ADVERTISEMENT

Ketua MPR Minta Pemerintah Antisipasi Dampak Perang Rusia-Ukraina

Erika Dyah Fitriani - detikNews
Rabu, 02 Mar 2022 22:37 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo.
Foto: dok. MPR RI
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menyoroti gejolak geopolitik dunia saat ini, termasuk konflik antara Rusia dan Ukraina. Menurutnya, dampak ketegangan kedua negara sudah langsung terasa di seluruh dunia bahkan sejak hari pertama terjadinya konflik.

"Harga minyak sempat melambung menyentuh angka US$ 100 per barel dan pasar keuangan global merespons secara negatif. Jika perang berlangsung lama, diperkirakan harga minyak dunia dapat menembus ke level US$ 150 per barel. Dapat mendorong terjadinya hiperinflasi global termasuk di Indonesia, mengingat Indonesia merupakan negara importir minyak," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Rabu (2/3/2022).

Ia menambahkan meski konflik dan ketegangan global berada jauh di seberang benua, dampaknya tetap dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia hingga ke desa-desa. Salah satunya gejolak harga komoditas global, kelangkaan minyak goreng, hingga kenaikan harga kedelai.

Selain itu, muncul juga krisis energi di Inggris akhir tahun lalu yang memicu kenaikan komoditas energi, seperti minyak, gas dan batubara, hingga berdampak pada kenaikan harga-harga komoditas turunan-nya, seperti CPO.

"Dunia juga merasa was-was dengan tingginya inflasi di Amerika Serikat dalam empat bulan belakangan ini, hingga menyentuh level 7,5 pada Januari lalu. Dampaknya harga-harga komoditas impor dari Amerika Serikat meningkat, salah satunya kedelai," jelas Bamsoet.

"Kebijakan The Fed dalam mengatasi inflasi tentunya akan memberikan konsekuensi pada pergerakan finansial di seluruh dunia, terutama dengan kenaikan suku bunga," imbuhnya.

Oleh karena itu, ia menilai situasi ini perlu diantisipasi dan direspons secara tepat dan efektif oleh pemerintah. Tujuannya, demi memastikan rakyat yang baru berusaha bangkit di tengah pandemi COVID-19 tidak terbebani oleh kenaikan harga serta kelangkaan kebutuhan pokoknya.

Apalagi mengingat ekonomi Indonesia baru saja berhasil kembali tumbuh positif 3,69 persen di tahun 2021. Setelah sebelumnya di tahun 2020 harus mengalami kontraksi hingga minus 2,07 persen.

"Tahun 2022 ini adalah momentum Indonesia untuk memainkan peran besar dalam menciptakan dunia yang damai, adil dan sejahtera. Kita tentunya ingin kepemimpinan Indonesia di G-20 tahun ini, kelak dikenang dunia sebagai awal terwujudnya tatanan dunia yang damai, tumbuh berkelanjutan serta menghapus segala penderitaan rakyat di dunia," ungkapnya.

Bamsoet menjelaskan Presiden Joko Widodo dalam pidatonya di Roma, Oktober lalu telah menyatakan tema Presidensi Indonesia, yaitu 'Recover Together, Recover Stronger'. Menurutnya, tema ini menjadi komitmen Indonesia untuk membawa dunia yang lebih inklusif dan segera bangkit bersama-sama di tengah Pandemi COVID-19 yang masih berlangsung.

Dalam pelantikan pengganti antar waktu (PAW) Anggota MPR RI, Moh. Haerul Amri dari Fraksi Partai Nasdem dan Hendris Sitompul dari Fraksi Partai Demokrat yang berlangsung hari ini, Bamsoet pun menerangkan salah satu tujuan pembentukan NKRI yang termaktub dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 adalah 'Ikut Melaksanakan Ketertiban Dunia yang Berdasarkan Kemerdekaan, Perdamaian Abadi, dan Keadilan Sosial'.

Ia menilai bunyi tujuan tersebut merupakan bagian integral dari kesejahteraan dan keadilan sosial bagi bangsa Indonesia. Karenanya, perang dengan alasan apapun selalu membawa petaka, kehancuran juga kesengsaraan dan harus segera dihentikan.

"Kita sangat berharap konflik militer Rusia dan Ukraina tidak berlangsung lama dan segera menuju jalan damai melalui perundingan yang menghasilkan perdamaian permanen. Indonesia sebagai negara bangsa yang berdaulat tentunya memiliki peran strategis di kancah global, terlebih Indonesia kini memegang Presidensi G-20 yang pada puncaknya 20 pemimpin dunia akan bertemu pada KTT G20 di Bali, bulan Oktober nanti," pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, dalam seminggu terakhir dunia dikejutkan akan gejolak di Eropa Timur karena adanya penyerangan militer Rusia ke wilayah Ukraina. Konflik ini menciptakan ketegangan global yang melibatkan kekuatan ekonomi dan militer terkuat dunia, Rusia di satu pihak dengan Amerika Serikat, Uni Eropa dan NATO di pihak lain.

(prf/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT