Beda Sikap NU dan Muhammadiyah soal Usul Penundaan Pemilu 2024

ADVERTISEMENT

Beda Sikap NU dan Muhammadiyah soal Usul Penundaan Pemilu 2024

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 01 Mar 2022 09:45 WIB
Ilustrasi Bilik Suara
Ilustrasi pelaksanaan Pemilu. (Pradita Utama/detikcom)
Jakarta -

Wacana penundaan Pemilu 2024 mencuat lagi. Berbagai pihak pun menyampaikan sikap berbeda terkait wacana itu, termasuk PBNU dan Muhammadiyah.

PBNU menyatakan usulan menunda pemilu masuk akal. Di sisi lain, Muhammadiyah menolak usulan itu.


Berikut perbedaan sikap kedua ormas Islam ini:

PBNU Anggap Masuk Akal

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menilai usulan penundaan Pemilu 2024 masuk akal. Penilaian tersebut didasari pertimbangan berbagai persoalan yang saat ini sedang dihadapi bangsa Indonesia.

"Ada usulan penundaan pemilu dan saya rasa ini masuk akal mengingat berbagai persoalan yang muncul dan dihadapi bangsa ini," kata Yahya di Pondok Pesantren Darussalam di Pinagar seperti dilansir Antara, Senin (28/2/2022).

Yahya berpendapat usulan tersebut bisa dirundingkan bersama seluruh pihak. Tujuannya agar mendapat solusi terbaik.

"Nanti kita lihat apa saja yang perlu dilakukan untuk mengurangi beban bangsa ini," kata dia.

Menurutnya, seluruh pihak dapat melihat banyak cobaan yang datang bertubi-tubi dan musibah terjadi tidak hanya di Indonesia, tapi juga dirasakan di seluruh dunia.

Mulai dari pandemi COVID-19 kemudian banjir beberapa waktu lalu hingga gempa bumi pada saat ini. Dia mengatakan keadaan yang sulit tidak hanya dihadapi Indonesia, tapi juga dunia.

"Kunci hadapi harus luwes dan ulet supaya bisa mengatasi beban yang ada," kata dia.

Apalagi saat ini pemerintah daerah terus menyesuaikan diri dengan APBD mereka karena persoalan bencana tidak terjuklak dengan baik dan harus disesuaikan.

Baca selengkapnya sikap Muhammadiyah tolak usulan pemilu 2024 ditunda di halaman selanjutnya

Simak Video 'Pemerintah Tak Ingin Dikait-kaitkan dengan Usulan Penundaan Pemilu':

[Gambas:Video 20detik]





ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT