se-Asia Tenggara. Namun sekarang, kondisi sungai yang menjadi kebanggaan dan kebutuhan sumber air buat masyarakat Jambi itu kini sudah tercemar.

"Kalau untuk dikonsumsi saya rasa masih bisa dikonsumsi meski dilakukan cara penyaringan yang begitu luar biasa, karena proses penyaringannya pun juga sangat baik, supaya itu dapat dibutuhkan bagi masyarakat. Akan tetapi, jika itu dikonsumsi langsung tentu sangat tidak baik, karena jelas kotor ya," ucap Faizal.

Maka dari itu, ia berharap ke depan Pemprov Jambi harus bersama-sama mencarikan solusi untuk bagaimana urusan penambang emas tanpa izin dan limbah lainnya bisa cepat ditangani. Jika tidak, keinginan untuk jadikan sungai Batanghari bersih itu nyata itu tak bakal terjadi.

Sebelumnya, Pemprov Jambi tengah mencanangkan gerakan Sungai Batanghari bersih dalam menjaga mutu air untuk kebutuhan masyarakat. Gerakan itu bahkan didukung oleh jajaran kepolisian TNI serta pemerintah kabupaten dan kota di Jambi.

Keinginan Pemprov jadikan sumber air terbesar di Jambi itu untuk bersih, setelah melihat kondisi sungai Batanghari yang sudah keruh dan kotor. Bahkan, sungai itu juga sudah tercemar akibat terkontaminasi zat merkuri dari tambang emas ilegal dan kotoran limbah perusahaan dan oknum warga.

Sejauh ini, berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jambi, Indeks kualitas air sungai Batanghari Jambi itu kini berada di angka 48,9 poin. Angka itu menjadikan sungai terpanjang di Sumatera itu menjadi sungai dengan kualitas air di bawah baku mutu.

Kondisi Sungai Batanghari itu kini juga terlihat sangat coklat dan berbau. Apalagi, di beberapa daerah di Jambi banyak kegiatan tambang emas ilegal sehingga ikut menyebabkan sungai itu menjadi tercemar.

Simak juga 'Momen Sandiaga Uno Naik Becak Motor Keliling Desa Wisata di Jambi':

[Gambas:Video 20detik]



(prf/ega)